Dengar Dentuman Misterius, Firasat Paman Sebelum Pratu F Tewas Ditembak, Uang 10 Ribu Jadi Kenangan
Rusaidah May 17, 2026 08:23 PM

 

POSBELITUNG.CO -- Firasat tak enak menggelayuti sang paman sebelum keponakannya, Pratu F (23) tewas saat berada di sebuah kafe di Palembang, Sumatera Selatan.

Sebelum tewas ditembak rekan sesama TNI, ternyata sang paman memiliki firasat buruk.

Ia mengaku sempat mendapatkan firasat tidak enak berupa suara dentuman misterius dari luar rumahnya pada Jumat (15/5/2026) malam sekitar pukul 20.00 WIB, beberapa jam sebelum insiden penembakan terjadi.

Hal ini diungkapkan sang paman (wak) saat ditemui di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Sabtu (16/5/2026).

"Sempat berbunyi 'duar' dari luar rumah. Saya tanya itu bunyi apa, keluarga menjawab tidak tahu. Firasat saya saat itu sudah tidak enak dan cemas," ujarnya.

Baca juga: Profil Andre Kuncoro, Ayah Josepha Alexandra ‘Ocha’ Berani Protes Juri LCC MPR RI, Profesi Mentereng

Kecemasan tersebut menjadi kenyataan saat pihak keluarga menerima kabar duka pada Sabtu subuh. 

Mendengar informasi Pratu F tewas ditembak rekan sesama TNI, ia langsung bergegas menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palembang untuk memastikan kondisi korban. 

Paman (Wak) mengungkapkan bahwa keponakannya tersebut baru sekitar empat hingga lima bulan kembali ke Palembang setelah pulang dari penugasan di Papua. 

Pratu F tewas diduga ditembak oleh rekannya sendiri, yakni Serda RN (23), ketika sedang berjoget di tempat hiburan malam di Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara, Kecamatan Ilir Barat (IB) 1, Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu (16/5/2026) dini hari.

TKP PENEMBAKAN -- Pan Head Palembang, lokasi tempat seorang anggota TNI tewas ditembak sesama TNI, Sabtu (15/5/2026) dini hari. Lokasi di gerbang nampak sepi. (Dokumentasi Istimewa)

Kejadian bermula saat F dan RN berada di lokasi tempat hiburan malam. 

Namun, saat sedang berjoget keduanya senggolan sehingga terjadi cekcok antara keduanya.

Keributan itu berlanjut menjadi aksi baku hantam. 

Dalam situasi itu, RN diduga mengeluarkan senjata api dari pinggangnya lalu menembak korban F.

F yang mengalami luka tembak sempat dibawa ke Rumah sakit Permata untuk menjalani perawatan. 

Namun, ia dinyatakan meninggal dunia pada pukul 03.30WIB.

Kapolsek Ilir Barat I, Palembang, Kompol Fauzi Saleh mengatakan, mereka mendapatkan laporan kejadian pada Sabtu (16/5/2026) dini hari.

Petugas langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP.

“Betul, ada kejadian keributan yang berujung penembakan dan menyebabkan satu orang meninggal dunia,” kata Fauzi, Sabtu.

Fauzi tak bisa memberikan keterangan secara detil lantaran kasus tersebut kini sedang ditangani oleh Denpom II/4 Palembang.

Sementara, di lokasi kejadian saat ini sedang dipenuhi oleh petugas Denpom II/4 Palembang untuk melakukan olah TKP lanjutan.  

“Untuk penanganan lebih lanjut dan detail kasus, silakan konfirmasi langsung ke Denpom,” ujarnya.

Uang Rp10 Ribu Jadi Kenangan Terakhir

 Seketika kabar itu meruntuhkan dunia keluarganya saat Faradita mendapat telepon bahwa kakak kandungnya, Pratu F (23), telah tiada. 

Sabtu (16/5/2026) seusai subuh, sekitar pukul 06.00 WIB, telepon genggam Faradita berdering.  

Baca juga: Biodata Roy Riady, Jaksa yang Tuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara Punya Rekam Jejak Gemilang

Sang tante membawa kabar buruk yang sulit dipercaya, kakak kandungnya, Pratu F (23), telah tiada. 

Lebih menyakitkan lagi, prajurit yang berdinas di Denkesyah 02.04.04 Palembang itu tewas setelah diterjang timah panas yang diduga dilepaskan oleh sesama oknum TNI.

Antara tidak percaya dan berharap kabar itu salah, Faradita bergegas melangkah menuju Rumah Sakit Bhayangkara Moh Hasan Palembang. 

Namun, sesampainya di sana, kenyataan pahit harus ia telan bulat-bulat. 

Tubuh sang kakak sudah terbujur kaku.

"Ternyata benar, kakak saya meninggal dunia dengan luka tembak di perut," tutur Faradita dengan suara bergetar saat ditemui di rumah sakit.

Kematian yang begitu mendadak dan tragis di Cafe, Resto, Bar And Live Music Panhead pada pukul 02.40 WIB dini hari itu menyisakan syok yang mendalam bagi seluruh keluarga. 

