TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Kreativitas Warga Binaan Pemasyarakatan ( WBP ) di Lapas Nunukan, Kalimantan Utara, benar-benar bikin kagum.
Tak sekadar menjalani pembinaan, para WBP justru berhasil menciptakan batik khas Nunukan yang kini mulai diperhitungkan sebagai identitas budaya daerah.
Melalui program kemandirian, Lapas Nunukan mengembangkan pelatihan membatik yang menghasilkan berbagai motif unik.
Baca juga: Malam-malam Lapas Nunukan Digerebek, Petugas Gabungan Sasar Kamar Hunian Warga Binaan
Karya tersebut merupakan perpaduan motif LaNuka dengan batik khas Nunukan seperti Lundayeh, Langala (Tenggalan), Tahol (Taghol), Tidung Bulungan (Lulantatibu), yang kemudian dikombinasikan dengan ciri khas Lapas Nunukan.
Tak hanya itu, motif batik tersebut juga digali dari sejarah awal terbentuknya Kabupaten Nunukan, serta keberagaman suku dan budaya lokal yang ada di wilayah perbatasan Kalimantan Utara itu.
Kepala Lapas Nunukan, Donny Setiawan, mengaku bangga dengan hasil karya para WBP, yang kini bahkan sudah mendapat pengakuan di tingkat lebih tinggi.
Ia menyebut, batik karya warga binaan tersebut pernah digunakan oleh jajaran pimpinan tinggi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas).
“Kami sangat bangga, hasil karya WBP ini sudah diapresiasi.
Bahkan pimpinan tinggi Ditjenpas pernah mengenakan batik khas Kalimantan Utara hasil karya warga binaan kami,” ujar Donny Setiawan, kepada TribunKaltara.com, Kamis (14/5/2026).
Baca juga: 51 Warga Binaan Lapas Nunukan Ikut Sekolah Paket A hingga C di PKBM Lanuka, Edo: Senang Bisa Belajar
Menurut Donny Setiawan, Lapas Nunukan ke depan akan terus mengembangkan motif batik khas Nunukan hasil produksi WBP, agar bisa dipatenkan di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Hal ini sekaligus menjadi upaya memperkuat identitas budaya lokal yang tidak dimiliki daerah lain.
Ia menegaskan, program membatik ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sarana pembinaan life skill yang mampu membentuk kreativitas, meningkatkan kualitas SDM WBP, sekaligus melestarikan budaya daerah.
“Ini bukan sekadar kegiatan, tapi tonggak penting pembinaan agar WBP punya bekal keterampilan saat kembali ke masyarakat,” tegas Donny Setiawan.
(*)
Penulis: Fatimah Majid