TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bagi Apfia Tioconny Billy, dompet tebal berisi tumpukan kartu debit sepertinya sudah menjadi artefak masa lalu.
Bekerja di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, karyawati swasta ini memilih cara yang lebih ringkas, bahkan tergolong radikal: ia tidak memiliki kartu ATM fisik selama empat tahun terakhir.
"Saya BRImo garis keras," ujarnya tertawa saat berbincang di kantornya, kawasan Jakarta, Mei 2026.
BRImo adalah aplikasi mobile banking yang dikeluarkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk alias BRI.
BRImo dirancang untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi keuangan bagi nasabah BRI.
Baca juga: BRI Multiguna Karya: Solusi Mudah untuk Wujudkan Rencana Masa Depan
Kesetiaan Apfia pada bank pelat merah ini bukan tanpa alasan.
Perjalanannya dimulai sejak 2011 saat ia masih duduk di bangku kuliah.
"Karena anak PNS. Biar mudah ditransfer. Tapi gue nggak ganti-ganti sampai sekarang. Bank gue cuma BRI,"kata Apfia.
Namun, transformasi digital melalui aplikasi BRImo-lah yang benar-benar mengubah cara ia bertransaksi.
Sejak kartu ATM-nya hilang bertahun-tahun lalu, ia justru merasa lebih "merdeka" hanya dengan mengandalkan ponsel di genggaman.
Satu pengalaman yang membuatnya sangat percaya pada aplikasi ini adalah saat ia melakukan tarik tunai tanpa kartu.
Kala itu, uang tidak keluar dari mesin ATM—sebuah momen yang biasanya memicu kepanikan bagi banyak orang. Namun, bagi Apfia, solusinya hanya sejauh ketukan layar.
"Gampang banget. Di BRImo bisa langsung ajukan pengembalian. Enggak sampai 24 jam, uangnya sudah balik. Semuanya terpantau, laporannya masuk, ada listing-annya," kenangnya.
Ia juga merasa lebih aman karena sistem transaksinya yang tangguh.
Apfia menceritakan bagaimana aplikasi ini tetap menjaga saldonya meskipun koneksi internet sedang buruk atau saat aplikasi harus ditutup paksa (hard exit).
"Gue nggak pernah tuh tiba-tiba uang ketarik padahal transaksi belum selesai. Aman banget," tambahnya.
Selain soal keamanan, senjata utama Apfia dalam menaklukkan keseharian di Jakarta adalah fitur QRIS.
Di sela-sela kesibukannya, ia hampir selalu melakukan ritual yang sama sebelum mencapai kasir: merogoh ponsel dan mengaktifkan fitur pemindai atau QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Yang membuat Apfia merasa "menang banyak" adalah keberadaan fitur Fast Menu.
Ia tidak perlu membuang waktu untuk proses login yang panjang—sebuah hal krusial ketika ia harus berhadapan dengan antrean kasir yang mengular.
"Pilihannya banyak dan bisa langsung diakses di fast menu. Enggak perlu login, kita sudah bisa pilih opsi seperti Brizzi, e-wallet, atau Briva. Dan hebatnya, menu itu bisa kita edit sendiri," jelasnya sembari menunjukkan layar ponselnya.
Bagi Apfia, kenyamanan ini bukan sekadar soal fitur, melainkan tentang pengalaman pengguna (user experience) yang dipikirkan dengan matang.
Meski ada beberapa catatan kecil soal sinkronisasi antar-merchant retail, ia merasa antarmuka BRImo jauh lebih bersahabat dan responsif dibanding aplikasi perbankan lainnya.
"Interfacenya lebih gampang, enggak pusing lihatnya. Poin-poinnya enak diklik," imbuhnya.
Di dunia yang menuntut segalanya serba instan, bagi Apfia, BRImo bukan lagi sekadar aplikasi bank, melainkan asisten pribadi yang memastikan hidupnya di Jakarta tetap berjalan lancar tanpa perlu selembar kartu pun di dompetnya.
Terpisah, Direktur Information Technology BRI Saladin Dharma Nugraha Effendi mengatakan bahwa penguatan kinerja BRImo merupakan hasil dari strategi BRI dalam memperkuat infrastruktur teknologi informasi serta mengoptimalkan mesin transaksi secara terintegrasi.
Ia menyebut bahwa BRI secara konsisten membangun kapabilitas digital yang terhubung dengan seluruh ekosistem layanan, mulai dari jaringan ATM dan CRM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen yang tersebar luas di seluruh Indonesia.
Baca juga: Strategi Naik Kelas Jakarta Candle: Tak Sekadar Modal, Menembus Dunia Lewat Inkubasi BRI
Hingga akhir 2025 BRImo telah digunakan oleh 45,9 juta user, meningkat sekitar 18,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Capaian ini mencerminkan semakin luasnya adopsi layanan digital BRI oleh masyarakat dalam mendukung aktivitas transaksi keuangan sehari-hari.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, aktivitas transaksi melalui BRImo juga terus menunjukkan peningkatan.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BRImo telah melayani 5,60 miliar transaksi atau tumbuh 29% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi nilai, transaksi BRImo tercatat mencapai Rp7.057 triliun, atau meningkat 26,1% YoY dibanding posisi 2024, menegaskan peran BRImo sebagai salah satu kanal utama transaksi ritel BRI yang terus berkembang.
“BRImo menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi digital BRI. Kami terus memperkuat kapabilitas teknologi agar BRImo mampu memberikan pengalaman transaksi yang semakin andal, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi nasabah di berbagai segmen,” ujar Saladin.