TRIBUNWOW.COM - Dinginnya angin subuh hari menusuk kulit bak sudah menjadi teman keseharian sepasang suami istri di kaki Gunung Lawu dalam memulai ikhtiarnya mencari nafkah.
Bergegas pergi dari rumah untuk menengok urat nadi pangan yang dijadikan sebagai penyambung kehidupan.
Baju lusuh lengan panjang khusus untuk ke sawah, topi, caping dan sebotol air putih jadi perlengkapan yang saat itu dibawanya.
Tak lupa, bibit padi yang hendak di tanam dengan cekatan sudah berada dalam genggaman.
Berjalan kurang lebih beberapa meter dari rumah, keduanya menembus gelapnya awan yang masih menyelimuti kaki Gunung Lawu hampir di setiap harinya.
Sesampainya di sawah, pasangan suami istri itu saling berbagi tugas.
Sang suami aliri air ke sawah garapannya di sebelah utara yang dialiri dari hulu gunung Lawu.
Sementara tangan cekatan sang istri 'tandur' dengan sabar dan rapi di sawah sebelah selatan.
Dari pagi buta, panasnya terik matahari siang hari hingga mulai redupnya matahari di sore hari jadi waktu yang dihabiskan keduanya di sawah.
Begitu lah sepenggal kisah keseharian dari pasangan suami istri pahlawan pengawal urat nadi pangan asal Dusun Suwono, Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, Paijo dan Tukiyem.
Paijo menceritakan kisahnya berpeluh kesah menjadi seorang buruh tani selama 32 tahun.
Menurutnya, buruh tani dulu benar-benar malas ke sawah karena sulitnya pupuk dan harga jual panen yang tidak menutup.
"Masalahnya dulu ini mau bertani itu malas. Karena pupuk mahal, cari pupuk susah, harganya tidak menutup. Kerjaannya tidak bisa mencukupi keluarga. Kadang pinjam sana untuk menutup garap sawahnya," jelas Paijo kepada TribunWow.com pada Sabtu (16/5/2026).
"Dulu, saya kan garap saya enggak mau, karena pupuknya, memang garapnya sedikit. Sedikit saya pasrahkan yang punya lahan. Kalau kamu mau membelikan pupuk nanti saya yang garap. Nanti kalau dapat pupuknya saya tukar uangnya," lanjutnya.
Hingga akhirnya, Badan Urusan Logistik (Bulog) di era Presiden Prabowo ubah semua stigma buruk yang pernah terpikirkan di benak Paijo.
Bulog beri jaminan buruh tani seperti dirinya karena hasil panen bisa diputarkan menjadi uang dengan cepat.
Dari tengkulak atau penebas ke para petani selepas panen, lalu dijual kolektif ke Bulog yang akhirnya membuat roda perekonomian buruh tani seperti dirinya lebih terjamin.
Terlebih saat ini di masa pemerintahan Presiden Prabowo, pupuk lebih mudah untuk diakses para petani.
"Selama ada Bulog ini, saya lebih senang. Gara-gara harga naik sudah bisa mencukupi. Selain itu, bahan pertanian seperti pupuk-pupuknya bisa menutup kerja saya. Bisa dapat sisa laba, bisa mencukupi keluarga selama ini."
"Sekarang saya rasakan, saya sudah senang. Kalau bisa, Bulog ini ditingkatkan lagi supaya petani lebih sejahtera dan lebih senang bertani. Ya, yang saya rasakan baru mulai ada program Pak Prabowo ini, kan. Sebelumnya belum ada, petani masuk ke Bulog kan belum ada. Programnya Pak Prabowo kan ini, baru ini. ujarnya.
Sebelumnya, Paijo mengaku jika petani atau buruh tani di desanya tidak pernah berhasil karena cari pupuk susah dan mahal.
"Dulu sebelum ada program Bulog ini, petani itu rugi, tidak pernah berhasil. Pupuknya mahal, cari pupuk susah," bebernya.
Senada dengan sang suami, Tukiyem, membeberkan kondisi saat ini buruh tani yang berbeda dengan beberapa tahun terakhir.
Menurut Tukiyem, dulu, panennya dan para petani lain banyak yang kurang memuaskan.
Faktor air hujan, hama, dan sulitnya pupuk jadi sebab.
Hingga akhirnya kini, pupuk semakin mudah didapatkan para petani.
Jual hasil panen pun dirasanya lebih mudah dilakukan.
"Dulu panennya juga jelek, panenya kurang memuaskan, karena air hujan, hama, wereng dan tikus. Presiden pak Prabowo ini pupuk mudah, jual panenan juga mudah. Kemarin susah, kadang tidak cukup, kalau hasil panennya enggak baik, buat beli pupuk sehari-hari enggak cukup sampai panen lagi," ungkap Tukiyem kepada TribunWow.com, Sabtu (16/5/2026).
Dahulu, hasil panen yang didapatkan Paijo dan Tukiyem tak bisa digunakan banyak untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolah.
