IHSG Ambruk ke Level 6.723, Pasar Dipenuhi Tekanan Asing dan Ketidakpastian Global 
Wiwit Purwanto May 19, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA – Pasar saham domestik menghadapi tekanan berat sepanjang pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot ke level 6.723 di tengah derasnya arus keluar dana asing dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak rebalancing indeks MSCI.

Tekanan pasar kali ini tidak semata dipicu faktor fundamental emiten, melainkan lebih banyak dipengaruhi reposisi portofolio investor global menjelang perubahan komposisi indeks MSCI Global Standard Index.

“Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” kata Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Senin (18/5/2026).

Menurut Imam, investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi sebelum effective date rebalancing pada akhir Mei. Kondisi itu memicu gelombang passive outflow yang cukup agresif di pasar domestik.

Situasi semakin berat karena pasar global juga masih dibayangi kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat. Inflasi AS yang bertahan tinggi membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali mundur.

Baca juga: IHSG Tertekan Suku Bunga The Fed, IPOT Rekomendasikan 4 Aset Ini

"Situasi ini membuat Dollar AS terus menguat dan menekan mata uang emerging markets, termasuk Rupiah yang sempat menyentuh level terlemah baru di Rp17.520 per dolar AS," jelas Imam.

Di saat bersamaan, konflik geopolitik di Timur Tengah dan gangguan distribusi energi akibat krisis Selat Hormuz turut mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$105 per barel.

“Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” ujar Imam.

Rotasi Sektor dan Pergerakan Dana Asing

Meski IHSG bergerak melemah, pergerakan sektoral menunjukkan adanya rotasi yang cukup menarik. Sektor energi menjadi salah satu yang paling terpukul akibat keluarnya sejumlah saham besar dari MSCI, terutama DSSA dan BREN yang diperkirakan menghadapi passive outflow bernilai triliunan rupiah.

Namun tekanan pada sektor tersebut dinilai lebih dipengaruhi faktor teknikal dibanding penurunan fundamental komoditas.

Sebaliknya, sektor transportasi justru tampil lebih kuat setelah saham ELPI melonjak signifikan usai aksi divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu.

“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” terangnya.

Di pasar komoditas, harga minyak dunia masih bergerak naik akibat kekhawatiran undersupply global. Batu bara juga tetap solid seiring meningkatnya konsumsi energi berbasis coal di Asia.

Baca juga: IHSG Diprediksi Bergerak Mixed, Saham Ini Direkomendasikan IPOT

Sementara itu, harga emas mulai mengalami profit taking setelah peluang penurunan suku bunga The Fed dinilai semakin kecil. Adapun koreksi harga nikel lebih dipengaruhi aksi ambil untung dan tingginya inventori global.

Di dalam negeri, keputusan pemerintah menunda kenaikan royalti minerba menjadi sentimen positif bagi emiten tambang dan operator smelter karena mampu menjaga margin keuntungan di tengah gejolak pasar global.

Imam menambahkan, arus dana asing selama pekan lalu menunjukkan investor global sebenarnya belum sepenuhnya meninggalkan pasar Indonesia.

Foreign sell sebesar Rp3,21 triliun lebih banyak terkonsentrasi pada saham-saham yang terkena dampak MSCI deletion dan sektor perbankan besar. Sebaliknya, saham defensif seperti ADRO, TLKM, dan INKP justru masih mencatatkan inflow asing.

"Ini menunjukkan bahwa strategi “flight to quality” mulai mendominasi perilaku investor asing di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya volatilitas pasar domestik," papar Imam.

IPOT Prediksi Volatilitas Pasar Masih Tinggi

Untuk perdagangan pekan ini hingga Jumat (22/5/2026), perhatian pasar diperkirakan masih tertuju pada implementasi MSCI Rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026.

Volatilitas diprediksi tetap tinggi, terutama saat sesi closing auction yang menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.

Meski demikian, peluang rotasi dana asing masih terbuka pada sejumlah saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks, seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR.

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi kenaikan status Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI yang berpotensi membuka peluang aliran dana baru ke pasar emerging markets, termasuk Indonesia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.