BANJARMASINPOST.CO.ID - Pemerintah melalui kemenag RI akan melakukan sidang isbat Minggu (17/5/2026) sore.
Sebelumnya akan dilakukan mengintip hilal untuk penentuan penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah.
Ada beberapa tahapan usai melihat hilal. Sidang isbat pun akan digelar untuk menetapkan awal bulan Zulhijah 1447 H.
Baca juga: Ratusan Hewan Kurban Masuk Jalur Laut Jelang Iduladha, DKP3 Banjarmasin Suntikkan Vaksin Cegah PMK
Baca juga: Hunian Hotel Bintang di Kalsel Turun, Hanya Mencapai 41,84 Persen
Sidang isbat merupakan salah satu mekanisme resmi yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama untuk menetapkan awal bulan-bulan penting dalam kalender Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Sidang isbat menjadi momen penting untuk menentukan kapan 1 Dzulhijjah 1447 H dimulai sekaligus menetapkan Hari Raya Idul Adha 2026.
Secara makna, 1 Dzulhijjah adalah hari pertama dalam bulan Dzulhijjah, bulan ke-12 dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.
Bulan ini dikenal sebagai salah satu periode paling mulia karena di dalamnya terdapat rangkaian ibadah besar, mulai dari ibadah haji di Tanah Suci, puasa sunnah Dzulhijjah, puasa Arafah, hingga puncaknya yaitu Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban.
Idul Adha sendiri diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah sebagai hari besar umat Islam yang menandai puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah serta momentum pengorbanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Pada tahun 2026, Kementerian Agama Republik Indonesia kembali akan melaksanakan Sidang Isbat Penetapan Awal Zulhijah 1447 H pada Ahad, 17 Mei 2026 di Jakarta.
Sidang ini juga akan menjadi dasar penentuan Hari Raya Idul Adha 1447 H yang akan dirayakan oleh umat Islam di Indonesia.
Sidang isbat dijadwalkan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, dan akan dimulai pada pukul 16.00 WIB.
Baca juga: Kondisi Terkini Sungai Amandit HSS Pasca Hujan Deras, Sempat Naik dan Keruh
Masyarakat dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini secara langsung melalui kanal resmi YouTube Kemenag RI dan Bimas Islam TV yang menyiarkan acara secara live streaming.
Rangkaian sidang isbat biasanya terdiri dari beberapa tahapan penting, yaitu:
Seluruh rangkaian ini menunjukkan bahwa penetapan awal bulan Hijriah tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melalui proses ilmiah, musyawarah, dan keterbukaan informasi kepada publik.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa sidang isbat merupakan ruang bersama yang mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat Islam, hingga pakar astronomi dan falak.
“Sidang isbat merupakan forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi dalam menetapkan awal bulan Hijriah,” ujarnya, dikutip dari kemenag.go.id.
Metode yang digunakan dalam penentuan awal Dzulhijjah terdiri dari dua pendekatan utama, yaitu:
Hisab, yaitu perhitungan astronomi untuk memprediksi posisi bulan secara matematis
Rukyat, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal di berbagai titik pemantauan
Kombinasi dua metode ini digunakan untuk memastikan keputusan yang diambil tidak hanya berbasis data teori, tetapi juga dibuktikan secara visual di lapangan.
Masyarakat dapat menyaksikan proses sidang isbat secara online.
LINK LIVE STREAMING SIDANG ISBAT 1 DZULHIJJAH DAN IDUL ADHA 2026
LINK2 LIVE STREAMING SIDANG ISBAT 1 DZULHIJJAH DAN IDUL ADHA 2026
Berdasarkan hasil hisab awal yang dibahas dalam rapat teknis Kementerian Agama, posisi hilal pada 29 Zulkaidah 1447 H telah menunjukkan potensi masuknya bulan baru sesuai kriteria MABIMS.
Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa hasil tersebut masih bersifat prediktif dan belum menjadi keputusan final.
Penetapan resmi tetap menunggu hasil rukyatul hilal dan keputusan Sidang Isbat 17 Mei 2026 sebagai dasar hukum yang berlaku di Indonesia.
Keputusan Muhammadiyah Tentang 1 Dzulhijjah dan Idul Adha 2026
Berbeda dengan pemerintah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah terlebih dahulu menetapkan awal Dzulhijjah melalui metode hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman utama dalam penentuan kalender Hijriah Muhammadiyah.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, ditetapkan bahwa:
1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026
Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026
Penetapan ini didasarkan pada analisis astronomi global, termasuk ijtimak (konjungsi bulan-matahari) yang terjadi pada 16 Mei 2026 pukul 20:01:02 UTC.
Dari hasil perhitungan, tidak ada wilayah di dunia yang memenuhi kriteria visibilitas hilal pada saat matahari terbenam di hari tersebut.
Sehingga awal bulan ditetapkan berdasarkan sistem hisab murni tanpa menunggu rukyat.
Komitmen Penetapan Awal Dzulhijjah 2026 oleh Tim Hisab Rukyat
Dalam rangka menjaga ketertiban, kepastian informasi, dan persatuan umat Islam dalam penentuan awal bulan Hijriah, Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama menegaskan sejumlah komitmen penting yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan Sidang Isbat 2026.
Komitmen ini disusun untuk memastikan bahwa proses penetapan 1 Dzulhijjah tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga dapat diterima secara luas oleh masyarakat dengan tetap menjaga suasana yang kondusif di ruang publik.
Adapun komitmen tersebut mencerminkan upaya pemerintah dalam mengelola perbedaan metode hisab dan rukyat secara bijaksana.
Sehingga tidak menimbulkan kebingungan di tengah umat.
Baca juga: Peringati HUT ke-77 ALRI Divisi IV, Wagub Kalsel Ingatkan Generasi Muda soal Sejarah
Mengutip dari laman kemenag.go.id, berikut beberapa poin penting yang menjadi kesepakatan Tim Hisab Rukyat:
Mengedepankan persatuan dan kesatuan umat Islam dalam setiap proses penetapan awal bulan Hijriah, sehingga perbedaan metode tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat.
Berpedoman pada regulasi resmi pemerintah, khususnya Peraturan Menteri Agama yang mengatur mekanisme penyelenggaraan Sidang Isbat sebagai dasar hukum penetapan awal bulan Hijriah.
Menjadikan hasil Sidang Isbat sebagai rujukan resmi dan tunggal dalam pengumuman awal Dzulhijjah kepada masyarakat luas di Indonesia.
Menjaga suasana informasi publik agar tetap kondusif, tidak menimbulkan polemik, serta mendorong penyampaian data yang akurat dan bertanggung jawab.
Memperkuat koordinasi antar lembaga, baik pemerintah, ormas Islam, maupun pakar astronomi, agar proses hisab dan rukyat berjalan lebih transparan dan terintegrasi.
(Tribunnews.com/banjarmasinpost.co.id)