PURBAYA Sebut Nilai Rupiah Anjlok Saat Ini Tak Sama dengan Krisis 1998: Ekonomi Masih Terkendali
Tommy Simatupang May 18, 2026 11:55 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah kondisi rupiah yang lemah saat ini sama dengan situasi krisis 1998. 

Kata Purbaya, nilai tukar rupiah yang lemah terhadap dolar Amerika Serikat tidak berdampak pada situasi ekonomi Indonesia. 

Kondisi eknomi Indonesia saat ini, kata Purbaya masih terkendali.  

Purbaya menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan pasar sekaligus menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menurut dia, gejolak yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi dinamika global, termasuk ketidakpastian ekonomi dunia dan pergerakan pasar keuangan internasional.

“Kondisinya berbeda dengan 1998. Fundamental ekonomi kita sekarang jauh lebih baik dan lebih kuat,” kata Purbaya.

Baca juga: PENGAKUAN Sejumlah Siswi SMK Alami Child Grooming dari Eks Kepsek, Kini Baru Berani Speak Up

Baca juga: PROFIL Ahmad Bahar yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya Hingga Anaknya Dibawa, Penulis Buku Lulusan UGM

Ia menjelaskan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah tekanan global.

Selain itu, sektor perbankan dinilai tetap solid, cadangan devisa berada pada level yang aman, serta konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Purbaya juga meminta pelaku pasar dan investor tidak bereaksi berlebihan terhadap pelemahan rupiah maupun penurunan IHSG.

Menurut dia, fluktuasi di pasar keuangan merupakan hal yang lazim terjadi, terutama ketika kondisi global tengah mengalami ketidakpastian.

“Pemerintah tentu akan terus berupaya menjaga stabilitas dan memastikan ekonomi tetap tumbuh. Jadi investor tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya.

Dalam beberapa hari terakhir, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham memang menjadi perhatian pelaku ekonomi.

Nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam akibat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat. 

Kondisi itu turut memengaruhi arus modal asing di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, IHSG juga mengalami tekanan akibat aksi jual investor di sejumlah sektor saham unggulan.

Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut masih dalam batas yang wajar dan belum mencerminkan adanya gangguan serius terhadap perekonomian domestik.

Purbaya menambahkan, pemerintah bersama otoritas terkait akan terus menjaga koordinasi untuk mengantisipasi potensi risiko eksternal yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

Langkah itu dilakukan agar kepercayaan pasar tetap terjaga dan aktivitas ekonomi domestik dapat terus berjalan dengan baik.

Menurut dia, kekuatan konsumsi masyarakat, investasi, serta belanja pemerintah masih menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda.

Baca juga: Masjid Dongsi, 670 Tahun Mengawal Kemaslahatan Umat Islam di Beijing

Baca juga: AWAL Mula Bocah di Lubuklinggau Tertabrak Mobil Tetangga, 2 Kali Terlindas, Korban Operasi Usus

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.