Peringati Hari Museum Internasional, Menteri Fadli Zon Dorong Museum Jadi Penggerak Ekonomi Budaya
Ferdinand Waskita Suryacahya May 19, 2026 01:08 AM

TRIBUNJAKARTA — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, menegaskan bahwa museum memiliki peran strategis sebagai pusat pengetahuan, penguat identitas bangsa, sekaligus hulu ekonomi budaya. 

Hal tersebut disampaikan dalam Orasi Budaya pada peringatan Hari Museum Internasional 2026 bertema ”Museums Uniting a Divided World” atau ”Museum Menyatukan Dunia yang Terpilah” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Dalam orasinya, Menbud Fadli Zon menyampaikan bahwa museum perlu dipahami melampaui fungsi tradisional sebagai ruang penyimpanan koleksi. 

Di tengah dunia yang semakin terkoneksi namun juga semakin terfragmentasi oleh konflik, ketimpangan, polarisasi, dan disrupsi teknologi, museum berperan penting sebagai ruang publik yang mampu membangun kembali kepercayaan, mempertemukan perbedaan, dan memperkuat kohesi sosial.

“Museum adalah ruang ingatan, ruang pengetahuan, ruang kewargaan, dan ruang peradaban. Di tengah dunia yang terpilah, museum dapat menjadi salah satu ruang paling sehat untuk belajar mendengar, memahami konteks, dan menghormati perbedaan,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangan tertulis.

Menbud menegaskan bahwa tema Hari Museum Internasional 2026 memiliki resonansi kuat bagi Indonesia. 

“Museum harus dipahami sebagai bagian dari ikhtiar besar bangsa untuk merawat ingatan, menghidupkan pengetahuan, dan menegakkan fondasi sejarah bangsa,” tegas Menbud.

Landasan Utama

Menbud Fadli Zon menyampaikan empat landasan utama kebijakan permuseuman Indonesia. 

  • Pertama, museum sebagai instrumen pembentuk jati diri dan identitas bangsa.
  • Kedua, museum sebagai ruang kewargaan (civic space) yang memperkuat kohesi sosial.
  • Ketiga, museum sebagai ruang pemulihan kedaulatan budaya melalui repatriasi dan pemaknaan kembali warisan budaya.
  • Keempat, museum sebagai infrastruktur hulu dalam ekonomi budaya.

Keberhasilan Indonesia

Menbud juga menyoroti keberhasilan Indonesia dalam pemulangan 28.131 fosil dan catatan koleksi Dubois dari Belanda pada 2025, termasuk temuan awal Homo erectus, sebagai tonggak penting dalam pemulihan memori dan kedaulatan budaya Indonesia. 

Koleksi tersebut saat ini dapat dilihat dalam pameran Sejarah Awal di Museum Nasional Indonesia. 
“Ketika warisan penting ini pulang, tugas museum adalah menghidupkan kembali maknanya dan mengembalikan ke akar budayanya melalui riset, konservasi, dan interpretasi publik,” jelas Menbud.

Menbud juga menekankan pentingnya menempatkan museum sebagai hulu ekonomi budaya. 

Ia menyampaikan bahwa museum menjaga koleksi, narasi, nilai, pengetahuan, dan imajinasi yang dapat menjadi modal kultural bagi potensi ekonomi lokal, destinasi budaya, film, animasi, gim, wastra, kuliner, konten digital, serta berbagai bentuk penciptaan baru.

“Museum harus menjadi tempat di mana cultural capital dikembangkan menjadi public value dan economic value secara berkelanjutan. Tanpa institusi pengetahuan yang hidup, industri dan produk budaya akan kehilangan akar dan mudah menjadi dangkal,” ujar Menbud.

Menbud menjelaskan bahwa valorisasi museum dan situs budaya menjadi agenda penting. Valorisasi, menurutnya, bukan komersialisasi yang dangkal, melainkan upaya memberi nilai lebih luas bagi museum dan situs budaya, baik dalam aspek pengetahuan, pendidikan, narasi, akses publik, diplomasi, maupun keberlanjutan pembiayaan.

Ia juga menyoroti praktik internasional yang menunjukkan kekuatan ekonomi museum. Di Amerika Serikat, museum menopang lebih dari 726 ribu pekerjaan dan berkontribusi sekitar 50 miliar dolar AS setiap tahun bagi perekonomian nasional. 

