Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Unit Pelaksana Teknis Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung intensif mendampingi seorang siswa kelas 5 SD yang diduga terpapar paham radikalisme melalui aktivitas game online (daring) dan interaksi di media sosial.
Kepala UPT Dinas KBPPPA Tulungagung Dwi Yanuarti, Senin, mengatakan kasus tersebut mulai terdeteksi sejak akhir 2025.
Sejak saat itu, pihaknya melakukan pendampingan psikologis secara berkala terhadap anak maupun orang tua siswa guna mencegah paparan yang lebih jauh.
“Kami menilai siswa bersangkutan memiliki potensi dan talenta di bidang digital. Tentunya harus diarahkan melalui wadah yang positif,” kata Dwi Yanuarti.
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, tidak ditemukan kecenderungan radikalisme yang kuat pada anak tersebut.
Keterlibatan anak dalam grup media sosial yang menyimpang diduga lebih dipengaruhi faktor pencarian jati diri dan kebutuhan validasi pada usia remaja.
Meski demikian, petugas tetap melakukan intervensi sejak dini karena aktivitas dalam grup tersebut diduga menjadi tahap awal proses doktrinasi.
“Sistem pendampingan kami lakukan secara berkala untuk mengevaluasi metode pemulihan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Selain pendampingan langsung, pihaknya juga membangun komunikasi intensif dengan siswa dan orang tuanya melalui pesan singkat guna memantau perkembangan kondisi psikologis siswa tersebut.
Menurut Dwi, pendekatan yang diterapkan lebih mengedepankan cara humanis dan persuasif dibanding pembatasan secara keras dengan tujuan agar anak tidak merasa tertekan maupun memberontak.
Pendekatan emosional seperti mengajak anak beraktivitas di luar rumah serta membangun komunikasi keluarga dinilai efektif membantu memulihkan rasa percaya diri siswa tersebut.
Saat ini kondisi anak disebut berangsur membaik, lebih terbuka, dan kembali aktif dalam kegiatan belajar.
Anak tersebut juga diketahui memiliki prestasi akademik yang baik serta kemampuan berbahasa Inggris.
“Perubahan perilaku ini menjadi sinyal positif bahwa proses pemulihan berjalan sesuai dengan rencana intervensi psikis yang kami siapkan,” kata Dwi menegaskan.





