TRIBUNTRENDS.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini menyentuh kisaran Rp17 ribu memicu berbagai tanggapan dari sejumlah kalangan.
Meski dinilai belum memberikan dampak langsung bagi masyarakat desa yang aktivitas ekonominya lebih bertumpu pada sektor lokal, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian para pengamat ekonomi.
Terlebih, nilai tukar rupiah saat ini disebut menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah.
Menanggapi hal itu, Dosen sekaligus pengamat ekonomi dari Universitas Islam Nusantara, Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, menilai anggapan tersebut memang ada benarnya dalam konteks tertentu.
Namun, ia menegaskan dampak pelemahan rupiah tetap berpotensi dirasakan masyarakat desa jika berlangsung dalam jangka panjang.
Menurutnya, walau transaksi sehari-hari masyarakat desa tidak berkaitan langsung dengan dolar AS, efek tidak langsung tetap bisa merembet hingga ke daerah.
Kenaikan harga barang yang bergantung pada impor seperti BBM, pupuk, pakan ternak, obat-obatan, hingga barang elektronik disebut menjadi ancaman nyata.
Riza menjelaskan, jika rupiah terus melemah, biaya produksi dan distribusi akan ikut meningkat sehingga memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Kondisi tersebut juga dikhawatirkan berdampak terhadap inflasi dan daya beli masyarakat, terutama bila pendapatan tidak mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga barang.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) April 2026 berada di angka 2,49 persen, sementara inflasi year to date (ytd) mencapai 1,17 persen.
Baca juga: Presiden Prabowo Minta Rakyat Tak Khawatir Kurs Dollar Naik, Selama Purbaya Senyum, Tenang Aja
Dampak kenaikan harga barang yang memiliki ketergantungan impor atau bahan baku impor akan turut dirasakan masyarakat desa.
“Seperti BBM, pupuk, pakan ternak, obat-obatan, hingga beberapa kebutuhan elektronik,” imbuhnya.
Riza mencontohkan, jika rupiah terus melemah, biaya distribusi dan produksi juga bisa meningkat, sehingga akhirnya berdampak pada harga barang di pasar tradisional maupun kebutuhan masyarakat desa.
Selain itu, kata dia, pelemahan rupiah juga dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat.
“Ketika harga kebutuhan naik tetapi pendapatan masyarakat tidak ikut meningkat, maka tekanan ekonomi akan mulai terasa secara bertahap,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat inflasi di Jabar secara year on year (yoy) April 2026 berada di level 2,49 persen, sedangkan secara year to date (ytd) April 2026 sebesar 1,17 persen.
Adapun komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi year on year April 2026 yaitu emas perhiasan sebesar 0,81 persen, daging ayam ras sebesar 0,21 persen, beras sebesar 0,17 persen, minyak goreng sebesar 0,09 persen, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.
Dikatakan Riza, semestinya pemerintah perlu diwaspadai pemerintah jika rupiah terus melemah adalah meningkatnya biaya impor, tekanan terhadap inflasi.
Baca juga: Reaksi Sejumlah Artis Terhadap Pidato Viral Presiden Prabowo, Orang Desa Tak Pakai Dollar
Sedangkan nilai ekspor dan impor Jawa Barat sama-sama mengalami penurunan pada Maret 2026.
Ekspor Jawa Barat Maret 2026 mencapai USD 2,68 miliar, angka ini turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai USD 3,32 miliar.
Secara year on year angka ekspor Maret 2026 juga alami penurunan sebesar 13,46 persen dibandingkan Maret 2025.
Diketahui, nilai ekspor Jawa Barat pada Januari-Maret 2026 tercatat sebesar 9,13 miliar dollar AS atau turun 2,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Adapun penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor sektor nonmigas.
Di sisi impor, BPS mencatat nilai impor Jawa Barat pada Maret 2026 sebesar 0,70 miliar dollar AS atau turun 19 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 0,86 miliar dollar AS.
Riza menyoroti potensi kenaikan suku bunga buntut dari rupiah melemah bisa berujung menurunnya kepercayaan investor.
Baru-baru ini, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pencoretan 18 saham Indonesia.
Hal tersebut memicu tekanan di pasar saham domestik dan membebani laju IHSG pada perdagangan.
Berdasarkan data RTI Business, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) senilai Rp1,53 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Rabu (13/5/2026).
Riza menjelaskan, bila kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu panjang, dunia usaha dipastikan tertekan di tengah depresiasi.
“Jika kondisi berlangsung lama, dunia usaha juga bisa menahan ekspansi karena biaya operasional meningkat,” kata dia.
Namun di sisi lain, tambah Riza, pelemahan rupiah sebenarnya bisa memberikan peluang bagi sektor ekspor dan pariwisata.
Hal tersebut bukan tanpa alasan, produk Indonesia menjadi negara lebih murah di pasar internasional.
Baca juga: Presiden Prabowo Minta Rakyat Tak Khawatir Kurs Dollar Naik, Selama Purbaya Senyum, Tenang Aja
Menurutnya, di tengah situasi tersebut mestinya mampu mendongkrak kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.
Di Jabar, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui pintu masuk Bandara Kertajati mengalami kebaikan signifikan sepanjang Maret 2026 sebesar 69,14 persen.
Tercatat sebanyak 274 wisman masuk ke Jawa Barat dengan didominasi oleh penduduk luar negeri sebanyak 67,88 persen.
Penduduk luar negeri merupakan WNI yang tinggal di luar negeri yang memanfaatkan libur lebaran untuk mudik ke Jawa Barat melalui Bandara Kertajati.
Sedangkan WNA yang masuk melalui Stasiun Whoosh pada Maret 2026 mencapai 7.245 kunjungan, turun 46,19 persen secara month to month, namun secara yoy naik 12,80 persen.
Selama periode Januari – Maret 2026 tercatat 38.588 kujungan WNA ke Jawa Barat menggunakan Whoosh.
Angka ini turun 10,80 persen dibandingkan periode Januari – Maret 2025, namun baik 76,58 persen dibandingkan periode yang sama 2024.
Riza menambahkan, pemerintah harus cermat menjawab tantangan saat ini, terlebih geopolitik di timur tengah turut berimbas ke sektor domestik.
“Jadi tantangannya adalah bagaimana pemerintah menjaga stabilitas ekonomi agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi tekanan berkepanjangan terhadap daya beli masyarakat,” kata Riza.
(TribunTrends.com/TribunJabar.id)