Sebagai anak sulung, Guntur Soekarnoputra punya banyak kenangan dengan bapaknya. Termasuk menyaksikan presiden pertama RI itu sebagai bapak dan manusia pada umumnya yang biasa saja.
Tayang pertama di rubrik Terawang Majalah Intisari dengan judul "Bung Karno, Tutur Guntur Soekarno" | Penulis: Rudi Badil
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Dari semua buku perihal mantan Presiden Sukarno (Surabaya, 6 Juni 1901 – Jakarta 21 Juni 1970), mungkin buku ini paling unik. Meski bertutur ringan, anekdotik, dan berbahasa populer, buku Bung Karno: Bapakku-Kawanku-Guruku, tulisan putra sulungnya, Guntur Soekarno, mampu menguak lebih jauh sisi kehidupan Bung Karno sebagai manusia, pemimpin, dan kepala keluarga. Juga Sukarno sebagai orang biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa, namun “luar biasa”.
- Dis, gimana kabarnya Istana? ... Ada hindul- hindul yang nyelundup masuk nggak?
+ Kayakya sih nggak; pada ngeri kali ... gara-gara Mas labrak si Deweh (Deweh maksudnya Dewi) ... Eh, Gun tapinya ya, aku sekarang ini di Istana agak curiga sama satu orang deh ... Aku takut, jangan-jangan Bapak naksir nantinya kan hindul-hindul markindul bisa jadi nambah ...
- Ngomong-ngomong cakepnya seberapa sih Dis? Cakep mana sama Dewi?
Kutipan kalimat di atas merupakan dialog antara Guntur dengan adiknya, Megawati, dalam salah satu subjudul buku tersebut, “Bung Karno Kontra C.I.A”. Dalam buku berukuran 11 x 18 cm, setebal 256 halaman, berisi sekitar 25 subjudul serta puluhan foto eksklusif. Guntur menulis dengan gaya "aku" bertutur, dan beberan kalimat langsung, serta anotasi, misalnya Waktu: 1962-1964. Tempat: Istana Merdeka. Yang Hadir: Bung Karno, Megawati, ajudan, aku.
Nikri utama buku eksklusif terbitan PT Dela-Rohita ini, terbaca dalam tuturan Guntur perihal hubungan intim antarwarga keluarga Bung Karno. Siapa yang tahu kalau Megawati Soekarnoputri, ternyata bernama panggilan Gadis atau Adis. Ibu Fatmawati sebagai first lady dan ibu lima anak, masih sering berkata-kata dengan dialek bahasa Melayu Bengkulu. Guntur yang dipanggil "Gun" oleh Mega, atau bernama akrab Mas Tok, ternyata dipanggil "Jang" alias Bujang oleh sang bunda. Uniknya, keluarga Sukarno ini memiliki kata sandi khusus untuk "buang air besar", yakni: o-ok.
Kalau hindul-hindul markindul merupakan kata sandi untuk istri muda Bung Karno, terutama gelar untuk Deweh alias Ratna Dewi asal Jepang. Hampir di tiap peristiwa, Guntur berupaya mengenang kembali ingatannya, terutama masalah kutipan langsung pembicaraan sang bapak. Sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia, Bung Karno terbaca amat piawai berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing, juga berbahasa daerah. Selain berbahasa Jawa, Sukarno senang memakai bahasa Sunda untuk berbicara dan mendamprat staf rumah tangga istana.
PBB dikentuti
Bung Karno yang berhobi berat makan durian, tapi tak suka makan petai dan jengkol, karena kalau ki'ih (kencing, Red) akan berbau. Namun Bung Karno suka lagu klasik Italia. Khususnya kalau beranjangsana ke Italia, Sukarno selaku kepala negara RI tak segan ikut mementang suaranya melagukan “O Sole Mio”, bersama pelayan hotel. Sampai-sampai Guntur pun menjuluki bapaknya The Great Caruso.
Sebagai putra sulung, Guntur paling sering mendapat kesempatan belajar langsung dari ayahnya. Apalagi selewat masa akil baliknya dia tak cuma diindoktrinasi soal paham negara RI yang anti-neokolonialisme dan imperialisme, tapi juga soal "isme-isme" lainnya, termasuk wanita cantik.
Misalnya sekali waktu, Bung Karno berdiskusi soal wanita cantik di objek lukisannya:
+ ... perhatikan sorot matanya ... belum lagi bentuk hidung dan bibirnya ... apa pernah lihat bentuk yang secantik ini ... potongannya bagaimana? Ini dia punya bentuk tubuh maksudku ... Ini figur puteri Solo asli! Pernah punya pacar orang Solo? ... Kalau mau cari pacar orang Solo, figurnya harus seperti ini ... baru namanya cantik ...
- Memangnya dia siapa sih Pak?