Bagi mereka, kepergian Pratu F terasa sangat tidak wajar dan menyakitkan.

Faradita mengenang, sama sekali tidak ada firasat buruk yang membayangi hari-hari mereka sebelumnya. 

Namun, ingatan Faradita langsung terbang ke momen belasan jam sebelum insiden berdarah itu terjadi.

Jumat sore, sekitar pukul 16.00 WIB, Pratu F tiba-tiba datang berkunjung ke rumah tantenya. 

Kedatangan yang tak disangka-sangka, mengingat mereka sudah cukup lama tidak bertatap muka. 

Di rumah itu, sang kakak meluangkan waktu hanya untuk sekadar mengobrol dan menanyakan kabar keluarga.

"Sudah lama tidak ketemu. Nah, kemarin sore tiba-tiba kakak main ke rumah tante nanya kabar," kenang Faradita.

Dalam pertemuan singkat yang hangat itu, Faradita sempat merengek manja dan meminta uang jajan sebesar Rp10 ribu kepada kakaknya. 

Pratu F pun memberikan uang tersebut tanpa tahu bahwa itu akan menjadi pemberian terakhirnya. 

Tak lama berselang, sang kakak pamit untuk pergi lagi sebuah pamitan yang ternyata menjadi langkah terakhirnya meninggalkan keluarga selamanya.

Baca juga: Dipicu Bersenggolan saat Joget, Detik-detik Pratu F Anggota TNI Tewas Diduga Ditembak Rekan Sendiri

Sambil menahan duka yang mendalam di lorong Rumah Sakit Bhayangkara, Faradita menyimpan satu harapan besar di tengah kabut duka yang menyelimuti keluarganya. 

Ia menuntut keadilan yang seadil-adilnya atas nyawa sang kakak yang hilang.

"Kami keluarga sangat syok dengan peristiwa ini. Kami berharap pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya," pungkas Faradita penuh harap. 

Ayah Pratu F dari Belitung Terbang ke Palembang 

Insiden maut yang menewaskan Pratu F (23), korban penembakan di Cafe, Resto, Bar And Live Music Panhead Palembang menyisakan duka bagi keluarga, terutama bagi sang ayah.

Pemuda berusia 23 tahun itu menjadi korban penembakan maut di Cafe, Resto, Bar And Live Music Panhead Palembang pada Sabtu (16/5/2026) dini hari.

Diketahui sang ayah yang sedang berada di Belitung langsung bertolak ke Palembang usai mendengar kabar kematian sang anak.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawa korban tidak terselamatkan dengan mengalami luka tembak pada perut sebelah kanan.

Ia diketahui adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan baru saja menyelesaikan tugas dinas di Papua.

Duka mendalam menyelimuti keluarga besar almarhum Pratu F (23).

Pihak keluarga mengaku sangat terpukul dan syok atas kepergian korban yang dinilai tidak wajar.

Saat ditemui di RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang, adik kandung korban, Faradita, menuturkan bahwa pihak keluarga baru mengetahui kabar duka tersebut pada pagi hari.

"Subuh, Pak, sekitar pukul 06.00 WIB. Saya ditelepon oleh tante yang mengabarkan kalau Kakak sudah meninggal dunia akibat tertembak oleh sesama oknum TNI," ujar Faradita dengan nada sedih.

Meninggalkan kabar bak petir di siang bolong tersebut, Faradita langsung bergegas menuju RS Bhayangkara Moh. Hasan untuk memastikan kebenarannya.

"Sesampainya di rumah sakit, ternyata benar kakak saya sudah meninggal dunia dengan luka tembak di bagian perut," katanya.

Baca juga: Biodata AKP Yohanes Bonar, Kasat Resnarkoba Polres Kukar Terseret Kasus Narkoba, Lulusan Akpol 2015

Faradita menambahkan, kepergian kakaknya yang mendadak akibat tindakan kekerasan ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga.

"Kakak meninggal dengan cara yang tidak wajar karena ditembak, jadi kami semua sangat syok," ungkapnya.

Ketika disinggung mengenai firasat sebelum kejadian, Faradita mengaku tidak merasakan tanda-tanda aneh.

Namun, ia mengenang pertemuan terakhir mereka pada Jumat sore sekitar pukul 16.00 WIB di rumah bibinya.

"Kami sudah agak lama tidak bertemu. Nah, kemarin sore tiba-tiba Kakak datang ke rumah Tante untuk menanyakan kabar. Saat itu, saya sempat meminta uang Rp10 ribu kepada Kakak. Setelah itu, Kakak pamit pergi lagi," kenang Faradita.

Mewakili keluarga besar, Faradita berharap agar keadilan dapat ditegakkan seadil-adilnya dalam proses hukum yang sedang berjalan di POM TNI AD.

Pihaknya meminta agar pelaku mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.

"Kami berharap pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya," tegas Faradita.

Kasus ini kini telah dilimpahkan dan berada dalam penanganan Polisi Militer TNI AD (POM AD) Palembang.

Kodam II Sriwijaya pun dijadwalkan akan menggelar pers rilis untuk memberikan keterangan resmi terkait insiden yang menewaskan pemuda 23 tahun tersebut.

