Pesantren Sunan Kalijaga Surabaya Dapat Bantuan Alat Pengelolaan Sampah
Titis Jati Permata May 18, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Persoalan sampah di Jawa Timur masih menjadi pekerjaan rumah besar. 

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sekitar 45 persen sampah di Jawa Timur masih belum terkelola dengan baik.

Anggota DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. 

Masyarakat Diajak Kelola Sampah

Masyarakat pun diajak mulai mengelola sampah dari sumbernya, salah satunya dengan memilah sampah rumah tangga antara organik dan anorganik.

Menurut Cahyo, pondok pesantren memiliki posisi strategis untuk menjadi motor penggerak pengelolaan sampah. 

Baca juga: Pemkot Madiun Jalankan Gerakan Pilah Sampah dari Rumah Mulai Juni 2026

Selain memiliki jumlah penghuni besar, pesantren juga dinilai efektif membangun perubahan perilaku lingkungan di masyarakat.

Termasuk pesantren yang berada di Kota Surabaya. 

“Permasalahan sampah ini tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga masalah peradaban. Apalagi pondok ini berada di Kota Surabaya yang padat penduduk dan memiliki jumlah santri cukup banyak. Pengelolaan sampah yang baik sangat penting,” kata Cahyo dalam acara di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Surabaya, Senin (18/5/2026).

Bantuan Alat Pengelola Sampah

Karena itu, pihaknya menginisiasi pemberian bantuan alat pengolah sampah kepada Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga. 

Bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup tersebut meliputi mesin pencacah sampah organik, perangkat budidaya maggot, komposter, tempat sampah pilah, hingga tempat sampah roda.

Secara rinci, bantuan yang diberikan berupa 50 unit komposter berkapasitas 120 liter, lima set budidaya maggot lengkap dengan bak, telur black soldier fly (BSF), alat semprot, dan timba. 

Selain itu, terdapat satu unit mesin pencacah sampah organik dengan penggerak diesel 8 PK dan pisau berbahan baja, serta 50 tempat sampah roda bertutup berbahan plastik berkapasitas 240 liter.

Simpul Ekonomi Baru

Cahyo mengatakan, pengelolaan sampah tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi simpul ekonomi baru bagi masyarakat.

“Sekali lagi, sampah bisa menjadi bencana apabila dibiarkan. Tetapi bisa menjadi potensi pemberdayaan ekonomi yang luar biasa apabila diberikan teknologi, kemampuan SDM, dan semangat gotong royong,” ujar Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Jatim tersebut.

Menurut Anggota Komisi E DPRD Jatim itu, pengolahan sampah organik melalui pencacahan dan budidaya maggot dapat menghasilkan nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Cahyo berharap Pondok Pesantren Sunan Kalijaga dapat menjadi pionir gerakan pengelolaan sampah berbasis pesantren di Surabaya.

“Kami yakin Pondok Pesantren Sunan Kalijaga bisa menjadi pionir gerakan kebaikan ini untuk mendukung target zero waste tahun 2030,” kata Ketua DPC Gerindra Surabaya sekaligus legislator asal dapil Jatim 1 tersebut.

Target Pengurangan Sampah

Ketua Tim Kerja Sarana Prasarana Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur, Agus Sucahyo, mengatakan pengelolaan sampah di Jawa Timur masih menghadapi tantangan besar. 

"Kalau melihat data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, hanya sekitar 56 persen sampah yang terkelola. Sisanya masih belum terkelola,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah 70 persen sebagaimana tertuang dalam Pergub Jatim Nomor 106 Tahun 2018.

Namun di lapangan, pengelolaan sampah masih terkendala rendahnya kesadaran masyarakat.

Agus menyebut, berdasarkan studi BPS tahun 2018, tingkat ketidakpedulian lingkungan masyarakat mencapai 72 persen.

47 TPA di Jatim Kesulitan Kelola Sampah

Ia juga mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 47 TPA di Jawa Timur yang mengalami kesulitan pengelolaan akibat tingginya timbulan sampah. 

“Masih banyak masyarakat membuang sampah sembarangan, memakai plastik sekali pakai, hingga membuang sampah ke sungai. Perubahan perilaku menjadi kunci,” katanya.

Dari total produksi sampah, sekitar 60 persen sampah di Jawa Timur merupakan sampah organik yang sebenarnya bisa diolah menjadi kompos maupun pakan maggot. 
Karena itu, bantuan alat pencacah tersebut akan mendukung upaya pengolahan sampah organik. 

Pada 2026, DLH Jatim menargetkan pengembangan 25 program eko pesantren sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

“Kalau sampah organik diolah menjadi kompos, ada nilai ekonominya. Sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan kardus juga bisa dipilah dan didaur ulang. Jadi sampah bukan lagi barang buangan, tetapi sumber daya ekonomi,” ujarnya.

Persoalan Sampah Jadi Tantangan

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Surabaya, Nafi Mubarok, mengakui persoalan sampah menjadi salah satu tantangan utama di lingkungan pesantren. 

Menurutnya, tingginya aktivitas santri memicu banyak timbulan sampah, terutama sisa makanan dan bungkus plastik.

Ia menyebut, selama ini sampah dari pesantren hanya dikumpulkan lalu diangkut ke TPS maupun TPA. 

Dalam sehari, volume sampah yang dihasilkan bahkan bisa memenuhi tiga tempat sampah besar.

“Karena itu bantuan ini sangat tepat. Yang paling penting bukan hanya alatnya, tetapi juga sosialisasi dan pendampingan cara pengelolaannya,” ujarnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.