+ Ho, ho rahasia! ... Pendek kata cantik tidak? ... boleh bandingkan dengan pacar-pacarmu, kalau memang kau punya!
Mas Tok juga menuturkan, bagaimana dirinya tak jarang menjadi sekretaris istimewa, atau pelayan perpustakaan kepresidenan, terutama di saat Sukarno sedang mempersiapkan pidato kenegaraannya. Sang Bapak selalu memanggilnya, seraya menyebut nama penulis atau judul buku, hingga Guntur harus pontang-panting menyiapkan buku referensi bagi bapak tercintanya.
Meja makan merupakan arena paling akrab untuk keluarga besar Sukarno. Seusai makan, keluarga presiden ini biasanya melahap buah-buahan segar dan manis, terutama di musim rambutan dan durian. Untuk buah berduri ini, Guntur mengisahkan betapa bapaknya pernah mengajarkan teori memilih durian:
+ jadi Bapak ulangi! Satu! ... periksa tangkainya. Dua! ... lihat duri-durinya. Tiga! ... cium baunya dari sebelah pantat. Kalau ketiga-tiganya baik itu tandanya durennya jempolan! Nanti kau bisa buktikan setelah duren-durennya ini Bapak pilih terlebih dahulu ...
- Yaaa Pak! Kok durennya bosooookk! Duiiillaaahh! Gimana sih Bapak milihnya?
+ Ndak tahulah! Sekali ini Bapak meleset pilih duren!
- Emangnya jenis apa Pak?
+ Jenis ... kontra revolusi!
Tampak sekali, Presiden pertama RI yang di dunia internasional disegani, karena sikap dan ucapannya yang keras soal kolonialisme dan imperialisme, juga dinilai sebagai pemimpin besar yang gandrung akan persatuan dan kesatuan, serta getol menanamkan sikap patriotisme.
Guntur sebagai sparring partner Bung Karno, tentu tak lepas dari persoalan beginian. Meski di hadapan anaknya, Sukarno memiliki cara dan gaya diskusi tersendiri. Tak jarang Bung Karno meledakkan emosinya, sambil melampiaskan juga perasaannya yang tak mungkin diumbar di muka umum. Sekali waktu (dalam subjudul “Penyelundup Senjata”), Bung Karno mengisahkan kepada Guntur, soal peranan RI dalam membantu kemerdekaan Aljazair.
- Kok Bapak kelihatannya seneng bener? Ada apa sih?
Lalu Soekarno menuturkan peranan RI, sambil menyebut berita ini top secret kelas A. Katanya, RI bukan cuma memberi dukungan diplomatik terhadap Aljazair, malah pernah membantu dengan menyelundupkan senapan.
- Kalau waktu itu misalnya ketahuan gimana Pak? Dunia kan geger!
+ Ya biar saja geger, aku ndak rewes (tidak peduli)... Aku tidak feeerduliii! Buat Bapak kalau urusan membantu kemerdekaan satu bangsa, hanya satu yang bisa melarang ... Tuhan! Lain tidak! Tahu kau! (Bapak melotot kepadaku sambil memukul-mukul meja dengan tinjunya) ... Ayoooo ... mau apa! PBB mau kutak-kutik? Mau tahu akan aku apakan PBB? Tahu ndaaakk?! ... PBB Bapak akan beginikan ....
Tiba-tiba dari bawah meja terdengar suara ... duuuut ... duuut ... breeettt!
- Hiih! ... Bapak kentut ya!
+ Ya! ... aku akan kentuti PBB kalau mereka berani turut campur urusan orang merebut kemerdekaanl!
Insiden granat maut
Dalam tuturan Guntur, ada peristiwa besar yang dilukiskan begitu hangat dan penuh rasa kemanusiaan. Tahun 1957 terjadi apa yang disebut Peristiwa Cikini 1957. Saat itu, maut hampir merenggut Soekarno, akibat ledakan granat. Guntur menuturkan tanpa menghujat oknum pelempar granat.
Yayasan Perguruan Cikini tempat aku bersekolah mengadakan perayaan hari ulang tahunnya. Orangtua murid diundang untuk menghadirinya, termasuk Bapakku ...
- Pak, Bapak jadi datang ke bazaar di sekolahku nggak?
+ Yo ... Insya Allah. Apa acaranya di sana?... Kau punya lukisan dipamerkan ndak?
Waktu pergi ke bazaar, Bapak mengendarai mobil kepresidenan Chrysler Crown Imperial; Indonesia 1; hadiah dari Raja Saudi Arabia: Ibnu Saud, dengan iringan konvoi kepresidenan yang terdiri dari sepeda motor polisi lalu lintas; jeep pengawal dari Corps Polisi Militer, jeep pengawal dari Detasemen Kawal Pribadi Presiden (DKP) dan mobil-mobil rombongan lainnya.
