TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Kabupaten Klaten sukses mencuri perhatian dunia lewat jalur diplomasi sepeda.
Tak tanggung-tanggung, penutupan konferensi sejarah sepeda internasional (ICHC) 2026 di Pendopo Pemkab Klaten, Rabu (20/5/2026), dihadiri langsung oleh Duta Besar Jerman dan Belanda, sekaligus menjadi panggung bagi Klaten untuk melirik kerja sama Sister City dengan Kota Amsterdam.
Konferensi internasional pertama di Indonesia itu melahirkan Piagam Klaten sekaligus mendorong gerakan budaya bersepeda dan mobilitas berkelanjutan hingga tingkat desa.
Konferensi yang menjadi rangkaian Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 tersebut berlangsung selama tiga hari, 18-20 Mei 2026.
Kegiatan menghadirkan puluhan pemateri nasional dan internasional dari kalangan peneliti, akademisi, sejarawan hingga pegiat sepeda dunia.
Ratusan peserta dari berbagai negara memadati Pendopo Pemkab Klaten sejak hari pertama. Suasana forum berlangsung dinamis dengan diskusi panel, presentasi riset, workshop interaktif hingga pertukaran gagasan tentang sejarah sepeda, budaya, kesehatan, dan masa depan mobilitas perkotaan.
Pada hari terakhir, forum menghadirkan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste, Duta Besar Belanda Marc Gerritsen, Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan Yusuf Nugroho, serta Guru Besar FISIPOL UGM Amalinda Savirani.
Baca juga: Gerbang Jogja-Klaten, Bupati Hamenang Dorong UMKM Prambanan ‘Curi Panggung’ Lewat Sektor Wisata
Sejumlah sepeda klasik tampak dipajang di sisi pendopo.
Delegasi asing dan peserta lokal terlihat aktif berdiskusi seusai sesi panel. Beberapa peserta juga tampak mendokumentasikan materi konferensi dan isi Piagam Klaten yang ditampilkan di layar utama.
Piagam Klaten tentang Sepeda, Kebudayaan, dan Masa Depan Berkelanjutan berisi lima poin utama.
Di antaranya, sepeda sebagai warisan budaya dunia sekaligus instrumen masa depan, kota ramah manusia, budaya bersepeda sebagai aksi keberlanjutan, hingga pentingnya desa dan kota kecil dalam masa depan dunia.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyebut pelaksanaan ICHC 2026 menjadi momentum penting bagi Klaten dan Indonesia.
“Alhamdulillah, hari terakhir konferensi ini didatangi dua tamu luar biasa, duta besar dari Belanda dan Jerman untuk Indonesia. Sehingga ini menjadi awal sebuah sejarah baru,” katanya.
Ia mengatakan konferensi tersebut bukan sekadar forum membahas sepeda, namun juga ruang diplomasi budaya dan perubahan pola hidup masyarakat.
“Tidak hanya sekedar bicara bersepeda, tapi bagaimana bersepeda ini ternyata bisa menyatukan seluruh dunia,” ujarnya.
Menurut Hamenang, pengalaman negara-negara Eropa dalam membangun budaya bersepeda menjadi pelajaran penting bagi Klaten.
“Tadi banyak sekali yang disampaikan oleh duta besar Jerman dan Belanda, bagaimana culture di mereka yang berubah,” katanya.
Ia melanjutkan, kota-kota di Eropa yang dulunya padat kendaraan kini mulai mengutamakan sepeda demi kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan.
“Sehingga kesehatan warga masyarakatnya menjadi lebih terjaga, environment-nya bisa menjadi lebih baik,” paparnya.
Tak hanya berhenti pada forum konferensi, Pemkab Klaten juga mulai menyiapkan langkah konkret. Salah satunya dengan menggagas program Jumat Bersepeda untuk ASN.
“Mungkin kita mulai dengan Jumat bersepeda, hal yang paling mudah kita laksanakan,” ujarnya.
Program tersebut rencananya menyasar ASN dengan radius tempat tinggal maksimal lima kilometer dari kantor.
“Mungkin teman-teman yang radius 5 km ke bawah di setiap Jumat pagi kita bersepeda,” lanjutnya.
Selain itu, Hamenang juga mengungkapkan pihaknya menawarkan kerja sama Sister City dengan Amsterdam untuk memperkuat budaya bersepeda di Klaten.
“Tadi kami juga menawarkan Sister City dengan Amsterdam sehingga kita ke depan bisa berkolaborasi agar budaya bersepeda bisa tumbuh juga di Kabupaten Klaten,” katanya.
Menurutnya, pemerintah juga perlu menyiapkan fasilitas pendukung seperti parkir sepeda aman dan jalur sepeda yang nyaman.
“Kalau jalur sepeda Alhamdulillah di kota kita sudah membuat. Tinggal membuat spot-spot parkir yang memang aman dan nyaman untuk para sepeda,” ujarnya.
Usai konferensi, rangkaian KLIC Fest 2026 akan berlanjut dengan Social Culture Ride mulai Kamis (21/5/2026).
Peserta internasional dijadwalkan berkeliling desa di kawasan Prambanan, Manisrenggo hingga Jogonalan.
Delegasi akan diajak melihat batik ciprat di Desa Kemudo, pasar tradisional, produksi UMKM, hingga bengkel sepeda kayu di Dompyongan.
“Kamis pagi kita akan berkeliling di beberapa desa mulai dari kawasan Prambanan, Manisrenggo sampai dengan Jogonalan,” kata Hamenang.
“Nanti kita akan menikmati aktivitas di desa-desa tersebut,” pungkasnya. (*)