TRIBUNTRENDS.COM - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nadiem Makarim kembali menjadi sorotan dalam proses persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM).
Sejak sidang perdana yang digelar pada Selasa (5/1/2026), sejumlah driver ojek online (ojol) terlihat konsisten hadir di sekitar ruang sidang.
Kehadiran mereka bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai bentuk dukungan moral kepada Nadiem selama proses hukum berlangsung.
Para driver tersebut bahkan membawa poster dukungan dan menunjukkan solidaritas secara langsung di lokasi persidangan.
Dalam beberapa kesempatan, mereka juga terlihat berinteraksi singkat dengan Nadiem di sela-sela jalannya persidangan.
Hal ini tidak lepas dari peran Nadiem dalam sejarah awal berkembangnya layanan ojek online di Indonesia melalui Gojek.
Sebelum terjun ke dunia pemerintahan, ia dikenal sebagai pendiri Gojek yang kemudian berkembang menjadi salah satu platform transportasi dan layanan digital terbesar di Indonesia.
Baca juga: Kejanggalan Tuntutan Nadiem Makarim, Dasar Uang Pengganti Rp 5,6 T: Kekayaan Saya Gak Sampai Rp500 M
Pada tahun 2019, Nadiem mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO Gojek setelah ditunjuk sebagai Mendikbudristek RI.
Hingga persidangan yang berlangsung pada Rabu (13/5/2026), para driver ojol masih terus mengikuti perkembangan kasus yang melibatkan dirinya.
Dukungan yang berkelanjutan ini menunjukkan kuatnya ikatan antara sebagian komunitas ojol dan sosok Nadiem dalam perjalanan kariernya.
Dukungan para driver ojol mengalir kepada Nadiem Makarim jelang sidang dengan agenda pembacaan tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Saat Nadiem memasuki gedung pengadilan, ia disambut dan disalami oleh belasan driver ojol yang mengenakan atribut lengkap, jaket hijau khas Gojek.
Selain itu, pendiri startup layanan transportasi online GoJek tersebut berjumpa langsung dan berbincang-bincang dengan para pengemudi atau driver ojol yang setia mengikuti jalannya proses peradilan kasus ini.
Salah satu driver ojol bernama Riyanto menyatakan bahwa Nadiem Makarim adalah sosok pahlawan ekonomi bagi dirinya.
"Pak Nadiem di hati saya tak pernah hilang. Bapak pahlawan ekonomi saya, Pak," kata Riyanto kepada Nadiem, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV.
Riyanto juga mengungkap, Nadiem Makarim berjasa dalam mengangkat derajat dan memperbaiki perekonomian keluarganya.
Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih dukungan penuh kepada pengusaha kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 itu.
"Sejak saya dari pangkalan ojek, di pangkalan itu saya utang rokok aja enggak dipercaya. Setelah Bapak angkat derajat saya, saya ngutang rumah pun bisa sekarang," tegas Riyanto.
"Makasih, Pak. Makasih. Pak Nadiem adalah pahlawan ekonomi saya."
"Itu intinya. Jadi, apa pun yang terjadi, saya tetap mendukung pahlawan saya."
Sementara itu, seorang driver ojol lainnya juga menambahkan bahwa Nadiem Makarim adalah sosok yang benar, meski saat ini tersandung kasus korupsi.
"Pokoknya benar bisa kalah, tapi benar tidak bisa salah, Pak," kata driver tersebut.
"Semangat ya Pak. Pasti ada jalan Tuhan."
Mendengar sejumlah dukungan dari para driver ojol, Nadiem pun mengungkap bahwa dukungan tersebut membuatnya merasa lebih kuat dalam menghadapi jalannya kasus ini.
"Kemarin itu saya terasa banget kayak ada tangan kalian di pundak, itu kaya bikin aku kuat banget gitu," tutur Nadiem.
Baca juga: Tuntutan Fantastis JPU Rp5,6 T, Pihak Nadiem Pertanyakan Asalnya, Kecewa: Negara Lakukan Ini ke Saya
Dalam sidang pada Rabu kemarin, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Nadiem Makarim dengan hukuman 18 tahun penjara dan hukuman denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan penjara, serta uang pengganti Rp809 miliar dan Rp4,8 triliun subsider 9 tahun penjara.
