Sinergi SMA Kolesse De Britto dan SMA PL Yogya, Menimba Makna Hidup Lewat Karya 'Sumur Tanpa Dasar'
Muhammad Fatoni May 14, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ambisi, kekuasaan dan perburuan duniawi kerap kali menjebak manusia modern ke dalam lorong hampa yang tak berujung.

Kehampaan eksistensial itulah yang dengan apik dipantulkan dari atas panggung Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (13/5/2026) malam.

Melalui lakon monumental “Sumur Tanpa Dasar” karya Arifin C. Noer, para pelajar SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta tak sekadar unjuk kebolehan akting. 

Mereka sukses mengguncang nurani ratusan penonton untuk sejenak berhenti, menghela napas, dan menatap ke dalam relung batin mereka sendiri.

Suasana penuh refleksi, kreativitas, dan semangat kolaborasi menyelimuti auditorium sejak tirai panggung dibuka pada pukul 18.00 WIB. 

Pementasan ini menjadi muara dari proses panjang yang tidak hanya menguras energi fisik, tetapi juga melibatkan kedalaman rasa para murid.

Simbol "sumur tanpa dasar" yang menjadi poros cerita menjadi metafora tajam bagi manusia modern: sebuah kejaran tanpa henti akan kepemilikan yang sering kali berakhir pada kehampaan makna hidup.

Di balik kemeriahan lampu panggung, pementasan ini adalah sebuah pernyataan sikap tentang arah pendidikan. 

Kepala SMA Kolese De Britto, R. Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., menegaskan bahwa teater bukanlah sekadar aktivitas sampingan atau ekstrakurikuler pengisi waktu. Baginya, panggung adalah ruang pembentukan manusia yang utuh.

Pendidikan sejati, menurut Arifin, tidak boleh terjebak hanya pada angka-angka akademik di atas kertas, melainkan harus menyentuh keberanian untuk merefleksikan realitas.

“Melalui teater, para murid belajar mendengarkan kehidupan, memahami pergulatan manusia, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa. Inilah bagian dari pendidikan karakter yang ingin terus kami bangun di De Britto,” ungkap Arifin.

Pandangan senada datang dari Kepala SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, Anna Fitri Anitasari Nugroho, S.Pd.

Ia melihat kolaborasi ini sebagai oase kontemplatif di tengah kebisingan zaman.

Di saat arus digitalisasi menyeret generasi muda ke dalam budaya yang serba instan, teater justru menawarkan sebaliknya yakni keheningan dan kedalaman.

“Di tengah budaya instan dan derasnya arus digitalisasi, teater menghadirkan ruang hening untuk berpikir, merasakan, dan memaknai hidup. Anak-anak muda perlu memiliki ruang seperti ini agar tidak kehilangan kedalaman kemanusiaannya,” tegas Anna.

Baca juga: Merayakan Kelulusan Tanpa Bising: Tradisi Jalan Kaki dan Berbagi ala SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Sinergi Lintas Generasi dan Media

Kemeriahan malam itu telah dimulai sejak sore hari.

Sebelum lakon utama digelar, panggung TBY lebih dulu diwarnai oleh penampilan kolaboratif dari sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) pendukung.

Kehadiran SMP Marsudirini Immaculata, SMP Joanes Bosco, SMP Kanisius Gayam, SMP Kanisius Kalasan, SMP Santo Aloysius Turi, dan SMP Pangudi Luhur Yogyakarta memberikan spektrum kreativitas yang beragam, mempertegas bahwa pendidikan karakter melalui seni telah dimulai sejak dini.

Tak hanya di atas panggung, perayaan ekspresi ini meluas hingga ke selasar pameran.

Para pengunjung diajak melihat dunia melalui mata para murid lewat pameran fotografi, jurnalistik, dan seni lukis.

Karya-karya tersebut merupakan hasil proses panjang ekstrakurikuler di masing-masing sekolah.

Melalui bidikan lensa, goresan kuas, dan rangkaian kata dalam tulisan jurnalistik, para murid memotret dinamika generasi muda, lingkungan sosial, hingga kepekaan mereka terhadap isu kemanusiaan.

Pameran ini seolah menjadi bukti bahwa pendidikan memberikan ruang bagi tumbuhnya keberanian menyuarakan nilai-nilai melalui medium artistik yang teknis sekaligus puitis.

Pementasan "Sumur Tanpa Dasar" ini lahir dari latihan intensif selama berbulan-bulan.

Para murid tidak hanya menghafal naskah, tetapi juga terlibat dalam manajemen produksi, pengolahan artistik, hingga pendalaman karakter yang didampingi oleh pembimbing profesional.

Proses ini menjadi pengalaman belajar yang konkret dan transformatif, jauh melampaui teori-teori di dalam kelas.

Kolaborasi ini juga membawa misi spiritual dan institusional yang lebih luas.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari pesan pastoral Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam Sinode Pendidikan beberapa waktu lalu. 

Praktik baik ini menunjukkan bagaimana sekolah-sekolah Katolik dapat saling memperkuat dan menginspirasi dalam mendampingi generasi muda yang berkarakter dan berbelarasa.

Malam itu, TBY menjadi saksi bahwa seni bukan sekadar tontonan, namun jalan untuk menimba makna kehidupan dari “sumur” refleksi yang tak pernah habis digali, demi membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan, sekaligus demi kemuliaan Allah yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam).

( tribunjogja.com )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.