Setelah semuanya dipermudah, Turkiyem mengaku untuk kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah kini mulai membaik.
"Dulu kan buat apa-apa susah, sekarang buat biaya sekolah mulai membaik. Alhamdulilah anak pertama sudah sarjana sudah 13 tahun mengajar TK di Tohkuning, anak kedua sudah nikah ikut suaminya dan punya anak, ketiga lulus SMK, anaknya mau kerja di dalam negeri," pungkasnya.
Lebih lanjut, Paijo menceritakan bagaimana ikhtiarnya berjuang demi membahagiakan istri dan ketiga anaknya melalui buruh tani.
Subuh sudah berangkat, pulang jam 12 siang untuk istirahat dan kembali lagi jam 2 jadi kesehariannya di sawah.
"Biasanya habis subuh, subuh jam 12 saat dan pulang, sembahyang, habis pulang istirahat, sekitar jam 2 kembali lagi, nanti habis jam 4 pulang. Iya, bagaimana kalau sini kalau usung hujannya jam 11 atau 10, kalau hujan ya pulang," ungkap pria asli Karangpandan tersebut.
Sawah satu patok milik bapak alm. Suyadi jadi ladang nafkahnya selama 10 tahun lamanya.
"Cuma menggarap satu patok. Satu patok, dari satu pemilik yang sama. Satu patok itu 5.000 meter. Pemilik sawahnya orang sini tapi sudah meninggal namanya bapak alm. Suyadi," imbunya.
Untuk penghasilan, Paijo menceritakan jika dirinya mendapatkan Rp.10 Juta dari 1 patok sawah yang digarapnya.
Hasil Rp10 juta itu bagi hasil dari total panen yang dijual 1 patok mencapai Rp20 juta.
Nantinya, hasil Rp10 juta itu masih diputarkan Paijo untuk beli pupuk, bayar orang traktor hingga biaya tandur.
"Ini satu panen, kalau satu patok ya Rp.10 juta. Nanti dipotong modal, beli pupuk lagi, kan masih sisa sedikit. Satu patok Rp20 juta, saya Rp10 juta, itu dipotong untuk pupuk, traktor dan tandur, Rp5 juta untuk saya," beber Paijo.
Untungnya, dalam satu tahun terakhir ini, hasil dari panen langsung bisa didapatkan Paijo.
Kalau dulu, Paijo harus menunggu uang hasil panen mulai dari setengah bulan hingga satu bulan lamanya untuk didapat.
Menunggu gabahnya laku terjual baru mendapatkan uang hasil panen.
Mau tidak mau, belum adanya uang untuk kembali diputarkan di sawah buat Paijo harus berhutang untuk mendapatkan modalnya.
"Alhamdulilah dapat uang di hari H saat panen itu juga, dulu itu panen jual gabahnya belum laku belum dikasih karena uangnya sulit keluarnya dari sana, sekarang dari Bulog kan langsung keluar. Dulu itu setengah bulan, sebulan baru cair, malasnya itu dulu, mangkanya pinjam dulu," lanjut Paijo.
Sebelum akhirnya, pendapatan Paijo bisa langsung dikantongi waktu hari H setelah hasil panen yang dibeli tengkulak langsung dibeli oleh Bulog.
Sehingga, perputaran uang di sawah semakin lebih cepat didapat para buruh tani.
Adanya mekanisme itu buat petani tak merasa ribet dan susah payah untuk menjual hasil panennya.
"Bakul-bakul yang dari Karangpandan ke sini, nanti diambil bulog. Ini bakul ini kan ditebas gitu ya, dibeli. Sudah itu kan bakulnya hubungi bulog. Bulog nanti kan ambil. Ya, umpama dari petani itu 650 satu kuintalnya. Ini bakulnya itu ambil berapa gitu. Kan mudah, petani enggak ribet, enggak harus sampai ke sana-sana ya. Satu patoknya saya jual semua, yang kwintalan itu bakulnya itu," jelas bapak 3 orang anak tersebut.
Paijo membeberkan jika dirinya mendapatkan bantuan pupuk subsidi yang sangat membantunya dalam meningkatkan hasil panen.
Penyaluran subsidi pupuk itu buah sinergitas PT Pupuk Indonesia dengan Bulog.
PT Pupuk Indonesia menyalurkan pupuk bersubsidi dan hasil dari panen dibeli oleh Bulog agar dananya bisa digunakan untuk menebus pupuk bersubsidi.
Selain itu, pembelian pupuk saat ini juga lebih mudah dilakukan para buruh tani.
Mengingat, beli pupuk di mana saja saat ini boleh tanpa harus memiliki kartu tani yang sudah barang tentu tak dimiliki oleh dirinya yang bekerja sebagai buruh tani di sawah.
"Subsidi sekitar Urea Rp95.000, Phonska phonskanya itu Rp105.000. Padahal dulu Rp200.000 sampai Rp250.00 juga bisa. Yang jelas, warga Doplang, beli di Doplang, mana saja boleh," jelasnya.
