Mengawal Pangan di Tanah Pengungsian 
Oby Lewanmeru May 19, 2026 01:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Lengan Yanuarius Molo (41) menyeka keringat yang menetes di dahinya. Guratan tanah bercampur keringat membekas di wajah pria itu.

Istrinya, Yohana Kolo (40) sedang memasak di gubuk kecil yang dibangun tepat di pinggir pematang sawah itu. Asap kayu api dari tungku batu melata di atap gewang gubuk itu dan hilang disapu bayu.

Yanuarius mempercepat gerakan tangan menebar pupuk di atas lahan seluas 2 hektare. Di langit, mega berarak pelan mendekap setengah matahari. Lahan sawah tersebut digarap lagi setelah absen pada tahun sebelumnya.

Bersama istri dan 3 orang anaknya, Yanuarius berdomisili di SP2 Blok D, tepatnya di RT 018, RW 007, Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lahan sawah terletak tidak jauh dari pemukiman mereka.

Baca juga: Polsek Biboki Anleu Tahap II Perkara Dugaan Penganiayaan di Desa Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara 

Yanuarius merupakan salah satu warga yang mengungsi ke Indonesia pada tahun 1999 sejak Provinsi Timor Timur (nama wilayah ketika masih menjadi bagian dari Negara Indonesia) memisahkan diri dari Negara Indonesia. Mayoritas masyarakat yang berdomisili di wilayah itu merupakan warga transmigran dan juga warga yang mengungsi dari Timor Leste setelah memutuskan menjadi Warga Negara Indonesia. 

"Tahun ini baru selesai masa tanam, kami biasanya tanam sekitar akhir Desember atau Bulan Januari," ujarnya membuka percakapan siang itu, Sabtu, 28 Maret 2026 lalu.

Pada tahun 2024, Yanuarius memperoleh pendapatan Rp. 36.000.000 dari hasil penjualan 3 ton beras. Pada tahun 2025 ia memperoleh pendapatan Rp. 12.000.000 dari hasil penjualan sebanyak 1 ton.

Biaya yang dibutuhkan untuk mengolah lahan pertanian seluas 1 hektare minimal Rp. 15.000.000. Pada tahun 2025 lalu, Yanuarius memanen sebanyak 2, 8 ton beras di atas lahan seluas 30 are. 

Hasil Panen Dijual ke Tengkulak 

 

Sebelumnya, hasil panen petani di desa itu dijual ke tengkulak. Mirisnya, harga beras yang dijual ke tangan tengkulak berkisar Rp. 8.000 per kilogram. 

Masyarakat menjual gabah ke tengkulak dengan harga Rp. 5.000 per kilogram. Harga tersebut tidak sesuai dengan harga sebenarnya.

Harga yang mencekik ini menyebabkan petani di Desa Ponu biasa menjual kepada tengkulak yang membeli dengan harga yang cukup baik di Kota Atambua (Ibukota Kabupaten Belu) dan Kota Kefamenanu (Ibukota Kabupaten TTU). Mereka terpaksa menempuh perjalanan sejauh 36 kilometer sampai 75 kilometer untuk menjual beras dengan harga baik.

Puluhan tahun masyarakat di Desa Ponu berada dalam cengkraman tengkulak. Harga beras yang dijual sangat menyedihkan.

Hasil menjual beras tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk menggarap sawah dan panen. Fenomena ini terjadi sejak pertama kali berdomisili di desa itu.

 

Beras Dibeli Bulog Cabang Atambua 

Yanuarius Molo menyebut, petani di desa itu mulai menghirup udara segar sejak pertama kali menjual beras kepada Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (PERUM BULOG) Cabang Atambua. Selama 3 tahun terakhir mereka mulai menjual beras ke Gudang Bulog Cabang Atambua.

Beras tersebut dijual ke Gudang Bulog dengan harga Rp. 12.000 per kilogram. Harga yang jauh berbeda dengan harga yang dijual ke tangan tengkulak.

