TRIBUNPALU.COM, SIGI – Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Ancaman banjir dan kekeringan kerap terjadi menimbulkan risiko signifikan bagi sektor pertanian dan kehidupan masyarakat setempat.
Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menyampaikan bahwa kondisi geografis dan pola cuaca ekstrem membuat daerahnya sering terdampak oleh perubahan iklim.
Baca juga: Kabupaten Sigi Jadi Percontohan Program Adaptasi Iklim Berbasis Komunitas
“Perubahan iklim sudah nyata dan berdampak langsung pada produktivitas pertanian masyarakat. Banjir dan kekeringan menjadi ancaman yang harus kita antisipasi,” ujarnya.
Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah Kabupaten Sigi bersama berbagai lembaga dan konsorsium lingkungan meluncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi 2026–2028.
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko iklim, khususnya di sektor pertanian dan pedesaan.
Program adaptasi tersebut fokus pada tiga pilar utama, yakni penguatan kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah, penerapan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di desa, serta pengembangan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim (center of excellence) di tingkat kabupaten.
Lebih dari 1.500 penerima manfaat di enam desa ditargetkan terlibat dalam program ini.
Baca juga: Cari Solusi Agraria di 4 UPT Morowali, Disnakertrans Sulteng Fasilitasi Rapat Lintas Sektor
Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, menilai program di Sigi bisa menjadi model praktik baik adaptasi iklim berbasis komunitas yang dapat diterapkan di daerah lain di Indonesia.
Melalui langkah-langkah ini, Pemerintah Kabupaten Sigi berharap masyarakat dapat lebih tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim, menjaga ketahanan pangan, dan meminimalkan risiko kerugian akibat bencana banjir maupun kekeringan.(*)