Manajemen Kafe Minta Pertimbangan Police Line

Manajemen Cafe, Resto, Bar and Live Music Panhead Palembang buka suara setelah terjadi bentrokan berdarah antar-oknum prajurit TNI di lokasi usaha mereka, Sabtu (16/5/2026) dini hari.

Insiden itu menyebabkan seorang prajurit TNI, Pratu F (23), meninggal dunia setelah diduga ditembak rekannya sesama anggota TNI.

Pihak manajemen menyatakan menghormati proses hukum yang saat ini ditangani Detasemen Polisi Militer (Denpom).

Di sisi lain, manajemen Panhead juga memikirkan kelangsungan hidup para karyawan setelah lokasi usaha tersebut dipasang garis polisi atau police line.

Kuasa Hukum Panhead, Redho Junaidi SH MH, yang didampingi Andika SH MH, mengatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi mengenai kronologi rinci kejadian tersebut.

Baca juga: Rekam Jejak Irjen Helfi, Kapolda Lampung Perintah Tembak Begal di Tempat Usai Tewasnya Brigadir Arya

Menurut Redho, penjelasan resmi terkait detail peristiwa lebih tepat disampaikan oleh Denpom sebagai pihak yang menangani penyelidikan.

"Pastinya kami dari manajemen mengucapkan turut berbela sungkawa. Namun untuk kronologis yang lebih detail, pihak Denpom yang bisa menjelaskan secara prosedural," ungkap Redho saat dikonfirmasi Sripoku.com, Sabtu sore.

Redho mengatakan, manajemen kafe akan bersikap kooperatif terhadap seluruh proses hukum yang berjalan.

Pihaknya juga siap memberikan keterangan atau bantuan yang dibutuhkan penyidik untuk membuat kasus tersebut terang.

"Apapun proses hukumnya, kami hormati dan kami kedepankan proses hukum yang berjalan," tandasnya.

Meski menghormati proses hukum, manajemen Panhead tidak menampik adanya kekhawatiran setelah lokasi usaha dipasang police line.

Redho mengatakan, banyak pekerja menggantungkan penghasilan dari operasional tempat hiburan tersebut.

Menurut dia, lamanya police line terpasang sepenuhnya menjadi kewenangan penyidik. Namun, manajemen berharap ada pertimbangan terkait nasib karyawan yang terdampak penutupan area usaha.

"Seberapa lama police line terpasang di TKP itu kewenangan penyelidik. Namun di sisi lain, banyak pekerja yang menggantungkan hidup di sini, sehingga kami memohon pertimbangan terkait hal tersebut," katanya.

Redho mengatakan, manajemen Panhead akan mengevaluasi sistem pengamanan pengunjung setelah insiden tersebut.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah memperketat pemeriksaan di pintu masuk.

Ke depan, pemeriksaan pengunjung akan dilakukan berlapis untuk mencegah masuknya barang berbahaya, termasuk senjata api.

"Alat-alat pengamanan untuk masuk ke dalam Panhead pastinya akan difungsikan lebih maksimal. Kalau sebelumnya diperiksa satu kali saat masuk, ke depan akan dilakukan dua tahap pemeriksaan, baik melalui metal detector maupun X-ray agar tidak kebobolan lagi," tegas Redho.

Redho mengeklaim, selama ini operasional kafe telah berjalan sesuai standar operasional prosedur atau SOP yang berlaku. Menurut dia, insiden penembakan tersebut berada di luar kendali manajemen.

"Kejadian ini sangat tidak kami inginkan. Dari sisi safety dan prosedur keamanan sebenarnya sudah dijalankan secara maksimal," tegas Redho.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan informasi yang dihimpun sebelumnya, peristiwa penembakan terjadi di Cafe, Resto, Bar and Live Music Panhead Palembang sekitar pukul 02.30 WIB.

Suasana di sekitar lokasi kafe tampak sepi setelah insiden tersebut.

Baca juga: Profil Indri Wahyuni, Juri LCC Viral Disorot Kini Dijuluki Miss Artikulasi Hartanya Fantastis

Keributan diduga bermula dari senggolan saat berjoget yang berujung cekcok antar-oknum anggota TNI.

Cekcok itu kemudian berujung penembakan yang menyebabkan Pratu F meninggal dunia.

Korban sempat mendapatkan perawatan di RS Permata Palembang sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Kapendam II/Sriwijaya Letkol Inf Yordania membenarkan bahwa kasus tersebut masih dalam pemeriksaan.

Yordania mengatakan, pelaku penembakan telah diamankan.

"Kita tunggu sore nanti, masih dalam pemeriksaan. Pelaku sudah diamankan," ungkapnya singkat melalui pesan WhatsApp saat dikonfirmasi awak media.

Kasus ini kini masih dalam penanganan Denpom.

Manajemen Panhead menyatakan akan menghormati proses hukum sekaligus menunggu perkembangan penyelidikan dari pihak berwenang.

(TribunSumsel.com/Sripoku.com/Kompas.com/Bangkapos.com/Posbelitung.co)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.