TRIBUNSUMSEL.COM - Di balik sosok Josepha Alexandra atau Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak atas keberaniannya memprotes ketidakadilan juri di Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026, publik menyoroti ayahnya.
Karakter vokal Ocha ternyata mengalir dari sang ayah, Andre Kuncoro.
Rupanya ayah Josepha memiliki jabatan mentereng.
Andre Kuncoro merupakan seorang profesional yang memiliki rekam jejak panjang di bidang pemberdayaan masyarakat dan birokrasi kementerian.
Andre yang tinggal di Putussibau, Kalimantan Barat, diketahui bekerja sebagai Staf Ahli Pertanian Lembaga Gemawan.
Baca juga: Isi Pertemuan Josepha Alexandra "Ocha" dengan Wapres Gibran usai Viral LCC 4 Pilar MPR RI
Berikut adalah perjalanan karier mentereng ayah Ocha, dilansir dari akun Facebooknya.
Sebagai seorang profesional yang terbiasa berurusan dengan tata kelola dan aturan, Andre Kuncoro menekankan pentingnya sportivitas dan kejujuran kepada putrinya.
Baginya, aksi putrinya di atas panggung bukan sekadar protes, melainkan menyuarakan keadilan atas kebenaran yang ia sampaikan.
"Publik Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba, tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani menyuarakan keadilan dan kebenaran," kata Andre melansir dari Tribunstyle.com, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya menang atau kalah dalam lomba merupakan bonus, terpenting anaknya mampu melewati semua prosesnya.
"Berkah yang luar biasa dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam lomba itu sportivitas harus dijunjung tinggi. Menang atau kalah itu biasa, yang penting prosesnya," katanya.
Baca juga: Tangis Josepha Alexandra Ocha Banjir Dukungan Usai Viral Protes Jawabannya Disalahkan Juri LCC
Ia berharap tindakan Ocha dapat menginspirasi untuk berani menyiarakan keadilan.
"Kebenaran tetap harus jadi kebenaran, dan keadilan harus tetap dijaga," katanya.
Andre menceritakan sosok Ocha sebagai pribadi yang getol sekali belajar.
"Ocha itu nggak banyak bicara. Dia lebih senang berada di kamar dengan dunianya sendiri, dengan laptopnya, belajar," katanya.
Menurutnya Ocha sering kali belajar sampai larut malam.
Sang ibu bahkan selalu mengingatkan untuk istirahat.
"Kadang tidak kenal waktu sampai tengah malam. Ibunya sering mengingatkan, ‘Dek tidur’. Tapi kalau belum selesai, dia belum mau tidur," katanya.
Sebagai orang tua, Andre mengaku beberapa kali mencoba mengajak Ocha bersantai atau bermain bersama teman-temannya.
Namun ajakan itu sering ditolak karena dianggap membuang waktu.
"Kita suruh main dengan temannya juga nggak mau. Katanya buang-buang waktu," katanya.
Selain aktif belajar mandiri, Ocha juga mengikuti bimbingan belajar beberapa kali dalam sepekan.
Di luar kegiatan sekolah, ia turut aktif dalam kegiatan sosial bersama anak-anak di kawasan Taman Catur Untan.
Andre menyebut, putrinya kerap membantu membina anak-anak kecil melalui kegiatan mewarnai, melukis, hingga mengajarkan sejumlah mata pelajaran pada hari libur.
“Biasanya di Taman Catur itu, membina adik-adik kecil, mewarnai, melukis, lalu mengajarkan pelajaran juga,” ungkapnya.
Menurut Andre, kebiasaan belajar Ocha yang begitu intens terkadang membuat keluarga khawatir.
Meski demikian, ia melihat putrinya memang menikmati dunia belajar sebagai hobinya.
“Ocha hobinya memang di depan laptop belajar. Kadang kami orang tua juga khawatir, ini anak nggak stres. Tapi memang dia suka,” katanya.
Setelah sebelumnya viral akibat insiden penilaian kontroversial di ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026, remaja yang akrab disapa Ocha ini mendapat undangan istimewa untuk bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pertemuan tersebut berlangsung di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada Rabu (13/5/2026).
