Tribunlampung.co.id, Manado - Pricilia Tamawiwy sempat menelepon keluarganya sebelum meninggal dunia dalam kebakaran Megamall Manado.
Pricilia menelepon keluarganya saat api mulai membesar dan kepulan asap memenuhi gedung Megamall Manado, Sabtu (16/5/2026) malam.
Dalam telepon kepada keluarganya, Pricilia sudah dalam keadaan panik. Kakak korban, Garry Tamawiwy menceritakan, ketika itu Pricilia mengaku sudah sendirian di dalam gedung.
Karena rekan-rekan kerjanya lebih dahulu turun untuk menyelamatkan diri. Tak hanya itu, korban juga sempat mengirimkan titik lokasi keberadaannya kepada keluarga.
"Waktu itu saat kejadian masih sempat teleponan, dia sudah panik. Katanya dia sudah sendirian di sana, teman-teman sudah pada turun," terang Garry saat ditemui TribunManado.co.id di rumah duka di Jalan Mawar Utama V Nomor 17 Griya Paniki Indah, Kima Atas, Mapanget, Manado.
Namun tak berselang lama, asap semakin pekat dan komunikasi dengan Pricilia pun terputus. Sejak saat itu, korban tidak lagi memberikan respons.
Garry mengungkap bahwa adiknya, awalnya berpamitan berangkat kerja seperti biasa. Padahal, Pricilia sebenarnya dijadwalkan masuk kerja pada Minggu (17/5/2026).
Namun karena ingin mengikuti kegiatan gereja, ia memilih menukar jadwal kerja dan masuk pada hari Sabtu 16 Mei 2026 bertepatan dengan terjadinya kebakaran.
Meski kehilangan besar dirasakan keluarga, mereka berusaha menerima musibah tersebut dengan ikhlas.
Garry juga menyampaikan terima kasih kepada pihak Megamall, rekan kerja korban, serta masyarakat Kota Manado atas perhatian yang diberikan.
“Namanya musibah, tidak ada yang menginginkan. Tapi kami sudah ikhlas,” tuturnya.
Saat ini pihak keluarga sedang menyiapkan proses pemakaman yang direncanakan berlangsung dalam satu hingga dua hari ke depan.
Karena terdapat luka bakar pada tubuh korban, pemakaman akan segera dilakukan. “Ada luka bakar, jadi rencananya kami mau memakamkan kalau nggak besok ya Selasa,” katanya.
Jenazah Pricilia rencananya dimakamkan di Pekuburan Umum Sentosa, Talawaan, Minahasa Utara.
Pricilia meninggalkan seorang suami dan satu anak yang masih kecil. Sementara sang suami masih dalam perjalanan dari Kabupaten Kepulauan Talaud.
Asap hitam pekat masih memenuhi lantai atas Megamall Manado saat tim relawan dan petugas berupaya mengevakuasi korban kebakaran hebat yang terjadi Sabtu, 16 Mei 2026 malam.
Megamall Manado adalah pusat perbelanjaan yang berada di kawasan bisnis dan pusat perdagangan Megamas. Tepatnya di Jalan Piere Tendean Boulevard, Kelurahan Wenang Selatan, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Lokasinya berada di kawasan pesisir Boulevard yang dikenal sebagai pusat bisnis dan kuliner Kota Manado.
Jarak Megamall ke pusat Kota Manado sangat dekat, hanya sekitar 5-10 menit perjalanan kendaraan karena masih berada di kawasan inti perdagangan kota.
Sementara jarak dari Megamall menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado sekitar 14-17 kilometer, dengan waktu tempuh normal sekitar 30-40 menit tergantung kondisi lalu lintas.
Lokasi strategis ini membuat Megamall menjadi salah satu pusat perbelanjaan utama yang mudah dijangkau baik dari pusat pemerintahan maupun dari akses bandara.
Namun pada Sabtu malam sekitar 21.00 Wita, Megamall Manado terbakar.
Di tengah puing-puing dan sisa kebakaran, satu korban perempuan ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia.
Relawan Aeri Sulawesi Utara, Oktavianus, menjadi salah satu orang yang ikut langsung dalam proses evakuasi tersebut.
Ia mengatakan, sejak awal informasi yang diterima menyebutkan ada seorang perempuan yang masih berada di dalam gedung.
“Tadi tinggal evakuasi. Dari awal info yang masuk itu perempuan,” ujarnya saat diwawancarai wartawan Tribunmanado.co.id, Indri Panigoro.
Korban ditemukan di lantai atas, dua tingkat setelah area bioskop XXI, di lokasi yang dipenuhi bilik-bilik ruangan, asap tebal, dan puing-puing yang menyulitkan proses penyelamatan.
Saat tim masuk kepulan asap hitam masih sangat pekat memenuhi ruangan.
Menurut Oktavianus, medan di dalam sangat sulit dilalui karena banyak reruntuhan dan sisa material kebakaran yang berserakan.
Meski begitu, korban berhasil ditemukan dalam kondisi tubuh masih utuh, meski sudah tidak bernyawa.
“Korban ditemukan dalam kondisi masih utuh. Saya tinggal jemput dari tangga,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak terlalu memperhatikan korban selamat lainnya karena fokus utamanya saat itu adalah mengevakuasi korban perempuan tersebut.
“Untuk korban selamat lainnya saya tidak terlalu fokus, karena ada tim lain. Saya mengevakuasi yang korban perempuan,” jelasnya.
Korban disebut memiliki rambut panjang sebahu, bertubuh berisi, dan saat ditemukan masih mengenakan kemeja.
Wajah korban terlihat hitam dipenuhi kotoran akibat asap pekat, namun secara kasat mata tidak ditemukan luka fisik pada tubuhnya.
