Kata Pengamat Soal Dolar Tembus Rp17.600 dan Ucapan Presiden Prabowo: Orang Desa Nggak Pakai Dolar
Pipit Maulidya May 18, 2026 06:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp17.600 per dolar AS, Presiden Prabowo Subianto mencoba menenangkan masyarakat.

Menurut Presiden Prabowo, kenaikan kurs dolar tidak perlu membuat masyarakat di tingkat pedesaan merasa panik.

Namun, ucapan singkat Presiden Prabowo tersebut langsung menyita perhatian publik dan menimbulkan pro dan kontra.

Prabowo: Kalian di Desa Enggak Pakai Dolar

Dalam pidato resminya, Presiden Prabowo menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Beliau menyinggung bahwa dampak kenaikan dolar lebih dirasakan oleh kalangan tertentu dibanding masyarakat di desa.

“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar, bener nggak? Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri,” ujar Presiden Prabowo dalam acara peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Presiden juga menyatakan kepercayaan penuh kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk menjaga stabilitas ekonomi.

“Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, nggak usah kalian khawatir itu,” tambah Presiden.

Presiden Prabowo juga mengajak rakyat untuk percaya pada kekuatan nasional.

"Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa ya, mau apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita. Percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat," sambungnya.

Menkeu Purbaya: RI Tidak Akan Seburuk Tahun ’98

Sejalan dengan optimisme Presiden, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini memiliki pondasi yang kokoh. Ia menjamin Indonesia tidak akan jatuh ke dalam lubang krisis seperti tahun 1998.

“Enggak (perlu panik). Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin,” ujar Purbaya di Gedung Kejagung.

Menkeu Purbaya menekankan bahwa selama pondasi ekonomi kuat, pemulihan bukanlah hal yang mustahil.

“Kita enggak akan sejelek kayak tahun ’98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya,” tegasnya.

BI Sebut Rupiah Undervalued dan Siapkan 7 Langkah

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, melaporkan kepada Presiden bahwa meskipun rupiah tertekan hingga Rp17.600, nilai tersebut saat ini sudah undervalued atau berada di bawah nilai semestinya.

Untuk memperkuat rupiah, BI menjalankan tujuh langkah strategis, termasuk intervensi pasar dan pengawasan ketat.

“Peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang kami lihat aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke sana,” kata Perry Warjiyo.

Kritik Pengamat: Dampak Dolar Tetap Sampai ke Desa

Meskipun Presiden Prabowo menggunakan narasi bahwa orang desa tidak memakai dolar, pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, Verdy Firmantoro, memberikan catatan penting.\

Verdy menilai pernyataan tersebut berisiko dianggap kurang berempati terhadap realitas ekonomi di lapangan.

“Padahal masyarakat desa tetap terdampak oleh penguatan dolar melalui kenaikan harga pupuk, logistik, pangan, hingga biaya produksi sehari-hari,” jelas Verdy.

Menurut Verdy, pejabat publik sebaiknya menghindari narasi yang terlalu simplistis di tengah keresahan masyarakat.

“Komunikasi pemerintah yang efektif bukan komunikasi yang sekadar mengatakan ‘semua baik-baik saja’, tetapi komunikasi yang mampu membuat publik merasa negara memahami masalah, menjelaskan situasi secara rasional, dan menunjukkan langkah konkret yang sedang dilakukan,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.