TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan terus mengalami tekanan.
Kondisi ini membuat harga sejumlah barang naik dan memengaruhi perekonomian masyarakat.
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah, Prof Sri Rahayu, mengatakan secara sederhana nilai tukar ibarat harga cabai di pasar.
Kalau banyak orang mencari dolar sementara pasokannya sedikit, maka harga dolar naik dan rupiah melemah.
Namun, pelemahan rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor dari luar negeri maupun dalam negeri yang menjadi penyebab utama.
Salah satu penyebab terbesar datang dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang menaikkan suku bunga acuan.
Ketika suku bunga di AS naik, investor global cenderung memindahkan dana mereka ke Amerika karena dianggap lebih aman dan memberikan keuntungan lebih tinggi.
"Akibatnya dolar menjadi lebih kuat dan mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan," kata Prof Ayu kepada Tribunsumsel.com, Kamis (14/5/2026).
Prof Ayu menambahkan, selain itu, ketidakpastian global seperti perang, ancaman resesi hingga inflasi tinggi di negara-negara besar membuat investor memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS dan emas yang dianggap lebih aman.
Faktor lainnya adalah turunnya harga komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara, sawit, dan nikel.
Padahal komoditas tersebut menjadi sumber utama masuknya dolar ke Indonesia. Ketika harga turun, pasokan dolar ikut berkurang.
Dari dalam negeri, tingginya impor juga menjadi penyebab rupiah melemah. Indonesia masih banyak mengimpor minyak, gandum hingga barang elektronik yang seluruh pembayarannya menggunakan dolar AS.
Selain itu, defisit transaksi berjalan juga memberi tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini terjadi ketika uang yang keluar negeri untuk membayar utang, impor, dan dividen lebih besar dibanding uang yang masuk dari ekspor maupun investasi.
Sentimen pasar juga sangat memengaruhi. Isu politik, kondisi APBN hingga kebijakan ekonomi bisa membuat investor asing menarik dana mereka dari Indonesia.
Pelemahan rupiah paling cepat terasa pada naiknya harga barang impor seperti laptop, telepon genggam, obat-obatan, susu bayi hingga bahan bakar.
Perusahaan dan pemerintah yang memiliki utang luar negeri juga harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk membayar cicilan dalam dolar AS.
Selain itu, pasar saham dan obligasi berpotensi mengalami tekanan karena investor asing menarik dananya dari Indonesia.
Pengamat menilai anjloknya nilai tukar rupiah juga berdampak bagi pelaku UMKM, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor seperti plastik, besi maupun bahan makanan.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga bahan baku.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga membawa keuntungan bagi sektor ekspor. Produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga lebih kompetitif.
Sektor pariwisata juga bisa mendapat keuntungan karena biaya liburan di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing.
Selain itu, mahalnya barang impor dapat mendorong masyarakat beralih menggunakan produk lokal.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia biasanya menaikkan suku bunga agar masyarakat dan investor tetap tertarik menyimpan dana dalam rupiah.
Bank Indonesia juga dapat melakukan intervensi pasar dengan menjual cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar agar tidak melemah terlalu dalam.
Pemerintah juga terus mendorong ekspor dan mengurangi impor melalui program hilirisasi industri dan penggunaan bahan bakar campuran seperti B30.
Prof Ayu menambahkan, upaya mendongkrak kembali nilai rupiah juga memerlukan peran serta masyarakat.
Masyarakat diimbau tidak panik menukar seluruh uang ke dolar karena hal itu justru dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, masyarakat bisa mulai mengurangi ketergantungan terhadap barang impor dan lebih memilih produk lokal yang memiliki kualitas setara.
Masyarakat juga disarankan menghindari utang dalam dolar AS jika penghasilannya menggunakan rupiah karena risiko cicilan bisa meningkat saat dolar menguat.
"Sementara untuk menjaga nilai aset, investasi seperti emas maupun reksa dana saham dinilai dapat menjadi pilihan untuk menghadapi inflasi akibat pelemahan rupiah," tutup Prof Ayu.