Bapak langsung melihat-lihat stand di bazaar ... Aku yang kurang tertarik pada urusan pamer memamer ... langsung ngacir mencari stand-stand yang berisi permainan ketangkasan ... Kak Ngatijo yaitu kakak pengawal yang bertugas mengawalku saat itu, benar-benar kewalahan dalam mendampingiku ... Dari atas aku melihat rombongan Bapak yang sedang bersiap-siap untuk pulang ... Ketika aku sedang menqhirup sebotol limun kudengar derum suara motor dari pengawal ... tak lama kemudian tiba-tiba kudengar ledakan yang cukup dahsyat ... Bledeeeerrrr!
Sekilas aku beriikir, akh ini tentunya suara knalpot motor dari kakak-kakak polisi ... maklum waktu itu motor-motor yang digunakan adalah Harley Davidson model "tuek"! Tetapi beberapa detik kemudian ... Bledeeerr! ... Bledeeerr! Terdengar 3-4 kali ledakan lagi.
Kemudian suasana benar-benar jadi panik dan semrawut sungsang- sumbel... setelah aku dapat menguasai lagi rasa takutku dan emosi... cepat-cepat aku melompat masuk di antara sela-sela tumpukan peti botol limun di kolong meja ...
- Kak ... saya di sini!
+ Aduuuh! Kakak can kemana-mana jebulnya di sini. Ayo Mas, cepat pulang!
- Bapak di mana Kak?
+ Belum tahu juga Mas! Tugas Kakak menyelamatkan Mas dulu ke rumah.
Aku "diseret" secepat kilat ke mobilku B-5353.
+ Ya Allah ... Hayo buruan masuk mobil, kita berangkat!
- Eh Pak Ro'i nggak apa-apa?
+ Alhamdulilah Mas! Gatotkaca mah nggak mempan pelor! ... Mas lebih baik tiduran saja di belakang ... tiarap saja dah; nggak usah lihat jalanan. Biar pak Ro'i geber ini mobil, biar larinya kayak setaaann!
Sesampainya di Istana ... aku cepat ngibrit ke kamar Bapak ... ternyata Bapak tidak ada di situ ... jangan-jangan Bapak tewas kena granat dan aku sekarang jadi anak yatim ... tiba-tiba dari kejauhan seseorang bertehak "Saiinnn ... Saiinnn ... kadieu (ke mari)"
Lho itu kan suara Bapak!
Secepat Mat aku kabur ke kamar Bapak ... di tengah jalan bertubrukan dengan Pak Saiin ... bummm! Pak Saiin yang sudah reyot itu (umurnya 70 tahunan) terkapar di lantai ...
- Bapak nggak apa-apa?
+ Alhamdulillah. Tuhan masih melindungi Bapak... Syukur. Adis gimana?
- Apa Bapak kena?
+ Ini apa (sambil menunjuk lukanya di lengan)... Tapi bukan kena granat! Kena kawat duri! Ho ho ho ... Waktu mbrobos pager rumah di depan sekolahmu, aku kecantol kawat durinya. Bapak disembunyikan oleh Kak Dijo dan Oding .... mereka melindungi Bapak dengan badannya ... Oding ternyata kena granat di pahanya ... Bapak kembali ke Istana dengan naik mobil lain, karena ternyata Chrysler yang dari Pak Ibnu Saud kena granat dan mogok.
- Bapak takut nggak?
+ Bapak pasrah terserah kehendak Tuhan ... kasihan mereka-mereka yang tak berdosa ikut jadi korban ... sudahlah, hayo Tok, Bapak musti siap-siap untuk ... pers conference ... Kapan-kapan kau tengok Kak Ngatijono, sampaikan terima kasih dari Bapak.
Kencing sembarangan
Beberapa pengalaman Guntur dari balik layar kepresidenan, amatlah menarik dan mengundang senyum. Dari beberapa judul kisah dalam buku saku ini, Soekarno tergambar sebagai manusia penuh gairah, malah kadang-kadang juga berakal nakal.
Suatu saat Bung Karno keasyikan mengorek kuku kakinya, hingga ujung jarinya terkelupas dan berdarah. Lukanya dianggap tak serius, dibiarkan saja tanpa pengobatan. Beberapa hari kemudian, luka lecet itu terasa "senut- senut" infeksi. Makin lama makin bengkak, akibatnya Bung Karno sulit berjalan normal. Langkahnya harus berjingkat-jingkat.
Yang pasti pada saat itu tidak seorang pun berani tertawa, termasuk aku sendiri!
- Pak jalannya kenapa pincang?
+ Jempolnya bengkak ... Bapak ingin segera sembuh. Kau tahu empat hari lagi, aku harus terima surat kepercayaan duta besar asing!
Pada suatu sore... Pak Adung menemui aku.
+ Mas, Pak Adung mau pinjam gunting, ada? Buat bikin lobang!
