Joko Anwar Gandeng Seniman Kelas Dunia untuk Bawa Teror Ghost in The Cell ke Dunia Nyata
Ulfa Lutfia Hidayati May 17, 2026 12:34 AM

Grid.ID – Sutradara Joko Anwar tidak main-main dalam mempresentasikan semesta film terbarunya, Ghost in the Cell. Lewat pameran Macabre Art Installation yang dibuka di Nirmana Falatehan, Jakarta Selatan, Joko menggandeng deretan seniman dan ilustrator papan atas Indonesia yang telah diakui di kancah internasional untuk mewujudkan teror film tersebut ke dalam bentuk instalasi nyata.

Pameran ini menjadi panggung bagi para "pahlawan di balik layar" yang selama ini membangun visual mencekam dalam film-film Joko Anwar. Nama-nama besar seperti Kang Benos, Rudy AO, dan Anwita Citria merupakan jajaran konsep artis dan ilustrator yang terlibat langsung dalam menerjemahkan pesan-pesan gelap Joko ke dalam karya rupa.

"Tiga orang ini (Kang Benos, Rudy AO, Anwita Citria) adalah ilustrator terbaik Indonesia dan sudah dikenal karyanya bukan cuma di Indonesia tapi juga di dunia," ujar Joko Anwar saat memperkenalkan para seniman di pembukaan pameran, Sabtu (16/5/2026).

Selain para ilustrator, Joko juga menghadirkan Novie, seniman special effects makeup yang bertanggung jawab menciptakan detail "luka" yang tampak nyata. Joko berseloroh bahwa Novie mampu mewujudkan luka di dunia nyata karena hatinya
sendiri penuh dengan rasa seni yang mendalam.

Tak ketinggalan, ada Aghi Naratama di sisi desain musik dan Denis Sutanto sebagai Art Director yang merancang estetika pameran tersebut.

Misi Lintas Profesi

Bagi sutradara yang sukses dengan Pengabdi Setan ini, kolaborasi dalam pameran Ghost in the Cell bukan sekadar strategi promosi film. Ia memiliki misi untuk menunjukkan bahwa industri kreatif Indonesia dihuni oleh talenta luar biasa yang terkadang luput dari sorotan publik.

"Kami ingin menjadikan proyek ini memang lintas profesi. Indonesia sangat kaya dengan talenta luar biasa yang kadang nggak tersorot karena kita terlalu banyak isu yang bikin kepala meledak setiap hari. Di antara kekacauan itu ada harapan, dan harapan itu muncul dari orang-orang pekerja keras ini," ungkapnya.

Dari Set Film ke Galeri Seni

Instalasi yang dipamerkan, seperti The Fan hingga Lady Justice, merupakan properti asli dari set film yang dikerjakan ulang (rework) untuk kebutuhan
galeri. Dengan membuang elemen-elemen set lainnya dan hanya menyisakan objek utama, pengunjung diajak untuk melihat lebih dekat detail material dan bentuk yang menjadi bagian dari storytelling.

"Setiap keputusan untuk membuat bentuk dan pemilihan material ini adalah bagian dari cara kami bersuara. Kami membawa patungnya saja ke sini supaya orang betul-betul bisa melihat detailnya secara dekat," tambah Joko.

Gratis dan Terbuka untuk Umum

Pameran yang menggabungkan elemen horor, kritik sosial, dan seni rupa tingkat tinggi ini akan berlangsung hingga 22 Mei 2026. Masyarakat dapat menikmati karya para maestro ilustrator Indonesia ini secara gratis.

Melalui kolaborasi ini, Joko Anwar berharap audiens tidak hanya sekadar menonton film, tetapi juga mengapresiasi kedalaman proses artistik dan dedikasi para seniman Indonesia yang telah membawa nama bangsa ke panggung dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.