Pernahkah detikers menyisipkan emoji saat mengirim pesan ke rekan kerja atau atasan? Hati-hati, ternyata penggunaan emoji di lingkungan kerja bisa mengubah persepsi tentang kompetensi.
Biasanya, emoji digunakan untuk menggantikan ekspresi wajah atau nada suara yang tidak terlihat dalam pesan tertulis. Kebiasaan ini ternyata cukup umum di dunia kerja.
Studi terbaru dari University of Ottawa yang terbit di Collabra: Psikologi pada 29 Januari 2026, menemukan bahwa penggunaan emoji di lingkungan kerja tidak selalu dipandang positif. Emoji justru bisa memengaruhi persepsi orang lain terhadap kompetensi dan profesionalitas penggunanya.
Para peneliti menemukan bahwa alih-alih membuat pesan terasa lebih akrab, penggunaan emoji di tempat kerja justru membuat seseorang dinilai kurang kompeten dan kurang profesional oleh rekan kerjanya.
Pesan Tanpa Emoji Terlihat Lebih Profesional
Untuk menguji dampak penggunaan emoji di tempat kerja, sebuah studi berskala kecil meminta para partisipan untuk membaca pesan instan pekerjaan yang bervariasi dalam nada bahasa serta penggunaan emojinya.
Dari eksperimen tersebut, para peneliti menemukan bahwa pesan tanpa emoji jelas menjadi pemenang. Pengirim pesan tanpa menggunakan emoji dinilai tampak lebih kompeten dan profesional di mata partisipan.
Meski demikian, kesan yang baik masih bisa ditingkatkan jika emoji bernada positif dipadukan dengan pesan teks yang netral atau positif.
Sebaliknya, peserta menilai bahwa emoji bernada negatif secara konsisten dianggap tidak pantas untuk komunikasi di tempat kerja. Kehadiran emoji negatif justru membuat pengirim terlihat kurang kompeten, terutama ketika isi pesan itu sendiri sebenarnya bernada positif atau netral.
Selain itu, para peneliti juga menemukan adanya dinamika gender yang bermain dalam eksperimen ini. Partisipan perempuan cenderung menilai pesan bernada negatif yang dikirim oleh sesama perempuan dengan lebih keras, dan menganggapnya kurang pantas dibandingkan jika pesan negatif tersebut dikirim oleh laki-laki.
"Studi ini menyoroti pentingnya berhati-hati terhadap potensi dampak emoji dalam interaksi profesional," tulis penulis utama studi, Erin L. Courtice dari School of Psychology, Faculty of Social Sciences di Universitas Ottawa (uOttawa), dikutip dari Phys.org.
Courtice menyebut emoji bukan sekadar tambahan dalam pesan teks. Kehadirannya dapat memengaruhi persepsi orang lain terhadap kompetensi dan kepantasan pengirim.
Oleh karena itu, dengan memahami nuansa penggunaan emoji, pekerja profesional diharapkan dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan komunikasi dan membangun hubungan kerja yang lebih kuat.
Pakai Emoji Sembarangan Bisa Picu Salah Tafsir
Di sisi lain, menyematkan emoji positif ternyata tidak akan melembutkan kabar buruk atau kritik. Penggunaan emoji bernada positif pada pesan negatif justru dapat menciptakan kesan tidak jujur dan tidak tulus dari sang pengirim.
Sementara itu, emoji negatif sebaiknya dihindari secara keseluruhan. Hal ini karena kemunculan emoji negatif terbukti dapat menurunkan persepsi kompetensi pengirimnya secara keseluruhan, meskipun inti pesannya sebenarnya jelas dan dipahami dengan baik.
Peneliti juga menemukan bahwa menggunakan emoji tidak selalu bermanfaat. Sebagai contoh, menambahkan emoji positif pada kalimat yang sudah positif tidak serta-merta meningkatkan persepsi kepantasan.
Nada dasar pesan teks itu sendiri rupanya jauh lebih penting. Pesan dengan sinyal emoji yang campur aduk dinilai berpotensi merusak kepercayaan profesional serta menurunkan kesediaan karyawan untuk berkolaborasi dalam proyek di masa mendatang.
Ke depannya, peneliti menyarankan agar studi selanjutnya melihat gambaran komunikasi yang lebih besar.
"Penelitian masa depan harus mempertimbangkan bagaimana fungsi emoji dalam pola komunikasi yang lebih luas, dengan memeriksa hasil seperti alur percakapan, pembangunan hubungan, resolusi konflik, dan kohesi tim dalam lingkungan tempat kerja digital," tulis Courtice.