Tak cuma itu saja, jika ada kekurangan uang saat transaksi, pupuk boleh dibawa pulang dulu.
"Dulu, bawa uang kalau tidak cukup, cuma kurang Rp10.000 tidak boleh dibawa. Sekarang pupuk pinjam boleh, bawa pulang dulu. Dulu beli pupuk itu susahnya minta ampun. Sampai jengkel sama yang beli pupuk, dulu beli tidak boleh karena tidak punya Kartu Tani padahal saya kan buruh bukan yang punya lahan," lanjut Paijo.
Harapan Paijo, Bulog dapat terus melanjutkan program yang bisa meningkatkan hasil panen dan pendapatan para buruh tani seperti dirinya.
"Mudah-mudahan program Bulog terus berlanjut sampai besok supaya petani itu bisa lancar tidak malas bertani, pupuk ya mudah terus," pungkasnya.
Kepala Dusun Suwono, Daryadi juga turut mengungkapkan kisah perjuangan dirinya sebagai petani selama 34 tahun.
Kepada TribunWow.com, Sabtu (16/5/2026), Daryadi menceritakan jika dirinya pernah alami 7 kali gagal panen karena dimakan oleh tikus.
Hal itu tak terlepas dari kebiasaan masyarakat di Dusun Suwono yang tak seragam saat lakukan penanaman.
"Pernah dulu 7 kali gak bisa panen, satu bahu atau dapat dua bahu bisa, habis di makan tikus suruh garap orang tidak mau. Setelah itu agak lumayan, 1998 saya mencoba nanam Lombok. Alhamdulilah itu dulu 1 kg masih Rp5 ribu sampai Rp6 ribu, sebenarnya sukses alhamdulilah, terus padi lagi. Cuma di sini itu, padi itu tidak terlalu kompak, kadang tanamnya mendahului yang dahulu di makan tikus, kalau bersamaan di makan tikus tapi kan berbeda," jelas Daryadi.
Lebih lanjut, Daryadi juga mengungkapkan terkait dengan kondisi saat ini yang serba dipermudah dalam pembelian pupuk.
Bahkan, harganya pun saat ini sudah disubsidi yang tentu saja lebih meringankan petani.
"Saat ini petani yang beli pedagang dan langsung dibayar, alhamdulilah saat ini pupuk mudah, tidak dibatasi, kalau dulu kan dibatasi 1 bahu berapa terus harganya pupuk sekarang kan menurun, urea 90 phonska 100. Blok domplang itu belinya di desa domplang, lain daerah misal ke Ngemplak gak bisa
Sampai saat ini alhamdulilah petani itu pupuk mudah, harga tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, itu jual itu 1 kg beras Rp12 ribu, kalau ada yang jual lagi Rp13 ribu atau Rp14 ribu," ujar pria berusia 62 tahun itu.
"Subsidi pupuk itu memangnya di jatah satu bahu itu berapa kwintal, jadi tidak terlalu banyak subsidinya, subsidinya berapa kwintal, urea itu bersamaan dengan organik, beri urea pasti ada organiknya, kalau sekarang urea tok tidak pakai organik, kalau bedanya dulu sama sekarang itu kalau sekarang beli pupuk lebih mudah sudah di tempat beli bisa satu titik belinya di sana, kalau urea itu 90 phonska 100, Kalau dulu itu 130 atau 140, phonska 100 berapa itu agak mahal, kalau sekarang sudah lumayan lah harganya menurun," lanjutnya.
Selain itu, menurut Daryadi, Bulog memiliki peranan sangat penting dalam roda perputaran ekonomi para petani.
"Kalau bulog itu biasanya beli beras ke selepan, satu bahu atau setengah bahu itu berapa puluh juta, ada yang ditebas Rp20 atau 25 juta, terus diselep.Biasanya dari selep itu berasnya kan lebih baik, kualitasnya ke bulog baik," ungkapnya.
Tak sekadar beli hasil panen petani, Bulog juga turut beri bantuan beras kepada masyarakat yang biasanya juga diambil dari penggilingan padi.
"Ada beras bantuan dari bulog, beras raskin biasanya masyarakat sini dapat," lanjutnya.
Untuk sawah Daryadi saat ini sudah dikelola oleh buruh tani dengan sistem bagi hasil.
Dirinya tinggal menyediakan sawah untuk digarap ioleh buruh tani dari tanam hingga panen.
"Satu bahu ada yang 7500 ribu meter persegi, ada yang 6500 ribu kalau saya 1 setengah, saya 1 hektar lebih, saya mertelu umpama 9 juta, saya 3 juta yang mengerjakan 6 juta. Saya Cuma menyediakan tanah tidak menyediakan apa-apa, kalau yang garap itu ya benih, obat dan pupuk. Kalau satu bahu itu jual 15 juta, saya 5 juta, yang garap 10 juta," pungkasnya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)