Sempat Tembus Rp 17.600 per Dolar AS, Rupiah Cetak Rekor Terburuk Lagi
Vito May 15, 2026 11:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Rupiah kembali mencatatkan rekor terlemah pada perdagangan Jumat (15/5), dengan ditutup di level Rp 17.597 per dolar AS, melemah dari hari sebelumnya di angka Rp 17.529 per dolar AS. 

Mata uang Garuda sebelumnya tercatat sempat menembus level Rp 17.600 pada Jumat (15/5) pagi.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari tensi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, penguatan dollar AS hingga tren suku bunga tinggi. 

"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," katanya, dalam keterangannya, Jumat (15/5). 

Menurut dia, pasar global saat ini mencermati ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan AS. Situasi memanas setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan tersebut. 

Selain itu, insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman dan penahanan sejumlah kapal oleh Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia. 

Ibrahim menuturkan, kondisi itu membuat harga minyak dunia naik dan mendorong investor memburu aset safe haven berupa dollar AS.

"Di sisi lain, ekspektasi bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi juga memperkuat indeks dollar AS," ucapnya. 

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut, pelemahan rupiah semakin terasa karena pasar domestik sedang libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus yang berlanjut cuti bersama dan akhir pekan, sehingga intervensi Bank Indonesia (BI) hanya bisa dilakukan di pasar internasional. 

"Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya," jelasnya.

Ibrahim memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Ada kemungkinan besar BI akan menaikkan suku bunga 25-50 basis point untuk menyetabilkan rupiah," katanya. 

Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, karena mayoritas kepemilikan obligasi pemerintah masih didominasi investor domestik. (Kompas.com/Suparjo Ramalan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.