 

kunjungi mesin giling padi
PENGGILINGAN PADI - Kunjungan kerja Direktur Pengadaan Perum Bulog bersama Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah NTT dan Pemimpin Bulog Cabang Atambua dan jajaran di lokasi penggilingan padi milik Petani di Desa Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten TTU, NTT, Selasa, 5 Mei 2026

 

Ketua Kelompok Tani Benar, Agustinus Binsasi mengatakan, Kelompok Tani Benar merupakan satu-satunya kelompok tani di desa itu yang masih aktif hingga saat ini. Sebanyak 20 petani tergabung dalam Kelompok Tani Benar. Mereka bermitra dengan Bulog sejak tahun 2024.

Petani Kelompok Tani Benar memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh Bulog. Persyaratan tersebut meliputi; bulir beras harus utuh, memiliki surat izin dari desa, kecamatan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Penggunaan dosis pupuk dan pestisida untuk padi juga harus sesuai dengan standar yang ditetapkan Kementerian Pertanian. Standar penggunaan Pupuk NPK satu hektare lahan 250 kilogram, Pupuk Urea 150 kilogram untuk satu hektare lahan. 

Bulog Cabang membeli 5 ton beras milik Kelompok Tani Benar pada tahun 2024. Pada tahun 2025, Kelompok Tani Benar menjual 6 ton beras ke Bulog. Hasil panen yang baik ditunjang oleh proses perawatan yang baik juga.

Tahun 2024, kelompok tani ini memperoleh omset penjualan beras ke Bulog sebanyak Rp. 60.000.000. Sementara pada tahun 2025, omset yang diperoleh sebesar Rp. 72.000.000.

Desa Ponu Lumbung Pangan 

Kepala Desa Ponu, Oktovianus Bestias mengatakan, jumlah kepala keluarga di Desa Ponu 1.323. Sementara jumlah jiwa 5828. Mereka tersebar di 28 RT dan 9 RW.

Mayoritas masyarakat di desa itu bermata pencarian sebagai petani. Sekitar 1100 kepala keluarga merupakan petani.

Luas lahan baku sawah di Desa Ponu sebanyak 1080 hektare. Sedangkan luas lahan baku sawah secara keseluruhan di Kecamatan Biboki Anleu 2779 hektare. Lahan baku sawah merupakan lahan produktif yang sedang dikelola petani.

Satu hektare sawah biasanya memproduksi minimal 5 ton. Dengan demikian, 5400 ton padi dipanen seluruh masyarakat Desa Ponu dalam sekali masa panen.

Salah satu kesulitan menahun warga setempat adalah akses saluran irigasi belum terjawab hingga detik ini. Pada tahun 1987 pemerintah membangun saluran irigasi di wilayah Desa Ponu. Irigasi ini untuk mencukupi kebutuhan sawah seluas 386 hektare. 

Belasan tahun terakhir, debit air di saluran irigasi ini menurun drastis. Oleh karena itu, saat ini irigasi tersebut hanya mencukupi kebutuhan lahan seluas 150 hektare sawah.

 

Bulog Cabang Atambua Mengawal Ketahanan Pangan 

Tugas dan fungsi utama Bulog adalah menjaga ketahanan pangan dalam hal ini jagung dan beras. Saat ini, Bulog diberi tugas tambahan yaitu menyalurkan minyak goreng subsidi 35 persen dari seluruh kuota. Bulog 

Cabang Atambua meliputi 3 wilayah yakni Kabupaten TTU, Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka. Program unggulan Bulog sekarang yaitu menjaga ketahanan pangan. Secara khusus, Bulog menyerap semua produk dari petani seperti komoditas jagung dan beras.

"Bulog juga melakukan stabilisasi harga dalam hal ini adalah beras medium khususnya melalui program SPHP," ucap Pemimpin Cabang Bulog Atambua, Yermi Djami, Sabtu, 16 Mei 2026.

Beras dibeli dari tangan petani sesuai harga yang ditetapkan yakni Rp. 12.000 per kilogram. Kendati demikian, beras yang dibeli dari tangan petani memiliki spesifikasi tertentu. Beras tersebut harus dibeli dengan butir patah 25?n kadar air 15 % .

Sementara komoditas jagung dibeli dengan harga Rp. 6.400 per kilogram. Komoditas jagung baru mulai dibeli pada tahun 2026 ini.

Pada tahun 2025 lalu, Bulog Cabang Atambua membeli beras sebanyak 1.002 ton dari tangan petani di Kabupaten TTU, Belu dan Malaka. Sedangkan pada tahun 2026 Bulog sudah membeli sekitar 4,6 ton beras dan jagung sebanyak 55, 45 ton. 

