TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Nama tanjakan Sarijan cukup familiar dikenal warga Kota Bogor yang lokasinya di Jalan Raya Gunungbatu, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.
Pantauan TribunnewsBogor.com, Rabu (20/5/2026), tanjakan Sarijan ini berupa tanjakan yang berlokasi dekat Sungai Cisadane yang membelah memisahkan Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Barat.
Tanjakan ini merupakan akses yang menghubungkan Kota Bogor ke arah Ciomas dan Dramaga.
Tanjakan ini terpantau berbentuk lurus dan agak terjal spanjang sekitar 300 meter.
Di kanan kirinya terdapat benteng atau tembok penahan tanah (TPT) yang cukup tinggi khususnya di sebelah tenggara dari tanjakan tersebut.
Sebelah atas tanjakan terdapat bangunan tua khas era kolonial Belanda yang menjadi Kantor Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan milik Kementrian Kehutanan.
Tanjakan ini kerap disebut warga sebagai 'Tanjakan Sarijan' dibanding disebut tanjakan Gunungbatu.
Bagi warga sekitar, nama Sarijan ini juga cukup bermanfaat untuk menunjukan patokan alamat.
Bahkan sejumlah tempat usaha sekitar juga menyisipkan nama 'Sarijan' di namanya agar mudah dikenali lokasinya.
Seorang kakek warga sekitar, Ahmad (76), mengatakan bahwa istilah 'Sarijan' ini juga membantu petugas kurir paket untuk mencari alamat sebagai patokan.
Karena di sekitar Gunungbatu ini ada beberapa nama gang yang sama.
"Kadang-kadang Gang Kosasih tuh laen, Gang Mesjid juga ada di sana sama kayak di sini (kawasan tanjakan Sarijan)," kata Ahmad kepada TribunnewsBogor.com.
Ahmad tidak mengetahui pasti sosok asal nama Sarijan ini.
Namun dia meyakini Sarijan merupakan tokoh masyarakat zaman dulu.
"Dari atas (tanjakan) memang disebutnya sarijan. Mungkin nama orang dulu," kata Ahmad.
Beberapa orang tua warga sekitar lain juga memberikan jawaban serupa soal sosok Sarijan ini.
Dia menjelaskan bahwa tanjakan Sarijan ini dulu masuk wilayah Kabupaten Bogor, tepatnya wilayah Ciomas, namun setelah pemekaran kini masuk wilayah Kota Bogor.
Jejak peninggalan Belanda dulu, kata dia, di kawasan Jalan Raya Gunungbatu ini memang kental, namun kini sudah memudar dan hanya segelintir bangunan yang bertahan dengan bentuk aslinya setelah banyak berubah menjadi pertokoan.
"Tadinya ini kan Kabupaten, Ciomas. Kanan kiri rumah-rumah belanda dulu sampai jembatan merah ke sana, sekarang sudah dijual-jualin sama yang punyanya," kata Ahmad.
"Diseberang itu bangunan Belanda dulu jadi pabrik tahu tapi udah dijual, sebelah atas juga ada," ungkapnya.
Sementara dilihat dari peta Belanda tahun 1921 tidak tertulis penamaan Sarijan, namun tercatat kawasan itu bernama 'Goenoengbatoe.'
Ada pula nama lokasi rijstpelmolen (tempat penggilingan padi) dan landhuis (rumah besar kolonial) di pinggir tanjakan Sarijan yang kini masuk area lahan Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan milik Kementrian Kehutanan.