JPU memberatkan tuntutan hukuman kepada Nadiem karena Pendiri Gojek itu dinilai tidak mendukung program pemerintah dalam penyelenggaraan negara yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Seusai sidang tuntutan, Nadiem yang tampak mengenakan kemeja lengan panjang bermotif batik warna merah marun mendapat pelukan dari driver ojol.
Nadiem pun terlihat menitikkan air mata terharu.
Sejumlah driver ojol juga terlihat menepuk-nepuk dan mengusap punggung Nadiem saat berangkulan bersama, tanda memberikan dukungan yang tulus.
Para driver ojol menegaskan akan terus mendukung dan membersamai Nadiem.
Mereka yakin dan mendoakan, Nadiem Makarim akan bebas.
"Kita selalu bersama di mana pun, kita selalu bersama," kata seorang driver ojol, dikutip dari tayangan KompasTV..
"Apa pun yang terjadi, Pak Nadiem pahlawan saya, pahlawan ekonomi saya, tetap di hati. Nadim pasti bebas! Pasti. Kami yakin, Pak," seru driver ojol lainnya.
"Sabar, sabar, [kami] mendoakan terus. Semangat, Pak. Semangat, Pak."
Setelah menjalani sidang pada Rabu kemarin, Nadiem menilai tuntutan jaksa sangat mengecewakan dan tidak masuk akal.
Menurut dia, tuntutan JPU yang berat malah menjadi balasan untuk kerja keras anak muda yang ingin memajukan negeri lewat teknologi.
"Pertama, ini adalah hari yang sangat sangat sangat mengecewakan," kata Nadiem, dikutip dari Breaking News KompasTV.
"Mungkin tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan perasaan saya. Mulai dari keputusan kemarin, saudara Ibam mendapat keputusan vonis bersalah 4 tahun yang sangat tidak masuk akal."
"Dan hari ini kita melihat hasil daripada kerja keras orang-orang jujur, anak-anak muda yang ingin merubah pola-pola lama, yang ingin maju terhadap transparansi menggunakan teknologi."
"Nah, ini adalah balasannya."
Nadiem pun menyoroti besarnya tuntutan uang pengganti.
"Saya hari ini dituntut secara efektif dituntut 27 tahun, rekor lebih besar dari berbagai kriminal-kriminal lainnya. 18 + 9 ya, dan plus 9 itu adalah uang pengganti dan uang pengganti itu adalah jauh di atas harta kekayaan yang saya punya," tutur Nadiem.
Nadiem menegaskan, dalam kasus Chromebook ini, ia tidak melakukan kesalahan administrasi apapun.
Tak ada juga uang hasil korupsi yang ia terima dalam perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook ini.
Lantas, ia mempertanyakan, mengapa tuntutan hukuman yang ia terima justru jauh lebih besar daripada tuntutan hukuman untuk terdakwa kasus pembunuhan dan terorisme.
Nadiem menilai, tuntutan besar ini diberikan jaksa padanya karena takut ia akan bebas.
Mengingat dalam persidangan selama ini, Nadiem merasa tidak ditemukan adanya kesalahan yang ia lakukan.
"Jadi bisa bayangkan itu artinya otomatis saya dituntut oleh kejaksaan 28 tahun untuk kesalahan apa? Tidak ada kesalahan administrasi apa pun," papar Nadiem.
"Tidak ada unsur korupsi apa pun dalam kasus saya dan seluruh masyarakat sudah mengetahui."
"Jadi, saya bingung kenapa kenapa tuntutan saya lebih besar daripada pembunuh? Penuntutan saya lebih besar daripada teroris."
"Nah, ini mungkin adalah karena di dalam alur persidangan ini sudah terang benderang bahwa saya tidak bersalah. Tetapi karena takut saya bebas, angka yang begitu tinggi dilemparkan kepada saya."
(TribunTrends/Tribunnews/Rizki A)