Green Marketing dan Budaya Banjar, Ketika Cerita Lokal Menjadi Nilai Jual Global
Ratino Taufik May 20, 2026 06:52 AM

Oleh: Hidayatullah As-Syahri SE MM
Ketua Program Studi S1 Manajemen Universitas Borneo Lestari

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi produk-produk modern berbasis teknologi, pola konsumsi masyarakat dunia perlahan mengalami perubahan besar. Konsumen tidak lagi sekadar membeli barang untuk memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga mencari makna di balik produk yang mereka gunakan. Mereka ingin mengetahui dari mana produk berasal, siapa yang membuatnya, bagaimana proses produksinya, hingga apakah produk tersebut memiliki dampak baik bagi lingkungan dan masyarakat. Di era inilah cerita, identitas budaya, dan nilai keberlanjutan menjadi kekuatan baru dalam dunia pemasaran.

Fenomena tersebut melahirkan tren green marketing atau pemasaran berbasis keberlanjutan lingkungan yang kini berkembang pesat di berbagai negara. Namun sesungguhnya, jika dicermati lebih dalam, nilai-nilai yang menjadi inti dari green marketing bukanlah sesuatu yang benar-benar baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.

Budaya Banjar sejak dahulu telah hidup berdampingan dengan alam melalui tradisi sungai, pola kehidupan sederhana, pemanfaatan sumber daya lokal, serta nilai gotong royong yang kuat. Sayangnya, kekayaan nilai tersebut masih sering dipandang sebatas warisan budaya, belum sepenuhnya diposisikan sebagai kekuatan ekonomi dan identitas pemasaran modern.

Nilai-nilai seperti kesederhanaan, pemanfaatan bahan alami, serta penghormatan terhadap lingkungan sebenarnya merupakan fondasi penting dalam konsep green marketing modern.

Green marketing pada dasarnya bukan hanya tentang mengganti plastik dengan kertas atau menggunakan kemasan daur ulang. Konsep ini jauh lebih luas, berbicara mengenai bagaimana sebuah produk mampu menghadirkan nilai emosional, identitas budaya, dan tanggung jawab sosial kepada konsumen. Produk yang memiliki cerita biasanya akan lebih mudah membangun kedekatan psikologis dengan pembeli dibanding produk yang hanya menonjolkan harga murah atau promosi besar-besaran.

Konsumen modern ingin merasa terhubung dengan produk yang mereka beli. Mereka ingin mengetahui siapa perajinnya, bagaimana proses pembuatannya, hingga filosofi budaya yang terkandung di dalamnya: “Konsumen modern tidak lagi hanya membeli produk, mereka membeli cerita di baliknya”.

Kain sasirangan menjadi contoh nyata bagaimana budaya Banjar memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan green marketing. Selama ini sasirangan lebih banyak dikenal sebagai kain tradisional khas Kalimantan Selatan dengan motif yang unik dan berwarna mencolok. Namun sesungguhnya, sasirangan menyimpan nilai budaya dan filosofi yang sangat mendalam. Setiap motif memiliki makna tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Jika dikombinasikan dengan penggunaan pewarna alami serta strategi branding yang tepat, sasirangan dapat diposisikan bukan hanya sebagai produk budaya lokal, tetapi juga sebagai simbol fashion etnik modern yang ramah lingkungan.

Bayangkan apabila promosi sasirangan tidak hanya menampilkan foto produk semata, tetapi juga menghadirkan kisah para pengrajin lokal, proses pewarnaan alami, hingga cerita tentang identitas masyarakat Banjar. Produk tersebut akan memiliki nilai emosional yang jauh lebih kuat. Konsumen tidak lagi membeli kain, melainkan membeli cerita, warisan budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Saat ini masyarakat dunia semakin menghargai produk artisan, produk handmade, dan produk berbasis budaya lokal. Produk yang dianggap autentik justru memiliki daya tarik lebih tinggi dibanding produk pabrikan yang seragam. Dalam konteks ini, budaya Banjar memiliki modal besar untuk membangun diferensiasi pasar yang kuat.

Era digital semakin memperbesar peluang tersebut. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube kini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang utama dalam membangun citra dan identitas produk. Menariknya, algoritma media sosial sangat menyukai konten yang autentik, emosional, dan memiliki unsur cerita. Karena itu, konten tentang proses pembuatan sasirangan, aktivitas pengrajin purun di desa, kehidupan pasar terapung saat subuh, atau cerita kuliner khas Banjar justru memiliki potensi viral lebih besar dibanding iklan formal yang terlalu kaku.

Di sinilah konsep storytelling marketing menjadi sangat penting. Pemasaran tidak lagi berbicara sekadar “apa yang dijual”, tetapi “cerita apa yang dibawa”. Ketika produk lokal mampu menghadirkan cerita budaya yang kuat, maka produk tersebut akan lebih mudah membangun loyalitas konsumen. Produk yang memiliki konsep eco-friendly, ethical production, dan sustainable branding cenderung lebih diterima di pasar internasional.

Namun tentu saja, pengembangan green marketing berbasis budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada pelaku UMKM. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, media, hingga generasi muda. Perguruan tinggi misalnya dapat berperan dalam memberikan edukasi pemasaran digital, inovasi desain produk, riset pasar, hingga pengembangan branding berbasis budaya lokal. Pemerintah daerah dapat memperkuat dukungan melalui pelatihan, akses permodalan, promosi wisata budaya, dan kebijakan yang mendukung ekonomi kreatif berkelanjutan.

Tidak kalah penting adalah membangun kesadaran generasi muda agar tidak memandang budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno atau tertinggal. Justru di tengah dunia yang semakin seragam akibat globalisasi, identitas lokal menjadi kekuatan yang paling dicari.

Sudah saatnya masyarakat melihat budaya lokal bukan hanya sebagai simbol tradisi yang dipertahankan secara seremonial, tapi modal strategis pembangunan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Green marketing memberikan peluang besar untuk menjadikan cerita lokal sebagai kekuatan global. Ketika budaya Banjar dipadukan dengan inovasi, teknologi digital, dan kesadaran lingkungan, maka produk lokal Kalimantan Selatan tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan modern, tetapi juga berpotensi menjadi wajah baru Indonesia di pasar dunia. “Pada akhirnya, dunia mungkin lupa pada produk yang paling murah, tetapi tidak pada produk yang memiliki cerita, budaya, dan jiwa”. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.