SERAMBINEWS.COM, BARCELONA - Aksi bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, yang membentangkan bendera Palestina saat merayakan gelar juara Liga Spanyol (LaLiga) 2025-2026 berbuntut panjang.
Tindakan Lamine Yamal memicu reaksi keras dari pihak pemerintah Israel yang menilainya sebagai bentuk provokasi negatif di media sosial.
Lamine Yamal kedapatan mengibarkan bendera berukuran besar dari atas bus terbuka dalam parade perayaan kemenangan timnya di kompetisi LaLiga.
Meski sang pemain tidak mengeluarkan pernyataan resmi secara verbal terkait aksinya, momen tersebut langsung menjadi pusat perhatian global di tengah euforia keberhasilan klub Catalan merebut trofi domestik.
Pihak pemerintah Israel melalui Menteri Pertahanan, Israel Katz, melemparkan tuduhan serius terkait dugaan sentimen anti-Semitisme kepada penyerang sayap tersebut.
Tiga hari pasca-parade berlangsung, tuduhan mengenai adanya upaya menyebarkan kebencian terhadap kaum Yahudi dilayangkan secara terbuka.
"Lamine Yamal memilih untuk menghasut dan memicu kebencian terhadap Israel," ujar Israel Katz dikutip dari Football Espana, Kamis (14/5/2026).
"Sementara tentara kita sedang memerangi Hamas, sebuah organisasi yang membantai, memperkosa, membakar, dan membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua Yahudi pada tanggal 7 Oktober."
"Siapa pun yang mendukung pesan semacam ini harus bertanya pada diri sendiri: Apakah dia menganggap ini sebagai tindakan kemanusiaan? Apakah ini bermoral?" lanjutnya.
Lebih lanjut, ia juga mendesak pihak manajemen klub untuk memberikan klarifikasi serta mengambil jarak dari tindakan yang dilakukan oleh sang pemain.
"Sebagai Menteri Pertahanan Negara Israel, saya tidak akan tinggal diam menghadapi hasutan terhadap Israel dan terhadap bangsa Yahudi," ungkap Katz menambahkan.
"Saya mengharapkan klub besar dan terhormat seperti FC Barcelona untuk menjauhkan diri dari pernyataan-pernyataan ini dan menegaskan dengan jelas bahwa tidak ada tempat untuk hasutan atau dukungan terhadap terorisme."
Baca juga: Ungkapan Lionel Messi Setelah Barcelona Juara Liga Spanyol seusai Kalahkan Real Madrid
Respons Hansi Flick
Pelatih kepala Barcelona, Hansi Flick, turut memberikan pandangannya mengenai langkah yang diambil anak asuhnya.
Flick mengaku sempat berdiskusi dengan sang pemain sebelum perayaan dimulai dan menyatakan bahwa dirinya secara pribadi lebih menyukai fokus tim sepenuhnya tertuju pada aspek olahraga.
Ketika dimintai keterangan terkait pilihan pemainnya, arsitek taktik asal Jerman tersebut memilih memberikan kebebasan penuh mengingat usia sang pemain yang sudah menginjak dewasa.
“Biasanya saya tidak suka hal ini, saya sudah berbicara dengannya, dan saya mengatakan jika dia menginginkan ini, dia sudah cukup umur, dia berusia 18 tahun, dan itu adalah keputusannya," jelas Hansi Flick
"Kami bermain sepak bola, dan Anda bisa melihat, apa yang diharapkan orang-orang dari kami. Ketika saya melihat penonton, mereka sangat emosional, air mata mengalir di mata mereka."
"Mereka sangat senang karena kami menang lagi, gelar fantastis ini, yang kedua berturut-turut, dan inilah mengapa kami bermain sepak bola.” tambahnya.
Aksi Serupa di Kompetisi Domestik
Fenomena pengibaran simbol dukungan terhadap masyarakat di wilayah konflik tersebut sebenarnya bukan kali pertama terjadi di ranah sepak bola Spanyol belakangan ini.
Sebelumnya, situasi serupa juga diperlihatkan oleh salah satu penggawa di kompetisi yang sama.
Pemain sayap milik Rayo Vallecano yang sedang dalam masa pinjaman dari Villarreal, Ilias Akhomach, tercatat pernah mengambil bendera serupa dari tribun penonton di Stadion Vallecas Mantan didikan akademi La Masia itu membentangkan simbol tersebut di hadapan rekan-rekannya saat merayakan kesuksesan di ajang Eropa.
Konteks dan reaksi publik
Aksi pengibaran simbol politik dalam perayaan olahraga bukan hal baru dan kerap memicu perdebatan, terutama terkait batas antara ekspresi pribadi atlet dan netralitas olahraga profesional.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi tambahan dari pihak FC Barcelona maupun Lamine Yamal terkait kontroversi yang berkembang di media internasional.