Tekanan Inflasi, BI: Harga Barang Berpotensi Naik dalam 3 hingga 6 Bulan ke Depan
Rita Noor Shobah May 13, 2026 03:19 PM

TRIBUNKALTIM.CO -  Bank Indonesia (BI) memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang berdampak pada daya beli masyarakat.

Kenaikan ekspektasi harga tercermin dari hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) periode Maret 2026.

Survei ini dilakukan untuk memantau tren penjualan ritel dan ekspektasi harga di masyarakat.

BI mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni 2026 mencapai 175,6, lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 sebesar 157,4.

Baca juga: Harga Sapi Kurban di Balikpapan Tembus Rp23 Juta, Imbas Ongkos Kirim Membengkak

Sementara IEH September 2026 tercatat 163,2, naik dari Agustus 2026 sebesar 157,2.

“Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juni dan September 2026, diprakirakan meningkat,” tulis BI dalam laporan SPE.

Kenaikan harga bahan baku disebut menjadi faktor utama pendorong ekspektasi tersebut.

Namun, di sisi lain, responden survei memperkirakan penjualan eceran justru melambat.

Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juni 2026 tercatat 136,8, turun dari Mei 2026 sebesar 147,2.

IEP September 2026 juga lebih rendah, yakni 137,8 dibandingkan Agustus 2026 sebesar 162,4. 

BI menyebut penurunan ini dipengaruhi musim ujian sekolah dan normalisasi aktivitas masyarakat setelah tidak adanya agenda besar.

Penjualan Eceran

Di sisi lain, penjualan eceran pada Maret 2026 masih mencatat pertumbuhan, baik secara tahunan maupun bulanan.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang mencapai 256,7 atau tumbuh 3,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 6,5 persen (yoy).

Baca juga: Harga Beras Medium dan Premium Menjauh dari HET, Data BPS: di Mahulu Capai 36,43 persen di Atas HET

“Pada Maret 2026, IPR tercatat sebesar 256,7. Kinerja tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau secara tahunan,” tulis BI.

Secara bulanan, IPR Maret 2026 tumbuh 10,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 4,1 persen secara bulanan (month to month/mtm).

Menurut BI, peningkatan tersebut didukung oleh kinerja penjualan seluruh kelompok, terutama kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, bahan bakar kendaraan bermotor, serta subkelompok sandang.

“Peningkatan tersebut didukung oleh kinerja penjualan seluruh kelompok, terutama Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Subkelompok Sandang, sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat pada periode HBKN Ramadan dan Idul Fitri 1447 H,” terang BI.

Berdasarkan kelompoknya, secara tahunan pertumbuhan tertinggi terjadi pada kelompok suku cadang dan aksesori yang tumbuh 15,5 persen (yoy) dengan indeks 168,1.

Selanjutnya, kelompok barang budaya dan rekreasi tumbuh 14,8 persen (yoy) dengan indeks 68,7, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau tumbuh 4,7 persen (yoy) dengan indeks 367,2.

Secara bulanan, pertumbuhan tertinggi tercatat pada kelompok barang budaya dan rekreasi sebesar 12,9 persen (mtm).

Baca juga: Produksi Melimpah tapi Beras Jadi Penyumbang Inflasi, termasuk di Balikpapan dan Berau

Kemudian diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 10,8 persen (mtm), bahan bakar kendaraan bermotor 9,3 persen (mtm), serta subkelompok sandang 26,2 persen (mtm).

Meski demikian, BI memperkirakan kinerja penjualan eceran akan mengalami perlambatan pada April 2026. IPR April 2026 diproyeksikan sebesar 231,0.

Secara bulanan, penjualan eceran diprakirakan turun 10 persen (mtm) seiring normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Ramadan dan Idul Fitri.

“Penjualan eceran diprakirakan terjaga pada April 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 diprakirakan sebesar 231,0 didorong tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Subkelompok Sandang,” tulis BI.

BI menyebut, secara bulanan penjualan eceran April 2026 diprakirakan menurun sebesar 10 persen (mtm) akibat normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

“Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 diprakirakan menurun sebesar -10,0 persen (mtm), dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idul Fitri 1447 H,” ungkap BI.

Secara tahunan, beberapa kelompok masih diprakirakan tumbuh dan menopang penjualan ritel April 2026. Kelompok suku cadang dan aksesori diprakirakan tumbuh 18,8 persen (yoy) dengan indeks 163,1.

Selanjutnya, perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 1,4 persen (yoy) dengan indeks 83,4, dan subkelompok sandang tumbuh 4,4 persen (yoy) dengan indeks 99,9.

Namun, beberapa kelompok diprakirakan mengalami kontraksi. Kelompok barang budaya dan rekreasi diproyeksikan terkontraksi 1,1 persen (yoy) dengan indeks 59,0.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau diprakirakan turun 2,1 persen (yoy) dengan indeks 327,9, sedangkan bahan bakar kendaraan bermotor turun 2,8 persen (yoy) dengan indeks 103,5.

Secara bulanan, kontraksi terdalam pada April 2026 diperkirakan terjadi pada kelompok barang budaya dan rekreasi sebesar 14,1 persen (mtm), makanan, minuman, dan tembakau sebesar 10,7 persen (mtm), serta peralatan informasi dan komunikasi sebesar 10,9 persen (mtm).

Penjualan eceran di sejumlah kota masih tumbuh

Secara spasial, BI mencatat penjualan eceran Maret 2026 masih tumbuh di sejumlah kota secara tahunan maupun bulanan.

Kota dengan pertumbuhan tahunan tertinggi adalah Surabaya yang tumbuh 14,5 persen (yoy) dengan indeks 529,1.

Denpasar tumbuh 5,5 persen (yoy) dengan indeks 124,3, sedangkan Manado tumbuh 0,1 persen (yoy) dengan indeks 193,9.

Sementara secara bulanan, peningkatan penjualan terbesar terjadi di Bandung, Jakarta, dan Manado. Bandung tumbuh 21,3 persen (mtm), Jakarta 12,9 persen (mtm), dan Manado 17,4 persen (mtm).

Namun pada April 2026, BI memperkirakan beberapa kota akan masuk zona kontraksi. Surabaya diproyeksikan terkontraksi 0,1 persen (yoy) setelah sebelumnya tumbuh 14,5 persen (yoy).

Bandung juga masih diperkirakan terkontraksi 5,6 persen (yoy) meski mencatat perbaikan indeks menjadi 163,6.

Secara bulanan, penurunan terdalam diprakirakan terjadi di Bandung sebesar 18,8 persen (mtm), Makassar 17,2 persen (mtm), dan Jakarta 8,9 persen (mtm). Ketiga kota tersebut sebelumnya mencatat pertumbuhan bulanan cukup tinggi pada Maret 2026. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.