Pelaku industri pariwisata dan maskapai di Belanda meminta Pemerintah Belanda untuk mengkaji ulang rencana kenaikan pajak penerbangan. Mereka menilai kebijakan itu berpotensi membuat biaya liburan makin mahal dan memberatkan masyarakat.
Sejumlah perusahaan perjalanan memperingatkan Belanda bisa menjadi negara dengan pajak tiket pesawat tertinggi di Uni Eropa mulai tahun depan jika rencana tersebut tetap dijalankan. Kekhawatiran itu muncul setelah hasil survei menunjukkan mayoritas warga Belanda cemas harga tiket pesawat akan semakin mahal.
Mengutip , Rabu (20/5/2026) survei dari Markteffect terhadap 1.000 responden mencatat sekitar dua pertiga warga khawatir perjalanan udara dari Belanda menjadi tidak terjangkau. Sebanyak 71% responden juga menilai transportasi udara seharusnya tetap bisa diakses masyarakat berpenghasilan rendah.
Asosiasi Agen Perjalanan dan Operator Tur Belanda (ANVR) kemudian meluncurkan kampanye bertajuk 'Gelijke Vliegtaks' atau pajak penerbangan yang setara. Kampanye itu didukung sejumlah perusahaan besar seperti TUI, Corendon, Transavia, dan KLM.
Direktur ANVR, Frank Radstake, mengatakan liburan tahunan menjadi momen penting bagi banyak keluarga untuk beristirahat dan berkumpul bersama.
"Pada 2027, pajak penerbangan jarak jauh di Belanda akan naik dari sekitar 30 euro (Rp 618 ribu) menjadi 72 euro (Rp 1,4 juta) per tiket. Kenaikan 140 persen itu menjadi beban besar bagi wisatawan, terutama jika dibandingkan dengan negara tetangga," ujar Radstake.
ANVR menilai kebijakan pajak penerbangan sebaiknya diterapkan secara merata di tingkat Uni Eropa agar tidak ada negara yang memberlakukan tarif jauh lebih tinggi dibanding lainnya.
Menurut ANVR, mulai 2027 keluarga beranggotakan empat orang yang bepergian dari Belanda ke Turki bisa mengeluarkan lebih dari 190 euro (Rp 4 juta) hanya untuk pajak penerbangan. Sementara jika berangkat dari Belgia, biaya pajaknya diperkirakan hanya sekitar 40 euro (Rp 842 ribu) untuk perjalanan serupa.
Radstake menilai kondisi itu bisa membuat warga Belanda memilih terbang dari negara tetangga demi mendapatkan biaya perjalanan yang lebih murah.
"Perbedaannya memang tidak selalu terlihat langsung oleh konsumen, tetapi tambahan biaya itu akan sangat terasa bagi individu maupun keluarga," katanya.
Presiden dan CEO KLM, Marjan Rintel, juga menilai kenaikan pajak itu berpotensi membuat wisatawan meninggalkan bandara-bandara di Belanda.
"Wisatawan Belanda akan terbebani secara finansial atau memilih berangkat dari bandara di luar negeri," ungkap Rintel.
"Itu tidak memberi manfaat bagi iklim dan jika wisatawan serta pelaku bisnis pergi, sejumlah rute penerbangan bisa hilang. Rencana ini perlu dipertimbangkan kembali agar pajak penerbangan Belanda tetap sejalan dengan negara-negara tetangga," lengkapnya.





