Mendengar dengan Hati, Menemukan Keajaiban Komunikasi Anak Autis Lewat 'Naya dan Talkernya'
Willem Jonata May 12, 2026 10:22 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Suasana berbeda terasa di Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (10/5/2026). Bukan sekadar peluncuran buku biasa, ruang toko buku itu berubah menjadi tempat berbagi cerita, empati, sekaligus ruang aman bagi anak autis non-verbal dan keluarganya.

Lewat peluncuran buku “Naya dan Talkernya”, publik diajak memahami bahwa tidak semua anak berkomunikasi lewat kata-kata yang diucapkan secara langsung.

Acara tersebut sekaligus memperkenalkan Gerakan “Setiap Anak Punya Suara”, sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat lebih memahami anak autis non-verbal dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.

Acara dihadiri orang tua, komunitas, terapis, hingga pengunjung Gramedia yang penasaran dengan kisah Naya.

Baca juga: Kajian Ilmiah WHO: Vaksinasi Anak Tidak Menyebabkan Autisme

Talkshow, sesi berbagi pengalaman, meet and greet, hingga diskusi santai membuat suasana terasa hangat dan personal.

Orang antusias mendengarkan pengalaman tentang bagaimana anak autis non-verbal ternyata tetap memiliki cara untuk menyampaikan kebutuhan dan emosinya.

Buku “Naya dan Talkernya” mengangkat kisah seorang anak autis non-verbal yang mulai menemukan cara berkomunikasi melalui talker, alat bantu komunikasi yang menjadi jembatan bagi anak untuk mengekspresikan dirinya.

Cerita dikemas dengan ilustrasi yang lembut dan emosional sehingga mudah dipahami berbagai usia, termasuk anak-anak.

Pengarang buku, Dewi Mareta, mengaku awalnya hanya ingin membagikan pengalaman pribadinya sebagai ibu dari Naya.

Ia melihat perubahan besar setelah anaknya mulai menggunakan talker.

"Saya sangat bersyukur peluncuran buku “Naya dan Talkernya” dapat terlaksana. Berawal dari keinginan sederhana untuk berbagi pengalaman melihat perkembangan anak kami setelah menggunakan talker. Terbukanya komunikasi ini merupakan langkah yang sangat berarti dan diharapkan dapat membantu perkembangan positif lainnya,” ungkap Dewi Mareta di Jakarta, Selasa (12/5/2026). 

Bagi banyak orang tua yang hadir, kisah tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak sedikit yang mengaku baru memahami bahwa anak autis non-verbal bukan berarti tidak bisa berkomunikasi.

Penggagas Gerakan “Setiap Anak Punya Suara”, Sofia Karina, mengatakan masyarakat perlu melihat komunikasi dari sudut pandang yang lebih luas.

“Saya berharap Gerakan “Setiap Anak Punya Suara” dapat mendorong kesadaran, empati, dan pemahaman publik terhadap anak autis non-verbal. Anak-anak ini juga membutuhkan ruang, dukungan, dan kesempatan untuk didengar,” jelasnya.

Kegiatan di Gramedia Matraman ini juga mendapat dukungan dari PT Karya Citra Nusantara (KCN) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Perusahaan tersebut selama ini bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Disabilitas Rumah Autis Depok Yayasan Cagar dalam mendukung edukasi serta peningkatan kesadaran publik terhadap anak autis non-verbal.

Public Relation Supervisor KCN, Bella Mardiana, mengatakan dukungan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi anak berkebutuhan khusus.

“Kolaborasi dan gerakan yang digaungkan hari ini memiliki kesinambungan yang kuat dengan berbagai inisiatif sosial yang sebelumnya telah dijalankan melalui program CSR KCN,” papar Bela pada kesempatan yang sama. 

Tak hanya menjadi tempat membeli buku, Gramedia Matraman dalam acara ini juga berubah menjadi ruang bertemunya cerita, edukasi, dan dukungan emosional bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.

Pembina dan Ketua LKS Disabilitas Yayasan Cagar Rumah Autis Depok, Suyono, mengatakan dukungan lingkungan sangat penting bagi perkembangan anak autis non-verbal.

“Kami percaya kolaborasi antar orang tua, guru dan masyarakat merupakan kunci penting karena dapat membantu membuka wawasan masyarakat bahwa anak autis non-verbal bukan tidak mampu berkomunikasi, melainkan memiliki cara komunikasi yang berbeda. Dukungan dari berbagai pihak akan sangat berarti bagi perkembangan mereka,” ujar Suyono. 

Sementara itu, terapis anak berkebutuhan khusus dari Jakarta Behaviour Center (JBC), Andrea, menilai edukasi publik menjadi langkah penting agar anak merasa lebih aman saat mencoba mengekspresikan dirinya.

“Ketika lingkungan memahami cara anak berkomunikasi, anak akan merasa lebih aman dan percaya diri untuk mengekspresikan dirinya. Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar anak-anak ini dapat berkembang secara optimal,” katanya.

Melalui acara ini, Gramedia Matraman bukan hanya menjadi lokasi peluncuran buku, tetapi juga simbol ruang inklusif di tengah masyarakat perkotaan yang mulai belajar mendengar suara anak-anak dengan cara berbeda.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.