- Mangga wae (silakan saja) ... buat apa sih Pak Adung?
+ Buat ngebolongin karet ... Bapak yang suruh.
- Karet buat apa?
+ Eh ... itu Mas, sepatu tenis.
... Waktu saat penerimaan Dubes akan dimulai, aku mengintip dari kamar untuk melihat Bapak memakai sepatu kepresidenannya .... keluarlah Presiden R.I. dengan gagah dan tegapnya mengenakan kopiah hitam yang khas, jas pantalon kebesaran plus sederetan tanda-tanda jasa... tidak ketinggalan tongkat komando kepresidenan ... dan yang paling bawah ... sepatu tenis yang salah satu ujungnya bolong di mana tersembul ibu jari Bapak yang dibalut perban!
Tuturan Guntur soal bapaknya makin terasa intim dan di luar dugaan umum. Sosok Presiden Soekarno yang kharismatik sebagai proklamator dan founding father bangsa Indonesia, ternyata dalam kehidupannya sering terjadi hal-hal biasa, namun luar biasa bagi orang biasa. Sebagai contoh, siapa menduga, kalau Bung Karno yang perlente, tahu etiket dan terbiasa bergaul di kalangan- atas, ternyata berperilaku macam orang kebanyakan. Misalnya contoh yang tertulis dalam subjudul “Semak Semak Istana Merdeka”.
Waktu: 1964 - 1965. Tempat: Ruang duduk di teras belakang Istana Merdeka dan ruang duduk beranda depan kamar Bapak. Yang hadir: Bung Karno, beberapa tamu dubes-dubes asing, beberapa Menteri Kabinet ... dan aku.
... Aku sedang berada di Jakarta dalam rangka mudik dari Bandung (Guntur kuliah di Jurusan Mesin ITB - Red) … Aku duduk di korsi panjang dari rotan tempat Bapak selalu duduk baca koran. Dari situ, kita bisa melihat taman yang membentang di belakang Istana Merdeka ... Di ujung tangga terdapat serumpun semak pohon ampelas-ampelasan.... tiba-tiba dari ujung tangga kulihat Bapak turun dari beranda dan langsung masuk ke dalam semak tadi. Tak lama kemudian Bapak keluar dari dalam semak dan naik tangga pergi ke beranda lagi.
Eh, takberapa lama lagi-lagi Bapak ke dalam semak, bahkan sekarang kelihaian tergopoh-gopoh turunnya dari tangga. Selesai mandi aku segera berpakaian dan buru-buru kembali duduk di beranda depan kamar Bapak, karena ingin kulihat apakah Bapak masih saja mundar-mandir masuk semak pohon ampelas lagi. Astaga! Ternyata masih demikian, begitu aku sampai di beranda aku lihat Bapak baru saja keluar dari dalam semak dan naik tangga ... aku jadi penasaran dibuatnya!
- Pak ... aku mau tanya.
+ Ya ... soal apa?
- Aku perhatikan Bapak kok mundar-mandir saja masuk semak ... rada aneh.
+ Ho ho ... kau mau tahu? Aku kencing di situ!
- Kencinngg?
+ Yaaa. Nguyuh! Ha ha ha (Bapak terbahak dan ngeloyor ke kamar)
Bapak memilih semak daripada WC Istana yang indah, karena jarak antara beranda belakang tempat penerimaan tamu ke WC tamu yang tersedia sangat jauh, kurang lebih 40 m. Jarak ke WC kamar mandi Bapak lebih jauh lagi, kurang lebih 50 m. Jarak ke WC kamar mandi adik-adikku dari beranda lebih jauh lagi, yaitu 70 m. Jadi logis kalau yang dipilih semak-semak dekat tangga, karena jaraknya hanya 5 m saja! Ketika aku sudah kembali lagi ke Bandung, dari adikku Mega aku mendapat kabar bahwa sekarang bukan hanya Bapak saja yang mempergunakan "W.C." istimewa tadi, tapi juga para tamu dan para dubes asing!
Jarang yang tahu, kalau Soekarno juga penyayang binatang. Sebab di lingkungan istana, menurut Guntur, tak ada burung peliharaan dalam sangkar. Sedangkan ikan hias memang ada dan hidup dalam akuarium. Menurut Guntur ... ikan-ikan dalam akuarium mendapatkan pelayanan dan servis luar biasa dari Bapak. Barangkali maksud Bapak agar ikan-ikan itu "betah" tinggal di dalam rumah barunya.
Suatu hari (tertulis "antara tahun 1958-1959"), Kepala RT Istana Cipanas, Oom Burger, seorang WN Swiss menghadiahi Soekarno sepasang kambing. Guntur menulis, kalau tidak salah namanya "Si Manis" dan "Si Bandot". Makin lama, kedua kambing ini makin besar dan kurang ajar.
