Gara-gara Rencana Jokowi Keliling Indonesia, Projo dan PSI Berselisih, Pengamat Sebut Bumerang
Musahadah May 18, 2026 10:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Gara-gara wacana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) akan turun gunung keliling Indonesia, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan organisasi relawan Projo berselisih pendapat. 

Kabar Jokowi akan keliling Indonesia itu diungkapkan Sekjen Projo, Freddy Alex Damanik. 

Dikatakan Freddy, kondisi kesehatan Jokowi saat ini sudah pulih 99 persen sehingga memungkinkannya keliling Indonesia. 

Bahkan Freddy menyebut rencana keliling Indonesia itu akan dimulai pada Juni 2026 mendatang. 

"Pak Jokowi menyampaikan beberapa hal kepada relawannya. Yang pertama kesehatannya sudah pulih 99 persen, dan rencananya bulan depan (Juni), beliau sudah akan keliling Indonesia kembali untuk menyapa masyarakat. Pak Jokowi akan didampingi relawannya ketika mengunjungi suatu daerah," ujar Freddy kepada Kompas.com, Rabu (13/5/2026).

Baca juga: Alasan Roy Suryo Santai Polisi Akan Umumkan Nasib Tersangka Kasus Ijazah Jokowi: Kita Tak Omon-omon

Kabar ini langsung ditepis Ketua DPP PSI Bestari Barus. 

Bestari menegaskan PSI yang mengatur kapan dan ke mana Jokowi akan berkeliling Indonesia, bukan relawan Projo.

Bestari pun menyinggung Projo yang sempat menyatakan kepanjangan mereka bukan 'Pro Jokowi'.

"Kita yang menyiapkan. Saya enggak tahu itu Projo, Projo apa ya? Projo kan bukannya bukan Pro Jokowi? Bukan Pro Jokowi, pada waktu itu pernah ngomong. Jadi agak membingungkan lu menanyai saya ini Projo, Projo mana? Yang sudah enggak Pro Jokowi lagi?" ujar Bestari kepada Kompas.com, Kamis (14/5/2026).

"Kalau mengenai Pak Jokowi akan ke mana, kita sedang mempersiapkan itu dari mulai rakernas itu, Rakernas PSI di Makassar. Kita mempersiapkan roadmap-nya perjalanan Pak Jokowi ini menuju pemenangan PSI 2029," sambungya.

Sebelumnya, PSI menjadikan Jokowi sebagai patron politik perjuangan mereka. Ketua DPP PSI, Bestari Barus bahkan mengungkap bahwa Jokowi telah menjadi bagian dari partai berlambang gajah itu.

"Pak Jokowi itu di PSI sudah gitu. Nah itu satu, dia akan bersama kami, dan kita sudah menetapkan beliau sebagai patron politik daripada perjuangan PSI ke depan gitu. Hanya tinggal nunggu waktu yang tepat saja, mengingat kesehatan beliau," ujar Bestari kepada Kompas.com, Kamis (14/5/2026).

Bestari kemudian mengutip pernyataan Jokowi dalam Rakernas PSI pada Januari 2026, yang menyatakan siap membantu pemenangan.

Tidak lama lagi, ia menyebut bahwa Jokowi akan membersamai PSI dalam menunaikan janjinya di bulan Januari tersebut.

"Beliau sudah sampaikan, 'saya masih kuat turun sampai ke kabupaten kota, bahkan jika dibutuhkan sampai ke kecamatan'. Itu betul-betul membangun semangat gitu loh, membakar semangat kawan-kawan semuanya untuk segera bersiap menyambut kehadiran Pak Jokowi," ujar Bestari.

"Dan semakin menjadi keyakinan publik bahwa Pak Jokowi sudah tidak di mana-mana, dan berada dengan PSI mulai bersama dengan PSI untuk pemenangan pemilu 2029 tentunya," sambung mantan politikus Partai Nasdem itu.

Pengamat Sebut Malah Akan Jadi Bumerang

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) perlu mempertimbangkan kembali terkait rencana melibatkan Jokowi dalam agenda politiknya.

Menurut Jamiluddin, langkah tersebut dinilai spekulatif bagi partai berlambang gajah itu.

"Berharap pada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI, tampaknya akan berujung pada kekecewaan. Bahkan kehadiran Jokowi ke penjuru tanah air membawa panji-panji PSI bisa jadi akan menjadi bumerang pada partai gajah tersebut," kata Jamiluddin dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

Dirinya memahami bahwa PSI membutuhkan sosok besar agar bisa lolos ke Senayan. Kendati demikian, sosok Jokowi hari ini dipandang tidak sama seperti 10 tahun lalu.

"Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya. Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya," ujar Jamiluddin.

Kehadiran Jokowi dinilai tidak dengan sendirinya dapat mendongkrak elektabilitas PSI. Bahkan tak menutup kemungkinan banyak yang antipati terhadap partai yang dipimpin Kaesang Pangarep itu.

"Karena itu, sebelum Jokowi berkeliling Indonesia membawa panji-panji PSI, sebaiknya perlu dikaji ulang plus minusnya. Jangan sampai PSI kembali gagal ke Senayan hanya karena salah menilai keperkasaan Jokowi," tegasnya.

Jokowi Effect Dipertanyakan

GUGATAN - Mantan Presiden Jokowi saat ditemui di kediaman, Jumat (30/1/2026). Jokowi kembali digugat perdata lantaran tak pernah hadir di sidang dan tak tunjukkan ijazah aslinya.
GUGATAN - Mantan Presiden Jokowi saat ditemui di kediaman, Jumat (30/1/2026). Jokowi kembali digugat perdata lantaran tak pernah hadir di sidang dan tak tunjukkan ijazah aslinya. (Tribun Solo)

Mengenai Projo dan PSI yang berselisih soal Jokowi langsung mendapat tanggapan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah. 

Dia mempertanyakan pengaruh Jokowi dalam menaikkan elektabilitas. 

Sebab, nyatanya, mantan Wali Kota Solo itu tidak cukup berhasil membawa PSI duduk di Senayan selama ini.

"Membaca jejak pengaruh Jokowi di Pemilu 2024, dan dalam catatan survei yang IPO lakukan, Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas Parpol," kata Dedi kepada Kompas.com, Jumat (15/6/2026).

Dedi menambahkan, posisi PSI bahkan berada di bawah Perindo, atau setara dengan Partai Ummat, Gelora, PKN, dan beberapa Parpol baru lainnya.

"Memang Prabowo berhasil menang di Pilpres. Tetapi catatannya bukan didominasi faktor Jokowi," ungkapnya.

Dedi menilai klaim saling berebut Jokowi akan membuat dampak pengaruh Jokowi semakin kecil.

Projo menurutnya akan tetapi menggunakan Jokowi lantaran Projo besar karena Jokowi.

"Klaim Projo bahwa mereka bukan Pro Jokowi tidak masuk akal," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.