Guru dan Siswa SD Inpres Taubneno TTS Penulis Terbaik Nasional
Alfons Nedabang May 13, 2026 11:19 PM

Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok

POS-KUPANG.COM, SOE - Dunia pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mencatat prestasi membanggakan. Pemerintah daerah Kabupaten TTS siap memberikan dukungan atas pengembangan literasi. 

Beberapa waktu lalu, seorang guru dan satu peserta didik dari SD Inpres Taubneno berhasil masuk dalam daftar nomine 100 penulis terbaik tingkat nasional dalam program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional yang digagas oleh Nyalanesia.

Dua karya yang berhasil lolos seleksi nasional tersebut masing-masing berasal dari Citra Olivia Tobe melalui tulisan berjudul “Dari Takut Menjadi Terang: Perjalanan Mimpiku Menjadi Guru,” serta karya guru Fransina A. Lakapu, S.Pd., Gr., berjudul “Menenun Harapan di Tengah Perbedaan.”

Capaian ini menjadi bukti bahwa potensi literasi dari daerah mampu bersaing di tingkat nasional sekaligus mengharumkan nama Kabupaten TTS.

Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan perhatian pada pengembangan literasi di Kabupaten TTS.

Baca juga: Komisi IV DPRD TTS Dorong para Kepala Sekolah Serius Lakukan Analisis Kebutuhan Guru

"Jika dilihat, Perhatian pemerintah terhadap pengembangan literasi di Kabupaten TTS ini sudah jalan, nin memang masih belum terlalu muncul dipermukaan. Nah sekarang dengan ada karya tulis yang lolos 100 karya tulis terbaik se-Indonesia, potensi kita sudah mulai muncul," ujarnya, Rabu (13/5/2026) usai pengukuhan pengurus Pramuka Kwartir Cabang TTS. 

Ia menegaskan dukungan nyata melalui dinas pendidikan dan, kebudayaan untuk terus mendukung kelancaran serta melihat kesulitan dan hambatan dalam peningkatan literasi di Kabupaten TTS. 

"Pemerintah mendukung untuk kelancaran daripada literasi di Timur Tengah Selatan. Ya tentunya di bawah Dinas pendidikan kita terus mendukung untuk kelancaran. Di mana ada kesulitan-kesulitan, kita melihat, kita masuk untuk melihat solusi," tegasnya. 

Bupati mengapresiasi tulisan siswa SD Inpres Taubneno tersebut. Menurutnya hal tersebut dapat menjadi pemacu bagi siswa-siswi lain untuk meningkatkan diri khususnya dalam kemampuan menulis.

Adapun Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SD Inpres Taubneno, Fransina A. Lakapu, mengaku capaian tersebut melampaui ekspektasi awal pihak sekolah.

“Awalnya kami hanya ingin membangun kebiasaan menulis di lingkungan sekolah, sebagai ruang bagi guru dan peserta didik untuk mengekspresikan diri. Tidak pernah terbayang bisa sampai bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan menulis yang dikembangkan di sekolah tidak hanya mendorong lahirnya karya, tetapi juga meningkatkan budaya membaca peserta didik.

Baca juga: Kabupaten TTS Tuan Rumah Peringatan HUT Damkar Sat Pol PP dan Sat Linmas Tingkat Provinsi NTT

“Ketika mereka menulis, mereka terdorong untuk membaca lebih banyak referensi. Dari situ mereka belajar memahami, mengolah, dan menyusun gagasan. Menulis menjadi cara untuk melatih nalar dan melihat sejauh mana pemahaman mereka terhadap apa yang dibaca,” jelasnya.

Sebagai wujud nyata dari gerakan literasi tersebut, karya guru dan siswa SD Inpres Taubneno telah dibukukan dalam sebuah antologi pengalaman pribadi berjudul “Menulis Mimpi, Merajut Harapan.” Buku ini memuat 50 karya peserta didik dan 5 karya guru.

Dari seluruh karya yang dihasilkan, kemudian dilakukan seleksi di tingkat nasional hingga akhirnya dua karya dari sekolah tersebut berhasil masuk dalam daftar nomine 100 terbaik nasional pada kategori pengalaman pribadi.

Kedua penulis dijadwalkan akan menerima penganugerahan dalam Festival Literasi Nasional yang akan diselenggarakan di Surakarta pada 22–23 Mei 2026.

Di sisi lain, capaian ini juga menggambarkan kondisi literasi di daerah yang masih perlu mendapat perhatian serius.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Lefinus Asbanu, S.Pd., penggerak literasi daerah Nyalanesia sekaligus jurnalis, dari sekitar 545 sekolah dasar di Kabupaten TTS, baru dua sekolah yang secara aktif dan konsisten mendorong budaya menulis sebagai bagian dari pengembangan literasi sekolah, yakni SD Inpres Taubneno dan SD GMIT Soe II.

Kedua sekolah tersebut telah menghasilkan karya nyata berupa antologi cerita pengalaman pribadi.

Temuan ini menunjukkan bahwa menulis memiliki peran penting dalam meningkatkan minat baca dan kemampuan berpikir peserta didik. Melalui menulis, siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, mengolah, dan menyusun gagasan secara lebih sistematis.

Oleh karena itu, gerakan literasi, khususnya dalam aspek menulis, dinilai masih perlu diperluas agar dapat menjangkau lebih banyak sekolah serta menjadi budaya belajar yang berkelanjutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa dari ruang-ruang belajar sederhana, dapat lahir karya besar yang mampu berbicara di tingkat nasional. (any) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.