Si Bandot dan partner tambah-tambah saja merajalela merusak tanaman ... proyek officer dan pengasuh kambing kehabisan akal buat menjinakkan si Bandot dan si Manis, sehingga menghadaplah mereka-mereka itu tadi pada Bapak ...
- Kami boleh usul, apa Bandot dan Manis boleh kami ikat saja, agar jangan berkeliaran ke sana-kemari?
+ Ojo (jangan)!
- Lha ... kados pundi Pak? Menapa mboten becik dipun sate kemawon Pak? Sampun lemu-lemu (Apa tidak lebih baik disate saja Pak, sudah gemuk-gemuk)?
+ Gendeng kowe (Gila kamu). Mbuh carane piye pokoke ojo nganti mangani taneman!
- Sendika ... Pak.
+ Pak diikat aja kenapa sih emangnya? Daripada tanaman Bapak berantakan. Malu-maluin aja kalau ada tamu ...
- Aku tidak tega ... kasihan ... Dulu waktu Bapak disuruh angon kambing oleh eyang Kakung Almarhum, Bapak tidak pernah mengikat kambing-kambing itu. Capek-capek ya Bapak turuti ke mana kambing-kambing itu pergi ...
+ Ya kalau gitu kan Bapak nyiksa diri namanya.
- Logisnya begitulah, tapi dalam jiwa Bapak tertanam filsafat "Ta Tvam Ash" atau “Tat Twam Asi”. Pernah kau dengar filsafat itu?
+ Belum, apa artinya itu Pak?
- Gampangnya begini artinya: aku adalah engkau, engkau adalah aku atau aku adalah kamu; kamu adalah aku. Jadi, kalau aku sakiti dirimu; diri engkau; berarti aku sakiti diriku sendiri. Kalau aku buat dirimu senang berarti aku membuat diriku sendiri menjadi senang.
Nah, karena inilah aku tidak tega menyuruh ikat Bandot dan Manis sebab aku akan merasa diriku sendiri menderita karena terikat.
Untuk beberapa saat si Bandot dan Manis tidak lagi menimbulkan masalah yang serius, paling-paling hanya membuat Musli pengasuhnya lari-lari pontang-panting mencegah mereka makan atau merusak tanaman di halaman.
Persoalan timbul lagi ketika si Bandot memasuki masa dewasanya sehingga sudah mulai ingin kawin dan juga ingin mencoba ketajaman ujung tanduknya yang tumbuh kekar.
Pada saat itu si Bandot benar-benar galak bukan alang-kepalang, setiap benda ia seruduk, mobil parkir ditanduknya; pohon-pohon besar diterjangi sehingga kulit batang-batangnya terkelupas.
+ Pak ... kulo ... b... b... ade ... lapporaan ... (Pak saya mau laporan)
- Ono opo Djo? (ada apa Djo?)
+ Pot antik yang di tangga penjagaan depan pecah diseruduk si Bandot ... Pak ...
Dengan wajah merah padam Bapak melirik kepadaku dan berkata:
- Tok, kau setuju tidak kalau si Bandot kita sembelih saja buat sate??
+ Setuju sih setuju Pak … tapi ... "Tat Twam Asi"-nya gimana??
- ?!?!?! ... (sambil menarik nafas panjang) ... Heeehhh ... yo wis Djo ... Tat Twam Asi... (ya sudah Djo ... Tat Twam Asi).
+ Menopo ... Pak??? (apa ... pak??)
- Tat??!?!? ... wis gantinen wae karo pot sing liya! (Sudah, ganti saja dengan pot yang lain). Hayo .... rikat! (Hayo, cepat!)
Jendral Beledek
Masa kecil Guntur sebagai anak presiden, serta rumah tinggalnya di dalam kompleks istana, sungguh memberikan dunia tersendiri. Sehari-hari bermain dengan anak-anak karyawan istana, tak peduli anak itu putranya pengemudi, koki, ataupun pelayan istana. Begitu juga saat Guntur memasuki usia remaja, teman bermainnya bertambah dan terutama anggota DKP. Sekali waktu Guntur mengajak "kakak-kakak" (panggilan khususnya terhadap anggota DKP) main perang-perangan. Saking asyiknya, Guntur hampir saja bikin setori panjang.
Sekitar tahun 1957-1958, Guntur meminta "kakak-kakak" DKP agar menyebutnya jenderal, bukan Mas Tok. Lalu jenderal ini mengajak prajuritnya main perang-perangan. Aturannya sederhana. Barangsiapa yang ketahuan atau kelihatan, akan "didor" lebih dahulu dan harus keluar gelanggang, karena tertembak "mati". Tetapi jarak "ngedor" dan "didor" itu tak boleh kurang dari 20 m. Prajurit yang terlibat sekitar 10 anggota DKP asal kesatuan Brimob. Guntur memimpin pasukan I, sedangkan pasukan II dipimpin tentara asli.
