TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Seorang jamaah haji tunanetra asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel), mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.
Ia adalah Saifuddin HM Abd Muin Saideng, Jamaah Calon Haji (JCH) Kloter 17 Embarkasi Makassar.
Pemerintah Arab Saudi, berencanan mewakafkan nama Saifuddin untuk salah satu masjid yang akan di bangun di Arab Saudi.
Hal itu diungkap oleh, Ketua PPIH Embarkasi Makassar, Ikbal Ismail, di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (16/5/2026).
Ia mengatakan jamaah bernama Saifuddin itu didatangi langsung oleh tim Kementerian Haji dan Umrah Pemerintah Saudi setelah kisah perjuangannya diketahui.
Menurut Ikbal, pihaknya menerima informasi tersebut dari pembimbing ibadah jamaah asal Kabupaten Sinjai.
“Kami dapat info dari pembimbing ibadahnya Kabupaten Sinjai bahwa kemarin ada tim Kementerian Haji dan Umrah Pemerintah Saudi mendatangi jamaah atas nama Saifuddin yang tunanetra dan melihat langsung kondisinya,” katanya.
Pemerintah Saudi, kata Ikbal, bahkan memberikan hadiah kepada Saifuddin sebagai bentuk apresiasi atas semangatnya menunaikan ibadah haji meski memiliki keterbatasan penglihatan.
“Kami menyaksikan, ada di foto, Pemerintah Saudi memberikan hadiah kepada tunanetra tersebut karena semangat beliau begitu besar," ungkapnya.
"Dengan kondisi tunanetra, tetapi beliau masih ingin melaksanakan ibadah haji setelah beberapa tahun menabung,” tambah dia.
Kisah Saifuddin disebut menyentuh perhatian banyak pihak karena tekadnya untuk tetap berangkat ke Tanah Suci meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Ikbal mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima dari pembimbing ibadah, Pemerintah Saudi bahkan berencana membangun sebuah masjid yang akan diberi nama Saifuddin.
“Dari latar belakang itulah sehingga Pemerintah Saudi, informasi dari pembimbing ibadahnya, berencana akan dibangunkan masjid di Arab Saudi atas nama Haji Saifuddin,” unfkapnya.
Meski demikian, Ikbal menegaskan pihaknya masih menunggu realisasi dari rencana tersebut.
“Kita tinggal menunggu apakah janji tersebut akan terealisasi atau tidak,” jelasnya.
Sbelumnya, Saifuddin mengaku telah mendaftar haji sejak 2014 dan bersyukur kini mendapat kesempatan berangkat.
“Tahun 2014 sudah mendaftar. Alhamdulillah," katanya kepada Tribun Timur saat ditemui di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (2/5/2026).
Di kampung halamannya, Saifuddin dikenal sebagai imam masjid.
Meski kini tunanetra, ia tetap menjalankan aktivitas keagamaan dengan mengandalkan ingatan.
“Saya imam masjid di kampung. Saya bisa hafal (berangkat ke masjid) saat bisa melihat dulu,” ungkapnya.
Dalam perjalanan hajinya, Saifuddin tidak sendiri.
Ia berangkat bersama empat anggota keluarga, termasuk seorang sepupu.
"Alhamdulillah masih kuat jalan,” ujarnya.
Perjalanan menuju Tanah Suci ini bukan hal mudah.
Saifuddin harus menabung lebih dari 20 tahun dari hasil berjualan bahan campuran serta honor sebagai imam masjid yang relatif kecil.
“20 tahun lebih menabung. Jualan bahan campuran. Honor dari imam masjid Rp200 ribu,” kata dia.
Di balik keterbatasannya, Saifuddin menyimpan harapan besar agar penglihatannya dapat kembali pulih.
Ia mengaku pernah menjalani pengobatan sejak lama.
“Doanya Berharap mata (sembuh). Sudah pernah berobat. Tahun 85, tidak langsung kabur (penglihatan). Waktu itu berobat ke dokter mata di Makassar," jelasnya.
"Buta saat SMP, awalnya sakit. awalnya mata terasa sakit seperti tertusuk jarum. Bengkak," tambahnya.