Biasanya, Bulog menerima komoditas beras dan jagung di tangan petani maupun menerima langsung di gudang. Sementara pembayaran ditransfer langsung ke rekening petani. Para petani ini dijadikan sebagai mitra pengadaan Bulog.

Pada tahun 2026 ini, Bulog Cabang Atambua menargetkan bakal membeli 1200 ton beras dari tangan petani. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya.

Sejak tahun 2023 sampai 2025 pasokan beras di Bulog Cabang Atambua berkisar 8000 sampai 9000 ton per tahun. Program bantuan pangan pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional (BPN) biasanya disalurkan sebanyak 2000 ton dalam kurun waktu satu tahun.

 

Inovasi Digital Bulog

Dalam kurun beberapa tahun terakhir, kata Yermi, Bulog gencar melakukan inovasi melalui Program Digitalisasi. Proses digitalisasi ini yakni penjualan beras SPHP dilaksanakan melalui Aplikasi Klik SPHP.

"Jadi mitra membeli beras SPHP itu tinggal Klik SPHP diajukan dulu, lalu di transfer uangnya join di situ dan kita layani," ucap.

Tempat-tempat penjualan beras SPHP wajib menggunakan aplikasi tersebut. Agen penjual Beras SPHP wajib menggunakan titik koordinat. Hal ini bertujuan agar Badan Pangan Nasional bisa memantau lokasi penjual beras SPHP secara akurat. 

Yermi menyebut Bulog Cabang Atambua juga memiliki gudang di wilayah Kabupaten TTU. Gudang ini berlokasi di Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu.

Gudang Bulog tersebut memiliki kapasitas 500 ton sampai 700 ton. Demi mendukung program presiden, Bulog Cabang Atambua sedang berkoordinasi dengan Pemda TTU untuk dilakukan pembangunan gudang demi menampung hasil pertanian masyarakat.

Sebanyak 2 unit gudang yang sedang diajukan untuk dibangun di Kabupaten TTU. Dua unit gudang ini masing-masing memiliki kapasitas 1000 ton.

Yanuariaus Kolo
TEBAR PUPUK - Warga Desa Ponu, Yanuarius Molo saat menebar pupuk di lahan sawah miliknya, Sabtu, 28 Maret 2026 lalu.

 

Mengawal Pangan di Tanah Pengungsian 

Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan, luas lahan produktif Kabupaten Timor Tengah Utara 175.725,00 hektare namun yang diolah sekitar 26.609,00 hektare. Sementara lahan basah potensial yang telah diolah di Kabupaten TTU 14.269,00 hektare. Dengan demikian, total luas lahan produktif di Kabupaten TTU 269.679 hektare.

Falentinus menyebut pada tahun 2021 petani di Kabupaten TTU memproduksi sebanyak 32.014, 85 ton padi sawah, 9.527,96 ton padi ladang dan 43.324,58 ton jagung. Angka ini meningkat pada tahun 2022 dimana masyarakat Kabupaten TTU memproduksi sebanyak 39.979,94 ton padi sawah, 822,48 ton padi ladang dan 44.545,70 ton jagung.

Sementara itu, pada tahun 2023 produksi padi sawah mengalami penurunan yakni 29.812,30 ton, padi ladang sebanyak 6.620,27 ton dan 37.232,0 ton. Penurunan produksi ini disebabkan oleh cuaca yang kurang menentu.

Pada tahun 2024, produksi ini meningkat signifikan yakni 51.380, 78 ton padi sawah, 15.938,37 ton padi ladang dan 66.573,02 ton jagung.

Pada tahun 2025 Pemkab TTU melaksanakan intensifikasi dengan menyalurkan benih dan pupuk untuk 810 hektare sawah dan 3.456 hektare di seluruh wilayah Kabupaten TTU. Alokasi tersebut bersumber dari APBN Negara Indonesia.

Menurutnya, kehadiran Bulog telah memberikan dampak positif bagi kelangsungan hidup petani di Kabupaten TTU. Perum Bulog telah menjadi asa pamungkas bagi petani dengan mewujudkan swasembada dan mengawal ketahanan pangan di Tanah Pengungsian. (bbr)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.