Medan palagan ini adalah halaman, antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Tiap pasukan segera mempersiapkan dirinya, termasuk Mas Tok alias "Jendral Beledek" yang sudah mempersenjatai dirinya dengan pistol-pistolan, serta logistik buah segar tulen. Guntur pun melengkapi pasukannya dengan agen intelijen, Musli, gembala kambing istana. Perang pun dimulai, dipimpin Guntur yang mengenakan topi baja tentara.
Sementara perang lagi memanas dan asyik, tiba-tiba komandan jaga istana berlari ke arah Guntur.
+ Mas Tok! Perangnya disetop dulu Mas. Cease fire, cease fire!
- Emangnya kenapa Kak?
+ Anu Mas ... perwira piket telepon kasih tahu katanya ... dari KMKB (semacam Kodam sekarang) menanyakan di istana ada apa, kok waktu KMKB patroli, mereka melihat pasukan pengawal mengambil posisi tempur di depan Istana Merdeka! Makanya lebih baik perang-perangannya distop dulu! Nanti Jakarta bisa gawat!
- Busyeeet! Mati gua! Kaaaak, hayo perangnya bubaaar!
Waktu Bapak datang dari Bogor, aku dipanggilnya untuk ditanyai.
+ Heh ... Tok, aku dapat laporan kau bikin geger petugas keamanan Jakarta ya? ... Keadaan gawat begini ndak usah main perang-perang dulu; nanti kalau keadaan sudah normal saja ... Kau jadi jenderal ya waktu perang-perangan?
- Gitu deh.
+ Ini Bapak punya buku bagus tentang jenderal. Bacalah! Dia adalah salah satu jenderal favorit Bapak... (Kulihat ternyata buku tadi tentang seorang jenderal berdarah Indian dari U.S. Cavalery yang terkenal, yaitu William "Tacum" Tacumseh Sherman).
Sebagai anak presiden, jamak sekali kalau Guntur "berhak" merasakan fasilitas Bapaknya, tanpa berlebihan. Misalnya, Guntur terus terang mengisahkan betapa dirinya belajar "nyupir" mobil, menggunakan mobil negara dengan guru pengemudi yang digaji negara.
Sekiranya aku minta izin pun, aku toh tidak akan diizinkannya, mengingat umurku yang masih muda (12 tahun)... tetapi akibat dorongan Pak Saro'i, akhirnya aku berani-beranikan juga.
+ Mas, kalau Mas kepengen nyetir, hayolah pak Ro'i ajarin!
- Nanti kalau ketahuan, Bapak marah!
+ Kite belajarnya kalu Bapak lagi ke Bogor jangan dienye ade di sini ... wah bahaye!
- Kaki saya belon sampe buat injak pedal... saya masih kependekan buat ngeliat ke depan.
+ Itu mah gampang, ganjel pake bantal ... beres!
Sejak itu, setiap Bung Karno ke Bogor atau ke Istana Cipanas, Guntur bersekolah "nyetir" dengan, Pak Saro'i – pengemudi yang melayani terus hingga Guntur lulus SLTA. Lama kelamaan, Guntur makin jago. Pak Ro'i pun meningkatkan pelajarannya. Misalnya Guntur harus menggeber mobil Chrysler 1955, 6 silinder, B 5353 warna biru laut dengan kecepatan 50 km per jam, namun tak boleh injak rem, meski di tikungan sekalipun.
Hadian ciuman
Saat Guntur dewasa, pemuda ini mendapat mobil VW sport Karmann Ghia. Tak lama Bung Karno mendapat kabar, kalau Guntur senang ngebut. Sekali waktu, sekitar tahun 1962, Bung Karno menegur Menteri Chaerul Saleh, karena dianggap suka bersama Guntur ngebut dengan mobil keliling Jakarta.
+ Heeeh Rul Rul! Dia ini nyetir gila-gilaan lantaran kau! Begrijp je (mengerti kau)! Dikira aku tidak tahu?... Kau dan Guntur suka balap-balapan di daerah Kebayoran ... tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet, kalau melihat mobil Karmann Ghia merah kepunyaan kalian! Kau ini memang terlalu Rul! Jij itu menteriku, jadi jangan ngrosboy!
Waktu Guntur lulus SMA tahun 1962, dia memiliki permintaan "kado" yang tak masuk akal. Karena tidak berani mengucapkan langsung ke Bung Karno, Guntur lalu meminta jasa Ibu Fat agar mengutarakan maksudnya.
- Bu, sudah bilang sama Bapak apa yang aku minta? Kapan Ibu ke istana? (Ibuku saat itu sudah keluar dari istana dan tinggal di Jl. Sriwijaya Kebayoran).
+ Luso lalu (lusa lalu, dialek Bengkulu).
- Marah nggak?
