Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Alexandro Novaliano Demon Paku
POS-KUPANG. COM, OELAMASI - Dugaan keracunan yang menimpa puluhan siswa SD Negeri Onitua, Desa Tesabela, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Rabu (13/5/2026), memicu kepanikan dan kecemasan para orang tua siswa.
Sejumlah orang tua mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah menerima informasi dari warga maupun keluarga saat sedang bekerja di kebun.
Salah satu orang tua siswa, Veronika Bil, mengatakan dirinya baru mengetahui kabar anaknya diduga keracunan setelah pulang dari kebun sekitar pukul 12.00 WITA.
“Beta dari kebun, pulang sekitar jam 12 baru dapat informasi dari tetangga. Kakak kelasnya bilang ada keracunan di sekolah. Saat itu ada tiga pikap dan ambulans yang bawa anak-anak ke rumah sakit,” ujar Veronika kepada Pos Kupang.
Baca juga: Camat Kupang Barat Prioritaskan Penanganan Medis Siswa SDN Onitua yang Diduga Keracunan MBG
Baca juga: Puskesmas Batakte Gerak Cepat Tangani Siswa UPTD SDN Onitua yang Diduga Keracunan MBG
Setelah tiba di rumah, Veronika mendapat informasi bahwa anaknya mengalami muntah-muntah dan sakit perut usai mengonsumsi makanan di sekolah.
“Anak saya muntah-muntah, selain itu juga sakit perut. Dia bilang ada makan daging merah, katanya bau, daging sapi. Tadi dari puskesmas datang cek bilang anak saya tidak apa-apa, yang parah ada anak-anak di RSUP Ben Mboi,” katanya.
Orang tua siswa lainnya, Hoplif Bolla, yang ditemui Pos Kupang di RSUP Ben Mboi Kupang, mengaku kecewa atas insiden tersebut.
Menurutnya, program makanan bergizi seharusnya memberi manfaat, bukan justru menimbulkan keresahan bagi orangtua.
“Rasa sonde enak dengar katanya makan bergizi tapi malah keracunan. Tidak mungkin begini. Kami orangtua berharap ini jadi yang terakhir,” ujarnya.
Ia mengaku saat kejadian sedang bekerja memotong kayu di hutan sebelum akhirnya mendapat kabar anaknya dirujuk ke rumah sakit.
“Saya tadi di hutan masih potong kayu. Begitu dapat informasi, saya langsung datang ke RS Ben Mboi karena anak saya langsung dirujuk ke sini,” katanya.
Insiden ini menjadi perhatian serius masyarakat setempat. Para orangtua berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengungkap penyebab pasti kejadian tersebut agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.