TRIBUNTRENDS.COM, KLATEN – Konferensi sepeda dunia ICHC ke-35 di Klaten sebagai bagian Klaten Cycling Internasional Festival (Klicfest) 2026 bukan sekadar forum akademik, tetapi menjadi strategi mengenalkan potensi wisata, budaya, dan ekonomi daerah kepada delegasi internasional.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan kegiatan ini dirancang sebagai pintu masuk promosi daerah. Selama delapan hari, peserta tidak hanya mengikuti konferensi.
Mereka juga diajak mengeksplorasi desa dan potensi lokal. Mulai dari Prambanan, Manisrenggo, hingga Jogonalan.
“Kegiatan bersepeda ini menjadi pintu masuk agar masyarakat dunia lebih mengenal Klaten,” katanya.
Sehari sebelum konferensi, peserta telah diajak menikmati car free day dan mengenal produk lokal. Mulai dari gerabah, batik, lurik hingga kesenian wayang.
“Dampaknya makin banyak turis-turis internasional datang ke Klaten,” ujarnya.
Hamenang menargetkan efek langsung pada ekonomi lokal. Mulai dari sektor UMKM, pariwisata hingga jasa perhotelan.
“Tentu goals kami adalah menggerakkan roda perekonomian yang berujung pada kesejahteraan warga masyarakat di Kabupaten Klaten,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Komite ICHC ke-35 Indonesia Fahmi Saimima menambahkan, antusiasme masyarakat menjadi pembeda ICHC di Klaten dibanding negara lain.
“Ini terbuka untuk masyarakat gratis dan mereka melihat ada semangat baru,” katanya.
Ia menilai kehadiran anak muda dalam konferensi menjadi sinyal positif. Bahwa generasi muda mulai menghargai ilmu pengetahuan dan isu keberlanjutan.
Di lokasi, terlihat interaksi hangat antara peserta asing dan warga lokal. Banyak delegasi tampak antusias mendokumentasikan kegiatan yang dibalut dengan budaya setempat.
“Ini adalah masa depan Indonesia,” katanya menirukan komentar Presiden ICHC.
Dengan kombinasi akademik dan wisata, Klaten memposisikan diri sebagai destinasi baru berbasis event internasional. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)