+ Kalo nyo berang idaklah salah. Bujanglah yang salah, minta yang idak-idak. Hapo ... hapo kau ini Jang! (Kalau dia marah tidak salah, Bujanglah yang salah, minta yang tidak-tidak. Apa-apaan kau ini Jang!)
Guntur akhirnya memberanikan diri, menghadap bapaknya.
- Pak!
+ Heh ... kau. Selamat ya kau lulus. Berapa angkanya? Bagus apa jelek? ... Ibu sudah bicara sama Bapak perkara keinginanmu. Bapak ndak bisa kasih izin buat itu. Bagaimanapun juga kau adalah anak Presiden R.I. Mintalah yang lain ... Peraturan protokoler negara tak mengizinkan ... Bapak sudah bicara dengan Sabur dan Mangil soal ini.
Guntur yang kesal, segera mencari Letkol Sabur – ajudan Bung Karno. Mereka berdiskusi soal "hadiah" lulus SMA itu. Pembicaraan tak menemui titik akhir. Guntur yang semakin kesal, segera pergi mendekati mobilnya, seraya berteriak:
"Pokoknya saya nggak mau dikawal lagiiii!"
Rupanya Guntur dan adik-adiknya, sudah merasa bosan dikawal dan menganggap diawasi terlalu ketat. Merasa dirinya sudah lulus SMA, Guntur meminta satu hadiah .... tidak dikawal!
Meski kecewa, Guntur masih berusaha memohon hal ini ke Soekarno. Akhirnya, dia mendatangi lagi bapaknya.
- Pak, soal pengawalan itu apa masih tetap tidak boleh dihilangkan?
+ Kan Bapak sudah bilang itu tidak bisa. Mintalah hadiah yang lain! Eh, ke mana kau mau teruskan sekolahmu?
- Terserah yang mana yang menerima … Akademi Angkatan Laut sama ITB Bandung.
+ ... Semuanya bagus ... Eh kenalkan Bapak sama pacarmu, aku ingin tahu cantik ndak ... mengapa, dia minta putus? Kalian masih cinta monyet ... Huah huah huah, alasan ... kenapa kau tidak cium dia? Ho ho, kau terlalu! Kau jangan bikin malu aku!
- Ya ... Pak. Tapi gimana aku mau cium dia di depan pengawal!
+ Ya memamg saru (tidak sopan) ciuman ditonton orang. Ya sudah begini saja, Bapak kasih kau hadiah lulus ujian ... mulai bulan depan kau boleh ngeluyur tanpa pengawal! Nanti Bapak kasih tahu Sabur dan Mangil
- Terima kasih Pak ! (Sambil kabur ke luar kamar).
+ Hey ... bulan depan lapor soal cium tadi!
- Ya ... Pak!
Inspeksi tari perut
Beberapa tuturan Guntur secara khusus, memuat kejadian di luar negeri. Sebagai putra kebanggaan pemimpin bangsa, Guntur harus mematut dirinya kalau ikut ke luar negeri bahkan dia harus tahu basa-basi protokoler, hingga tata cara resepsi dan bangket kenegaraan. Meski terlatih dan terbiasa, tetap saja Guntur dan juga Megawati, paling tak tahan kalau harus menyantap makanan Eropa berupa campuran telur ikan kaviar, lengkap berikut saus dan bumbu keju.
Bung Karno selaku bapak, mengajarkan Guntur cara menghindari sajian makanan yang tidak disukai. Tiap makanan yang sudah masuk mulut, lalu berpura-pura mengunyah dan segera keluarkan lagi dan disembunyikan di balik serbet. Kalau tuan rumah lengah, serbet berisi makanan itu segera diletakkan di bawah meja.
Dari pengalamannya berkeliling dunia ikut rombongan kenegaraan, Guntur pun memiliki pengalaman selama bergaul dengan pembesar Indonesia lainnya. Termasuk bergaul dengan jenderal berjenggot lebat, Gatot Subroto.
Waktu ikut rombongan KTT Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, Guntur sempat duduk di sebelah Gatot Subroto, meski kata Guntur, Oom Gatot senangnya tidur dalam pesawat. Saat upacara penyambutan kenegaraan di bandara, Guntur yang berdiri di samping Gatot Subroto, tak sabar dan bertanya.
- Oom upacaranya kok lama sekali? ... Saya sudah pegal berdiri nih.
+ Podo (sama).
- Mau buang air kecil nih.
+ Podo!
- WC-nya di mana ya Oom?
+ Hayo cari WC umum di dekat sini. Ikut saja sama Oom!
- Oom di mana WC-nya?
+ Lha ini apa (sambil menunjuk sebuah roda pesawat yang tingginya 1,5 m, terdiri atas 2 buah ban itu).
- Nanti dilihat orang oom!
+ Mana bisa! Punyaku ketutup ban yang satu! Punyamu ketutup yang satunya ... beres to! Ayo nguyuh!