Tidak sendirian, Ocha hadir didampingi rekan satu timnya yang juga merupakan peserta kompetisi bergengsi tersebut.
Dalam kesempatan langka itu, Ocha mengungkapkan bahwa dirinya tidak hanya sekadar berbincang, tetapi juga menyerap ilmu komunikasi langsung dari orang nomor dua di Indonesia tersebut.
Baca juga: Buka Suara Usai Aksinya Viral, Ocha Siswi Pontianak Ini Ungkap Alasan Tak Gentar Protes Juri
Ia mengaku mendapatkan arahan mengenai cara mengasah kepercayaan diri dan teknik adu gagasan.
“Tadi kami diberi motivasi serta tips and trick juga gimana caranya nanti untuk berpublic speaking dan berdebat dimuka umum,” ujar Josepha usai pertemuan dalam tayangan instagram Kompas TV Rabu (13/5/2026).
Menurut Josepha, wejangan yang disampaikan Wapres Gibran menjadi suntikan semangat sekaligus bekal berharga bagi masa depannya.
"Ini menjadi suatu harapan dan semangat bagi kami untuk terus melangkah maju dan berkembang. Didalam juga kami diberikan arahan oleh bapak Wapres Gibran untuk terus berlajar dan tidak mudah termakan isu-isu yang berkembang di media sosial saat ini." tambah Ocha dibantu rekan timnya.
Diskusi yang berjalan cair tersebut banyak menekankan pada pentingnya keberanian generasi muda dalam menyuarakan pendapat secara kritis di hadapan khalayak.
Ocha dan juga mengungkapkan bagaimana perasaannya setelah mendapatkan undangan dari bapak Wapres Gibran, hingga ia dan tim bisa sampai berkunjung ke Istana Negara yang ada di Jakarta.
"Iya tentunya saya dan juga tim merasa kaget, maksudnya kami diundang tiba-tiba. Tapi saya dan tim merasa senang bisa datang ke Jakarta untuk bertemu dengan bapak Wapres Gibran" tutup Ocha dalam perbincangannya.
Sebagaimana diketahui, sosok Ocha menjadi pembicaraan hangat di jagat maya setelah potongan video dirinya saat berkompetisi tersebar luas.
Polemik bermula saat final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026).
Kompetisi tersebut diikuti sembilan SMA di Kalimantan Barat, dengan tiga sekolah yang lolos ke babak final yakni SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Kontroversi terjadi saat sesi rebutan jawaban ketika juri memberikan pertanyaan mengenai lembaga yang harus dipertimbangkan DPR dalam memilih anggota BPK.
Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi tim pertama yang menjawab. Seorang siswi menjelaskan bahwa anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan Presiden.
Namun, dewan juri justru memberikan pengurangan nilai minus lima kepada Regu C.
Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas.
Menariknya, jawaban yang disampaikan dinilai sama dengan jawaban Regu C, tetapi justru diberi poin 10 oleh dewan juri dengan alasan inti jawaban sudah benar.
Keputusan itu langsung diprotes peserta dari SMAN 1 Pontianak karena merasa telah menyampaikan jawaban identik.
“Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B,” ujar peserta Regu C dalam tayangan yang kemudian viral di media sosial.
Dewan juri yang merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, Dyastasita WB, menjelaskan pihaknya tidak mendengar penyebutan unsur DPD dalam jawaban Regu C.
Namun peserta membantah penjelasan tersebut dan meminta audiens menjadi saksi bahwa mereka telah menyebutkan unsur DPD dalam jawaban.
“Apakah ada yang mendengar saya mengatakan DPD?” kata peserta Regu C di hadapan penonton.
Situasi sempat memanas hingga pembawa acara meminta seluruh peserta menghormati keputusan dewan juri.
Dewan juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI Indri Wahyuni, mengatakan peserta perlu memperhatikan artikulasi saat menjawab pertanyaan.
“Artikulasi itu penting. Kalau dewan juri tidak mendengar dengan jelas, maka dewan juri berhak memberikan nilai minus lima,” ujar Indri.
Insiden tersebut kemudian memicu gelombang kritik publik di media sosial. Banyak warganet menilai keputusan juri tidak konsisten karena jawaban yang dinilai sama justru mendapatkan hasil penilaian berbeda.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com