Di Kanada, museum menghasilkan manfaat sosial tahunan mencapai 8,6 miliar dolar AS. Di Belanda, Museumkaart telah mendorong 9,6 juta kunjungan museum per tahun dengan akses ke lebih dari 500 museum dalam satu jaringan nasional.

Dalam konteks Indonesia, Menbud menegaskan bahwa pembentukan Museum dan Cagar Budaya (MCB) sebagai Badan Layanan Umum merupakan langkah strategis.

Sebagai BLU, MCB memiliki ruang untuk membangun model layanan yang lebih adaptif, mengembangkan pemanfaatan aset, memperkuat kemitraan, serta menciptakan pendapatan berkelanjutan yang dikembalikan untuk konservasi, riset, edukasi publik, kualitas layanan, dan pelindungan warisan budaya.

“Ekonomi budaya yang sehat adalah ekonomi yang sirkular; mengembalikan nilai kepada komunitas, kepada pelaku budaya, kepada regenerasi, dan kepada keberlanjutan warisan itu sendiri. Inilah yang membedakan ekonomi budaya yang berkelanjutan dari komersialisasi yang dangkal,” jelas Menbud.

Hingga April 2026, Kementerian Kebudayaan mencatat Indonesia memiliki 516 museum yang tersebar di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 373 museum (72,3 persen) telah teregistrasi, sementara 234 museum (45,3 persen) telah terstandarisasi.

Menurut Menbud, angka tersebut menjadi baseline penting bagi kebijakan permuseuman. Ke depan, agenda permuseuman Indonesia harus mencakup penguatan registrasi, standardisasi, kapasitas konservasi, tata kelola koleksi, literasi sejarah, akses publik, keamanan koleksi, riset provenance, digitalisasi, serta penguatan mutu dan dampak museum bagi publik.

“Kita ingin ekosistem permuseuman Indonesia tumbuh bukan hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam mutu, relevansi, dan dampaknya bagi masyarakat,” ujar Menbud.

Menbud juga menegaskan pentingnya menjadikan museum semakin relevan bagi generasi muda. Berdasarkan survei MCB pada 2025, lebih dari 70 persen pengunjung museum berusia di bawah 35 tahun. Kelompok terbesar, yaitu 37 persen, berada pada rentang usia 18 hingga 24 tahun.

“Tugas kita selanjutnya adalah memastikan generasi muda tidak berhenti sebagai pengunjung, melainkan tumbuh sebagai peserta aktif. Museum harus berbicara kepada realitas mereka, membuka ruang partisipasi mereka, dan memberi alasan bagi mereka untuk kembali,” ujar Menbud.

Dalam kesempatan tersebut, Menbud Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi atas peluncuran Museum Passport oleh BLU Museum dan Cagar Budaya, bersama Asosiasi Museum Indonesia, ICOM Indonesia, dan para mitra. 

Menurutnya, inisiatif ini dapat menjadi langkah inovatif untuk memperluas partisipasi budaya dan membangun kebiasaan masyarakat dalam mengunjungi museum.

“Bagi Indonesia, Museum Passport dapat menjadi langkah awal yang penting untuk memperkuat partisipasi budaya dan menjadikan kunjungan museum sebagai bagian dari lifestyle, gaya hidup berbudaya,” ujar Menbud.

Menutup orasinya, Menbud mengajak seluruh pemangku kepentingan, untuk bersama-sama memperkuat museum sebagai pilar masa depan Indonesia. 

“Mari perkuat museum yang hidup secara intelektual, cakap secara digital, berakar pada ilmu pengetahuan, terbuka bagi masyarakat, dan mampu menggerakkan ekonomi budaya sebagai ruang peradaban Indonesia,” pungkas Menbud.

BERITA TERKAIT

Baca juga: Perkuat Kemitraan Kebudayaan, Indonesia–Prancis Dorong Kolaborasi Museum dan Industri Budaya

Baca juga: Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ungkap 28.131 Koleksi Dubois Segera Tiba di Indonesia

Baca juga: Fadli Zon-Jazuli Juwaini Jadi Penasehat Forum Parlemen Asia Tenggara untuk Kemerdekaan Palestina

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.