Salah satu bagian tulisan Guntur, berupa hasil obrolannya dengan Bung Karno. Saat itu antara tahun 1967-1968 di Wisma Yaso, Bung Karno mengisahkan pengalamannya bergaul dengan Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser.
+ Suatu waktu Bapak berkunjung ke Republik Persatuan Arab. Dan Airport Kairo Bapak bersama rombongan langsung pergi ke penginapan ... waktu itu Bapak betul-betul lelah ... pokoknya Bapak hari itu mau istirahat total supaya besoknya dalam pertemuan dengan Pak Nasser, Bapak benar-benar segar ... Eh tidak tahunya datang Sabur ketok-ketok kamar Bapak ... langsung dia Bapak semprot... Aku kan sudah bilang aku mau istirahat!
- Ada utusan Presiden Nasser ... Pak.
+ Dari manaaaa? Persetaaaan!
- Utusan dari Pak Nasser.
+ Tidaak ... ferrrduullii.
- Ada utusan dari Presiden Nasser ... Pak.
+ Maneh gelo! Kunaon teu ngomong ti tadi (Kamu gila, kenapa tidak omong dari tadi). Siapa utusannya? Di mana dia sekarang?
- Ini Pak, aya di pengker abdi (ada di belakang saya). Marsekal Abdul Hakim Amir ... Pak.
+ Wah Sdr. Amir maafkan keadaan saya ... maklumlah sudah mau tidur.
Marsekal Amir mengambil tempat duduk dan mulai bicara. Namun pembicaraannya terlalu santun, hanya mengatakan Nasser ingin mengajak Bung Karno berinspeksi. Bung Karno memberikan alasan, dirinya masih terlalu lelah. Lalu mengapa acara inspeksi ini mendadak, lagi pula dirinya perlu istirahat.
Marsekal Amir agak kecewa, lalu meminta kesediaan Bung Karno agar menemani Nasser inspeksi. Bung Karno pun menolak dengan halus.
- Tetapi eh soalnya adalah ...
+ Soal apa lagi?
- Soalnya Presiden kami mengundang sahabat beliau, yaitu Presiden Republik Indonesia untuk menginspeksi para penari perut di seluruh pelosok kota Kairo. Dan untuk itu kami diperintahkan menyampaikannya pada paduka Yang Mulia ...
+ Oooh ya? Ho ho ho ... Kenapa tak bilang dari tadi? Sampaikan pada Saudaraku Nasser, bahwa Soekarno dari Indonesia akan siap dalam 10 menit!.
Dari buku kecil dan terbatas cetakannya ini, Mas Tok berhasil mengajak pembaca mengenal sang bapak secara lebih dalam, meski Soekarno sudah lama meninggal dunia.
Dalam tuturan Guntur, Bung Karno benar-benar hadir sebagai bapak dan manusia Indonesia. Meski begitu, Bung Karno tetaplah Soekarno ygng senang tertawa dan bergaul dengan putra-putrinya, meski "terpaksa" berbohong sedikit, seperti tuturan Guntur dalam subjudul “Bung Karno Tarzan Indonesia”, sebagai berikut:
Rupanya ayah dan anak ini senang menonton film, terutama film Amerika Serikat. Sekali waktu (antara tahun 1957-1960), Guntur mengisahkan sebuah dialog dengan bapaknya, soal Johnny Weissmuller yang memerankan Tarzan, ternyata juga juara renang olimpiade. Guntur mengajak bapaknya berenang. Bung Karno tak menampik, namun mengelak apabila ditanya kapan dan di mana mau berenangnya.
Bung Karno selalu memberikan alasan sibuk, atau tak suka lokasi kolam renangnya. Akhirnya, Bung Karno menjanjikan Guntur dan anak-anak lainnya akan berenang sama-sama di kolam alam Tampaksiring Bali. Guntur dan Megawati sudah siap mengenakan pakaian renangnya. Bung Karno masih santai-santai!
- Celana renang Bapak sudah ada? Abis Bapak mau pake apa?
+ Pakai celana kolor saja.
Saat itu Guntur dan Mega sudah asyik berenang, Soekarno masih berkeliling kolam, melihat situasi. Terlihat Bung Karno mulai membuka pakaian ... tinggal memakai celana dalamnya.
Semua kegirangan dan berteriak-teriak. Setelah membasahi dirinya dengan air, Bung Karno dengan gaya tarzan berancang-ancang terjun dan berteriak keras-keras gaya Tarzan. Kemudian Bung Karno terjun ke kolam. Guntur dan Mega kegirangan.
+ Haaeeep ... haeeepp' ... tolong Bbbapak! Och ... och.
- Pak ... kenapa Pak?
+ Ooocch! Bapak ... och .. se ... och.... sebetulnya ... och .. Bapak .. ndak ... bisa ... berenaaaang!