“Wajahnya hitam kotor. Saat dievakuasi saya tidak melihat ada luka,” katanya.
Saat ditemukan, posisi korban memang sudah dalam keadaan meninggal dunia.
Oktavianus juga mengaku saat naik ke lokasi kebakaran, api masih sempat terlihat bersama asap hitam yang terus mengepul. Namun saat proses pengangkatan korban dilakukan, kondisi api sudah padam.
Ia bahkan melakukan evakuasi tanpa menggunakan bantuan oksigen, hanya mengandalkan keberanian menembus asap pekat di dalam gedung.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran Megamall Manado masih belum diketahui dan masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang.
Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid mengungkapkan, kelima korban sempat terjebak di lantai atas, tepat di lokasi utama munculnya api.
Manajemen Megamas Manado juga memastikan seluruh korban merupakan pegawai internal pusat perbelanjaan tersebut.
Direksi Megamas, Amelia Tungka, menjelaskan bahwa kelima korban merupakan staf engineering yang sedang bertugas saat insiden terjadi.
“Mereka karyawan mal, staff engineering,” ujar Amelia setelah proses evakuasi selesai.
Ia mengatakan, sebelum terjebak di lantai paling atas, para korban awalnya berada di bawah dan berusaha naik untuk memadamkan api menggunakan cooling water yang berada di area atas gedung.
“Mereka awalnya di bawah, lalu ke atas berupaya memadamkan api dari cooling water kami di paling atas,” jelasnya.
Amelia mengaku sangat terpukul atas musibah tersebut karena kejadian itu menjadi duka bagi seluruh keluarga besar Megamas, baik pihak manajemen maupun para pekerja.
“Kita tidak pernah mau ada musibah seperti ini,” katanya dengan nada sedih.
Terkait operasional pusat perbelanjaan, Amelia menegaskan Megamall Manado untuk sementara belum akan dibuka kembali sampai waktu yang belum ditentukan.
“Untuk operasional kita lihat nanti, seperti apa,” pungkasnya.
Empat korban selamat tersebut, berdasarkan pernyataan kapolresta pasca evakuasi ialah:
Empat warga tersebut selamat tanpa mengalami luka bakar. Saat ini mereka menjalani perawatan di RS Bhayangkara Manado. Sementara, korban meninggal atas nama Pricilia Tamawiwy.
Korban Pricilia ditemukan meninggal di tempat. "Kami menyatakan turut berdukacita untuk korban meninggal," kata Irham.
Terkait itu, Kapolresta Manado menyatakan Megamall belum dapat beroperasi. "Sehubungan dengan peristiwa ini, status quo, menunggu hasil penyelidikan," ujarnya lagi.
Kapolresta menyatakan, penyebab kebakaran dan sumber api belum bisa dipastikan. "Kami belum bisa pastikan. Demikian juga nilai kerugiannya. Masih akan didalami," katanya lagi.
Ia memastikan, olah TKP akan dilaksanakan Minggu 17 Mei 2026. Prosedur ini akan melibatkan tim gabungan Dirkrimum dan Bidlabfor Polda Sulut dan Reskrim Polresta.
Pricilia bukanlah orang baru di tempatnya bekerja. Ia dikenal sebagai sosok yang tekun, loyal, dan penuh dedikasi.
Hal ini dibenarkan oleh sang ibu.Ia menyebut bahwa putrinya sudah menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun mengabdi di pusat perbelanjaan tersebut.
"Tahun ini Pricilia bahkan akan memasuki 10 tahun masa kerja di Megamall," ujarnya.
Hingga Minggu malam, pihak keluarga di GPI dilaporkan masih menanti kedatangan suami korban yang saat ini sedang bekerja di Kepulauan Talaud.
Jarak dan akses transportasi membuat keluarga harus menunggu kepastian tibanya sang suami sebelum mengambil keputusan lebih lanjut mengenai detail proses pemakaman.
Berdasarkan keterangan awal dari pihak keluarga, rencana prosesi pemakaman bagi almarhumah Pricilia Tamawiwy dijadwalkan akan berlangsung pada Selasa (19/5/2026).
Bagi rekan-rekannya, almarhum adalah karyawan Mega Mall yang dikenal jujur, loyal dan setia. Bahkan, di detik-detik akhir hidupnya, Pricilia Tamawiwy menunjukkan loyalitas sebagai pekerja.
Dedikasi tinggi inilah yang terus dikenang rekan-rekan almarhum dalam iman, pengharapan serta kasih. Rasa kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh sesama rekan sejawat.
Mereka tak sendiri. Amelia Tungka Direksi Megamas juga turut hadir di rumah duka. Kehadiran pimpinan tertinggi ini menjadi bukti betapa berartinya sosok Patricia.
Dalam kesempatan tersebut, Tungka mengucapkan belasungkawa, memberi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan serta membangun solidaritas dalam suasana duka.
Berdasarkan pantauan Tribunmanado melayat ke rumah duka Minggu Sore, suasana penuh haru begitu terasa.
Bangsal penuh. Sebagian besar adalah rekan rekan almarhum sesama pekerja di Mega Mall.
Meskipun cuaca kurang bersahabat, hujan yang turun deras sejak pagi tak jadi penghalang bagi pelayat untuk memberi penghormatan terakhir bagi almarhumah.
Pihak keluarga menyampaikan apresiasi mereka atas banyaknya dukungan dan doa yang mengalir.
Garry Tamawiwy saudara dari Pricilia Tamawiwy mengucapkan Terima kasih pada para pelayat yang sudah turut memangku duka. "Terima kasih pada yang sudah turut berbelasungkawa," katanya.(*)
Baca Selanjutnya Konvoi Persib Bandung Berujung 19 Kecelakaan, 13 Korban Dirawat di Rumah Sakit