Bagi generasi penggemar AC Milan yang tumbuh di awal tahun 2000-an, ada satu nama yang tak akan pernah terlupakan. Andriy Shevchenko memadukan kemampuan teknis tinggi dengan ketajaman luar biasa di depan gawang, menjadikannya salah satu penyerang terbaik sepanjang masa, peraih Ballon d'Or, dan sosok yang pantas masuk ke dalam Hall of Fame GOAL.
Anak dari Kyiv
Shevchenko lahir di Uni Soviet, tepatnya di Dvirkivscyna, sebuah desa di Ukraina yang terletak sekitar 100 kilometer di sebelah timur Kyiv. Kota yang, lima dekade setelah kelahiran salah satu putra terbaiknya, akan menjadi korban kehancuran akibat serangan bom Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin.
Kyiv adalah bagian penting dari hidup Shevchenko. Ia mulai menendang bola di taman-taman kecil di antara gedung-gedung bergaya Soviet dekat sekolahnya, sebelum mengasah bakatnya di akademi Dynamo Kyiv di bawah bimbingan pelatih legendaris Valeriy Lobanovskyi.
Menghadapi rintangan
Perjalanan Shevchenko menuju dunia profesional tidaklah mudah. Ayahnya, Nikolai, sempat menentang keinginannya menjadi pesepak bola dan lebih ingin agar sang anak mengikuti jejaknya di bidang militer.
Keluarganya juga tinggal jauh dari pusat pelatihan olahraga, sementara Shevchenko sempat gagal menarik perhatian saat mengikuti seleksi di usia 10 tahun untuk masuk sekolah olahraga khusus. Tak lama kemudian, bencana nuklir Chernobyl tahun 1986 memaksa keluarga Shevchenko meninggalkan rumah mereka dan pindah ke daerah pesisir.
Menorehkan prestasi
Pada akhirnya, Shevchenko ditemukan oleh pemandu bakat Dynamo, dan pada tahun 1989, ia menjadi bagian dari tim yang berangkat ke Italia untuk mengikuti turnamen bergengsi Citta di Agropoli. Penyerang muda berusia 13 tahun itu tampil fenomenal dengan mencetak 10 gol sepanjang turnamen, termasuk lima gol dalam waktu 20 menit di partai final. Ia membawa pulang trofi bersama Sergey Rebrov, yang kelak menjadi partner duet mautnya di lini depan Dynamo. Bersama-sama, mereka mempersembahkan lima gelar liga, tiga Piala Ukraina, dan mencapai semifinal Liga Champions pada tahun 1999.
Setahun kemudian, Dynamo memenangkan Ian Rush Cup di Wales, dan Shevchenko kembali menjadi pencetak gol terbanyak. Sebagai hadiah, ia menerima sepasang sepatu milik legenda Liverpool, Ian Rush.
Mentor legendaris
Shevchenko tampak memiliki masa depan cerah, namun gaya hidupnya kala itu belum mencerminkan seorang profesional sejati. Lobanovskyi, pelatih sekaligus sosok paling berpengaruh dalam hidupnya, membawanya masuk ke tim cadangan Dynamo dan segera membantu Shevchenko berhenti merokok. Lobanovskyi menggunakan terapi nikotin dosis tinggi, hingga hingga kini Shevchenko mengaku merasa mual setiap kali melihat rokok.
Shevchenko merasa bahwa kariernya adalah hasil bimbingan Lobanovskyi. Sebagai bentuk penghormatan, ia membawa trofi Liga Champions yang dimenangkannya bersama Milan pada tahun 2003 ke makam sang pelatih di Baikove, diikuti dengan trofi Ballon d'Or setahun kemudian.
'Raja dari Timur'
Kedisiplinan, dedikasi, dan pengetahuan yang ditanamkan Lobanovskyi menjadi fondasi kesuksesan Shevchenko, yang kemudian dijuluki 'Raja dari Timur'.
Latihan-latihannya berlangsung tanpa henti, dengan berjam-jam ia habiskan untuk menendang bola ke arah gawang. Bertahun-tahun kemudian, rekan setimnya di Milan, Gennaro Gattuso, berkata tentang Shevchenko: “Saya belum pernah melihat pemain yang mampu menembak ke gawang dengan tingkat akurasi setinggi itu.”
Kombinasi antara kerja keras dan bakat alami itulah yang membuat Shevchenko menjadi pemain Ukraina ketiga yang memenangkan Ballon d'Or, mengikuti jejak Oleg Blochin pada 1975 dan Igor Belanov pada 1986.
Legenda San Siro
Selama membela Milan, Shevchenko mencatatkan 175 gol dalam 322 pertandingan. Ia membantu klub meraih Scudetto pada 2004, setahun setelah menjuarai Liga Champions lewat kemenangan adu penalti atas Juventus di final yang digelar di Old Trafford. Shevchenko masih memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Derby Milan dengan 14 gol, dan dihormati oleh para tifosi Rossoneri setara dengan legenda seperti Marco van Basten. Seorang legenda sejati – dan anggota Hall of Fame yang pantas.