Jejak Sunyi di Garis Polisi, Kisah 18 Tahun Aipda Ferry Noviardy Mengurai Misteri Kematian
Ardhina Trisila Sakti May 19, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Garis polisi berwarna kuning cerah, selalu menjadi batas antara dunia luar yang bising dan keheningan sebuah tempat kejadian perkara (TKP).

Bagi sebagian besar orang, garis itu adalah tanda bahaya untuk menjauh. Namun bagi Aipda Ferry Noviardy, batas kuning itulah ruang kerjanya selama hampir dua dekade terakhir.

​Sebagai seorang personel Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System), tugasnya adalah mendengarkan apa yang tidak bisa lagi diucapkan oleh para korban kejahatan.

Berbekal serbuk penabur sidik jari, kamera, dan ketelitian tingkat tinggi, ia mengurai benang kusut misteri kematian.

Mengabdi selama 18 tahun di unit Identifikasi bukanlah perkara mudah. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah dinas Bangka Belitung pada tahun 2004 setelah lulus pendidikan kepolisian.

Aipda Ferry Noviardy, personel Polres Bangka beberapa kali menerima penghargaan,
Aipda Ferry Noviardy, personel Polres Bangka beberapa kali menerima penghargaan, (Dok istimewa)

Pria kelahiran Palembang, 5 November 1984, ini telah kenyang memakan asam garam dunia forensik kepolisian.

​Sempat naik pangkat menjadi Briptu pada Oktober 2008, perjalanan kariernya sempat bergeser ke unit penyidik pada tahun 2015.

Namun, panggilan jiwa membawanya kembali ke dunia identifikasi , sebuah bidang yang menurutnya tidak bisa dijalani tanpa modal keikhlasan yang besar.

​"Inafis ini harus kuat dan berdasar ikhlas. Karena kalau dari segi materi, ya berat. Ikhlas-ikhlas doa dari orang banyak, paling itu saja," kata Aipda Ferry kepada Bangkapos.com, Selasa (19/5/2026).

​Kerja keras yang sunyi itu bukan tanpa apresiasi, fokusnya yang mendalam sejak kembali ke dunia identifikasi pada tahun 2015 berbuah manis tiga tahun kemudian.

Melalui seleksi ketat sebanyak dua kali, baik di tingkat Polda maupun nasional, Aipda Ferry terpilih sebagai salah satu personel berprestasi yang dikirim ke Jepang pada tahun 2018 untuk mengikuti pelatihan kerja forensik internasional.

Tak hanya itu, dedikasinya juga diganjar penghargaan resmi berturut-turut pada tahun 2022, 2024, dan yang terbaru di tahun 2026.

Bagi ayah dua anak ini, kepuasan tertinggi seorang petugas Inafis bukan terletak pada pujian, melainkan pada saat selembar identitas berhasil terungkap dari jasad yang tak lagi dikenali.

​Ia mengenang salah satu kasus paling tragis dan berkesan yang pernah ditanganinya pada tahun 2017 lalu, pembunuhan sadis ibu dan anak di daerah Rebo, Kecamatan Sungailiat.

Kedua korban dimasukkan ke dalam karung, lalu ditenggelamkan ke dalam kolong (danau bekas tambang timah).
​Orang awam sering kali mengira proses identifikasi sidik jari berjalan instan layaknya di film-film detektif.

Realitas di lapangan jauh dari kata mudah. Sidik jari laten yang diangkat dari TKP sering kali membutuhkan waktu panjang untuk dicocokkan.

​"Kadang kemarin itu sampai dua bulan kami olah, baru keluar identitasnya. Di situlah memang harus ekstra, harus teliti, dan harus rajin," kenangnya.

​Ketelitian ini tidak boleh goyah sedikit pun, bahkan hingga proses akhir. Aipda  Ferry menceritakan betapa krusialnya proses cross-check berulang kali menggunakan alat IPS sebelum peti jenazah ditutup dan ditempeli nama korban.

Baginya, memastikan jenazah yang dipulangkan ke pihak keluarga adalah orang yang tepat merupakan bentuk penghormatan terakhir yang mutlak bagi korban dan keluarganya.

Bisikan "Terima Kasih" di Batas Magrib

​Akrab dengan kematian dan TKP berdarah membuat Aipda Ferry tak luput dari pengalaman spiritual yang menguji batas nalar manusia.

Kejadian itu membekas kuat di ingatannya, sesaat setelah proses evakuasi panjang kasus pembunuhan ibu dan anak di Rebuk selesai dilakukan.

​Melihat jasad anak kecil yang dikeluarkan dari dalam karung menyisakan kesedihan mendalam di hatinya. Sore itu, ketika adzan Magrib berkumandang, suasana TKP perlahan menggelap dan sunyi. 

Aipda Ferry duduk menyendiri, menyalakan sebatang rokok, sembari menunggu adzan selesai. Di momen peralihan siang dan malam itulah, sebuah peristiwa aneh terjadi.

"Mungkin karena momen pas anaknya dibuka dari karung itu sedih. Di situ momen mungkin antara sadar dan tidak sadar, tahu-tahu ada yang datang. Penampilannya bagus, kita tidak kenal," cerita Ferry.

Sosok misterius yang datang di keremangan Magrib itu tidak berniat meneror. Dengan gestur yang tenang, sosok itu mendekat hanya untuk menyampaikan sebaris kalimat.

​"Cuma sempat menyampaikan, 'Terima kasih sudah diangkat, sudah layak tadi dikuburkan'. Habis itu hilang," ungkapnya.

Pengalaman itu menguatkan nasihat yang selalu ia dengar dari para senior terdahulu di kepolisian, jangan pernah mengajak mengobrol jasad atau korban di TKP.

Sebab, terkadang mereka yang berpulang secara mendadak belum menyadari bahwa mereka telah tiada. Jika direspons, mereka bisa terus "mengikuti".

​Kini di usianya yang menginjak 41 tahun, Aipda tetap berdiri teguh di garis depan pengungkapan perkara.

Baginya, setiap sidik jari yang ia periksa dan setiap TKP yang ia datangi adalah ruang ibadah untuk memberikan keadilan bagi mereka yang sudah tidak lagi bisa membela dirinya sendiri. 

(Bangkapos.com/Adi Saputra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.