Ekonom Senior Kuliti Sisi Lemah Kopdes Merah Putih Gegara Produk yang Dijual Mirip Minimarket
jonisetiawan May 20, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah kini mulai menuai sorotan.

Di tengah maraknya peresmian koperasi di berbagai daerah, muncul pertanyaan mengenai efektivitas program tersebut dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Sorotan itu muncul setelah beredarnya berbagai video pembukaan KDMP di media sosial. Dalam video-video tersebut, produk yang dijual di koperasi terlihat tidak jauh berbeda dengan minimarket pada umumnya.

Mulai dari makanan ringan, kebutuhan pokok, minuman kemasan, hingga perlengkapan dapur tampak memenuhi rak-rak koperasi desa tersebut.

Baca juga: Blusukan ke Kopdes Merah Putih, Prabowo Bangga Gas LPG 3 Kg Dijual Murah Cuma Rp 16 Ribu

Dinilai Mirip Alfamart dan Indomaret

Ekonom Raden Pardede menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah.

Menurutnya, apabila produk dan model bisnis KDMP hanya menyerupai minimarket seperti Alfamart dan Indomaret, maka program tersebut berisiko tidak menciptakan dampak ekonomi baru yang signifikan.

“Kita lihat saya lihat YouTube baru-baru ini grocery items-nya mirip-mirip juga dengan Alfamart, Indomaret, dan juga warung di sekitar.

Apakah this is new investment, new activities, atau dia hanya menjadi trade off dari sini (minimarket) shifting ke sini (KDMP),” ujarnya dalam acara Economic Forum 2026 di Kempinski, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

LOKER KOPDES MERAH PUTIH -
LOKER KOPDES MERAH PUTIH - Ekonom Raden Pardede menyoroti produk yang dijual di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) karena dinilai sangat mirip dengan barang yang dijual di minimarket. (Kompas.com)

Dikhawatirkan Hanya Memindahkan Pasar

Raden mengingatkan, program koperasi akan sulit memberikan dampak ekonomi besar apabila hanya memindahkan konsumen dari usaha yang sudah ada menuju koperasi desa.

Menurutnya, bila masyarakat hanya berpindah tempat belanja dari warung, Alfamart, atau Indomaret ke KDMP, maka aktivitas ekonomi baru sebenarnya tidak benar-benar tercipta.

Begitu pula dengan tenaga kerja yang kemungkinan hanya berpindah dari sektor usaha lama ke koperasi baru tanpa ada penambahan lapangan pekerjaan secara nyata.

“If there is the case, impact dari KDMP itu akan kecil. Karena dia hanya shifting dari warung atau Indomaret, Alfamart ke sini. Pekerjanya juga akan shifting juga nanti,” ucapnya.

Baca juga: Di Balik Megahnya 146 Kopdes Merah Putih Karanganyar, Kades Ngaku Masih Gelap Soal Sistem Permodalan

Bandingkan dengan Koperasi Sukses di Selandia Baru

Dalam pandangannya, model koperasi yang berhasil di berbagai negara umumnya tumbuh dari bawah atau berbasis kebutuhan masyarakat secara alami.

Raden mencontohkan Fonterra di Selandia Baru yang berkembang dari kumpulan peternak susu kecil hingga menjadi koperasi raksasa berskala global.

Menurutnya, model seperti itu berbeda dengan KDMP yang lebih bersifat top down karena pemerintah memegang peran dominan sejak awal pembentukan.

Mulai dari desain program, dukungan pendanaan, hingga fasilitas kredit disebut banyak ditentukan pemerintah, sementara masyarakat tinggal menjalankan sistem yang sudah disiapkan.

Efektivitas Program Masih Harus Dibuktikan

Meski menyampaikan kritik, Raden menegaskan bahwa efektivitas KDMP masih perlu diuji melalui implementasi nyata di lapangan.

Ia mengingatkan pemerintah agar koperasi desa tidak hanya menjadi saluran distribusi baru yang mengambil pasar dari usaha lama tanpa menghasilkan aktivitas ekonomi tambahan.

“Nah ini adalah menurut saya remain to be tested. Tapi saya di sini hanya mengingatkan the government. Impact-nya KDMP ini, jangan-jangan menjadi belum optimal,” tuturnya.

Baca juga: Duet Maut Penakluk Krisis: Prabowo Sebut MBG dan Kopdes Merah Putih Bisa Bangkitkan Ekonomi Rakyat

Program Strategis yang Jadi Sorotan

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sendiri merupakan salah satu program besar pemerintah yang digagas untuk memperkuat ekonomi desa, memperpendek rantai distribusi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun seiring mulai beroperasinya koperasi di berbagai daerah, muncul perdebatan mengenai model bisnis, keberlanjutan usaha, hingga potensi persaingan dengan pelaku usaha kecil dan minimarket yang sudah lebih dulu eksis di masyarakat.

Karena itu, sejumlah ekonom menilai keberhasilan KDMP nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan koperasi menghadirkan nilai tambah baru, bukan sekadar menggantikan peran toko atau minimarket yang sudah ada sebelumnya.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.