TRIBUNNEWSDEPOK.COM, LABUAN BAJO – Pesona Labuan Bajo tidak hanya memikat para wisatawan, namun juga menjadi saksi sejarah bagi jaringan kemanusiaan Gereja Katolik sedunia.
Pada 18 Mei 2026, Katedral Roh Kudus, Labuan Bajo, menjadi pusat perayaan syukur atas 75 tahun dedikasi global Caritas Internationalis sekaligus 20 tahun kiprah Caritas Indonesia.
Misa Syukur berskala internasional ini dipimpin langsung oleh Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi, SVD, bersama puluhan petinggi Gereja dari berbagai belahan dunia.
Di hadapan 33 delegasi Representative Council (RepCo) lintas negara dan ribuan umat, Kardinal Kikuchi merefleksikan makna mendalam di balik nama "Caritas".
Mengambil inspirasi dari ensiklik Paus Benediktus XVI, Deus Caritas Est, ia menekankan bahwa misi lembaga ini berakar dari perjumpaan personal dengan Tuhan.
"Caritas’ tidak hanya berarti kasih, tetapi juga kasih kepada Tuhan, dan Paus Benediktus menekankan bahwa Tuhan adalah Kasih,” ujar Kardinal Kikuchi dalam siaran pers yang diterima TribunnewsDepok.com, Selasa (19/5/2026).
Misi tersebut mewujud dalam aksi nyata memperjuangkan martabat manusia, merawat mereka yang rentan, dan mendengarkan keluh kesah masyarakat yang terlupakan.
“Misi kita adalah mewujudkan dunia yang adil, yang akan diubah untuk mencerminkan kerajaan Allah, di mana semua orang di rumah kita bersama mengalami kasih, belas kasihan, dan kehidupan yang penuh,” ujar Kardinal Kikuchi.
Menurutnya, aksi amal Caritas telah menjadikan Gereja hadir secara nyata di tengah krisis—mendampingi pengungsi, merawat anak-anak, hingga mendukung petani lokal.
“Di banyak tempat di mana para pekerja Caritas kami bekerja, Gereja menjadi lebih dari sekadar lembaga keagamaan, Gereja menjadi sumber harapan, stabilitas, dan martabat. Melalui pekerjaan ini, kita bertemu dengan orang-orang, kita membangun hubungan antar-manusia, dan kita menciptakan harapan berdasarkan kasih Tuhan,” ucap Kardinal Kikuchi.
Namun, Kardinal Kikuchi juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan rasa kemanusiaan dengan profesionalisme kerja.
“Pendampingan membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran. Pendampingan membutuhkan kemanusiaan dan dilakukan secara profesional. Pelayanan kita harus kompeten, terorganisir, dan efektif. Namun, pelayanan itu juga harus sangat manusiawi, berakar pada belas kasihan dan kasih kepada Tuhan," tuturnya.
Dua Dekade Jejak Kemanusiaan Caritas Indonesia
Bersamaan dengan perayaan global ini, Caritas Indonesia (Yayasan Karina KWI) juga mensyukuri 20 tahun kehadirannya di tanah air.
Sejak berdiri pasca-tsunami Aceh 2004 hingga bencana alam di tahun-tahun berikutnya, Caritas Indonesia telah menjadi tulang punggung pelayanan gereja.
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, merasa bangga Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah perayaan bersejarah ini. Ia berharap momen ini mengobarkan semangat solidaritas untuk kaum miskin.
“Paus Fransiskus pernah berpesan, melayani orang miskin adalah anugerah Istimewa, karena tidak semua memiliki kesempatan untuk menjalankan pelayanan ini,” ujarnya.
Aksi Nyata Rawat Bumi Bersama Petani Datak
Perayaan ini tak melulu soal seremonial di dalam gedung gereja. Sebelum Misa, para delegasi internasional turun langsung menemui komunitas petani binaan Caritas di Paroki Gereja Santa Teresia Kalkuta, Datak.
Mereka meninjau Program HARVEST, sebuah inisiatif pertanian organik mandiri. Di sini, masyarakat dilatih memproduksi pupuk organik dan pestisida alami.
"Ini merupakan sebuah perwujudan pesan ekologi integral dari ensiklik Laudato Si yang diserukan Paus Fransiskus untuk mendengar jeritan bumi dan jeritan kaum miskin," papar Mgr. Antonius.
Apresiasi dari Tuan Rumah
Dipilihnya Labuan Bajo sebagai lokasi perayaan memberikan kebanggaan tersendiri bagi Keuskupan Labuan Bajo maupun pemerintah daerah setempat.
Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menyambut hangat kedatangan para delegasi mancanegara.
“Sebagai Keuskupan baru, ini adalah kepercayaan dan dukungan bagi kami. Kami menyambut baik semua tamu terutama Presiden Caritas Internationalis yang hadir langsung," kata Mgr. Maksimus.
Dia berharap pertemuan ini membawa manfaat jangka panjang, terutama dalam kolaborasi berkelanjutan untuk solidaritas kemanusiaan dan merawat bumi.
"Kami berharap para peserta dapat menikmati atmosfer Keuskupan Labuan Bajo sebagai salah satu pusat keindahan pariwisata,” bebernya.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, juga menaruh harapan besar terhadap sinergi ini.
“Saya berharap agar kolaborasi antara Gereja dan pemerintah semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucap Edistasius Endi.
Sebagai informasi, Caritas Internationalis adalah konfederasi karya kemanusiaan resmi Gereja Katolik yang berpusat di Vatikan. Resmi dibentuk pada 12 Desember 1951, kini melayani di lebih dari 200 negara/teritori di seluruh dunia.
Sementara Caritas Indonesia didirikan pada 17 Mei 2006 dan saat ini hadir serta melayani di 38 keuskupan di seluruh Indonesia.
Foto 1: Panen bersama sayuran organik di Paroki St. Teresia Datak, Manggarai Barat yang dilakukan kelompok tani dampingan Caritas Labuan Bajo. (Dok. Caritas Indonesia)
Foto 2: Foto 3: Penyambutan Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Kikuchi SVD beserta delegasi di Paroki St. Teresia Datak, Manggarai Barat. (Dok. Caritas Indonesia)