TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, wacana mengenai calon pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai bermunculan. Salah satunya datang dari KH Madini Farouq atau Gus Mamak, cicit pendiri NU, yang menawarkan duet KH Mustofa Bisri dan KH Irfan Yusuf Hasyim untuk memimpin organisasi tersebut.
Usulan itu muncul dari diskusi para keturunan pendiri NU yang tergabung dalam Komite Dzurriyah Pendiri NU. Komite tersebut beranggotakan cucu, cicit, hingga keturunan para pendiri NU, termasuk dari garis keturunan KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri.
Gus Mamak sendiri merupakan pengasuh Pondok Pesantren Riyadlus Sholihien Jember. Ia adalah cicit KH Wahab Hasbullah dari jalur ibu serta cucu KH Achmad Siddiq, Rais Aam Syuriah PBNU periode 1984–1991, dari jalur ayah.
Menurut Gus Mamak, diskusi tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi NU saat ini yang dinilai mulai menjauh dari khittah organisasi.
Baca juga: Kader PKB Dukung Pandangan Cak Imin Terkait Evaluasi Menyeluruh Internal PBNU
“Kami berdiskusi, berangkat dari keprihatinan kami karena merasakan NU ini sudah melenceng dari khittahnya. Sebelum berbicara tentang sosok, kami melihat kondisi NU saat ini yang mengalami konflik, adanya dua kubu yang setelah ditelusuri ternyata karena tambang. Ini kan jadi aneh dan lucu. NU kok ngurusi tambang,” ujar Gus Mamak, Senin (18/5/2026).
Ia menegaskan bahwa NU sebagai organisasi ahlusunnah wal jamaah seharusnya membawa semangat rahmatan lil alamin, termasuk dalam menjaga lingkungan.
“Lha ini kok mau ngurusi tambang, kan tidak ramah bagi lingkungan. Wong PCNU Jember saja mengeluarkan fatwa haram untuk tambang emas di Silo,” katanya.
Baca juga: Islah PBNU di Lirboyo, Rais Aam dan Gus Yahya Sepakat Segera Gelar Muktamar ke-35 NU
Dari hasil diskusi tersebut, Gus Mamak menawarkan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus sebagai Rais Aam atau Ketua Syuriah PBNU. Sementara KH Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan diusulkan menempati posisi Katib Aam atau Ketua Tanfidziyah.
“Kami tawarkan duet Gus Mus atau KH Mustofa Bisri dan KH Irfan Yusuf Hasyim,” tuturnya.
Gus Mamak menilai Gus Mus merupakan figur ulama yang memiliki keteladanan moral dan tidak memiliki kepentingan politik praktis. Sosok budayawan dan sastrawan itu disebutnya layak memimpin PBNU karena dinilai mampu menjaga marwah organisasi.
Di sisi lain, Gus Irfan dianggap memiliki kapasitas manajerial dan jaringan luas. Selain menjabat Menteri Haji dan Umrah, ia juga merupakan cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang dinilai dekat dengan warga nahdliyin serta memiliki kemampuan diplomasi yang baik.
“Jadi Gus Mus dan Gus Irfan ini perpaduan antara ulama dan umara, juga Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadi basis terbesar NU,” tegas Gus Mamak.
Baca juga: Perpecahan PBNU Rugikan Bangsa, Said Abdullah Usulkan Solusi Islah
Selain mengusulkan calon pimpinan PBNU, Gus Mamak juga menyoroti pentingnya netralitas dalam pelaksanaan Muktamar NU 2026. Ia berharap ketua panitia muktamar berasal dari pihak yang tidak terlibat konflik internal.
“Ketua panitianya seharusnya orang yang di luar konflik yang saat ini terjadi. Carikan pihak yang netral,” pungkasnya.