Menkeu Purbaya Santai Soal Kurs Dollar Tembus Rp17.600 : Engga Apa-apa Nanti Kita Perbaiki
Dedi Qurniawan May 19, 2026 01:37 AM

POSBELITUNG.CO - Pasar keuangan domestik tengah mengalami tekanan hebat. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) dilaporkan melemah hingga menyentuh angka Rp17.600. Sentimen negatif ini juga menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut terjun bebas ke level 6.400.

Meskipun demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kondisi fluktuasi pasar ini dengan santai. Purbaya menilai bahwa pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini murni disebabkan oleh sentimen jangka pendek. Beliau optimis kondisi pasar keuangan akan segera pulih mengingat fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kokoh.

“Engga apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang fondasi ekonominya bagus itu masalah sentimen jangka pendek,” kata Purbaya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (17/5/2026), dikutip dari Tribunnews.

Purbaya menegaskan, fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat pilar-pilar ekonomi nasional agar target pertumbuhan tetap terjaga dengan baik.

“Jadi saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” lanjutnya.

Sebagai langkah konkret intervensi pasar, Purbaya menyatakan bahwa pemerintah akan mulai mengambil tindakan di pasar obligasi (bond market) demi menjaga stabilitas fiskal.

“Mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali,” tegasnya.

Melalui strategi tersebut, Menkeu berharap investor asing tidak gegabah menarik modal mereka (capital outflow) dari tanah air hanya karena kekhawatiran terhadap penurunan nilai obligasi.

“Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit,” tambahnya.

Realita Lapangan: Dolar AS Tembus Rp17.700 di Money Changer Jakarta

Memasuki perdagangan pada Senin (18/5/2026), mata uang Garuda dibuka pada level Rp17.628 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,18 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Jumat (15/5/2026) yang berada di level Rp17.597.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan angka yang lebih liar. Berdasarkan temuan reporter Tribunnews.com di sejumlah gerai penukaran mata uang (money changer) di kawasan Blok M dan Cilandak, Jakarta Selatan, nilai tukar riil dolar AS terpantau jauh lebih tinggi dari kurs acuan internasional:

  • Blok M (Kios 1): Kurs jual dolar AS menembus Rp17.750.
  • Blok M (Kios 2): Kurs jual dolar AS berada di angka Rp17.580.

Sektor Saham Merah Padam: IHSG Anjlok Lebih dari 4 Persen

Tekanan tidak hanya melanda mata uang Rupiah, performa pasar modal tanah air juga dilaporkan merosot tajam menjelang siang hari pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Hingga pukul 10.51 WIB, IHSG tercatat anjlok hingga 4,26 persen atau terpangkas 286,70 poin ke level 6.436,62 dari posisi penutupan sebelumnya di level 6.723,32.

Berikut rincian pergerakan pasar saham domestik pada paruh pertama perdagangan:

  • Rentang Pergerakan: Bergerak fluktuatif di kisaran 6.425 hingga 6.631.
  • Kondisi Emiten: Sebanyak 719 saham ambruk, hanya 71 saham yang menguat, dan 169 saham stagnan.
  • Volume & Nilai Transaksi: Melibatkan 16,12 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp9,48 triliun.


DPR Ingatkan Pemerintah Terkait Risiko Keterpurukan Ekonomi

Anjloknya indikator-indikator ekonomi ini memicu reaksi keras dari Senayan. Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah segera merumuskan langkah taktis dan strategis untuk mengatasi depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang kian mengkhawatirkan.

Puan menegaskan agar pemerintah menyiapkan skenario mitigasi jangka panjang guna mengantisipasi volatilitas mata uang ini sepanjang tahun 2026. Peringatan ini disampaikan usai menghadiri Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

“Situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk,” cetus Puan, dikutip dari kompas.tv.

Puan menambahkan, momentum penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 oleh pemerintah kepada DPR RI dalam waktu dekat harus dimanfaatkan secara optimal. Ia berharap dokumen tersebut memuat arah kebijakan fiskal yang rigid untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

“Pada sidang ke depan ini, DPR juga akan masuk dalam pembahasan KEM-PPKF yaitu APBN 2027,” pungkas Puan. “Terkait hal itu, itu juga termasuk dalam mengantisipasi APBN dan fiskal yang akan datang.”

Di akhir pernyataannya, Puan menggarisbawahi bahwa rapuhnya nilai tukar Rupiah saat ini tidak lepas dari eskalasi geopolitik global, terutama ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Atas dasar itu, ia mendesak Bank Indonesia (BI) untuk terus bersiaga memastikan agar dinamika global tidak merusak stabilitas internal perekonomian nasional. (tRIBUN jATIM)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.