Hall of Fame: Mengapa Sir David Beckham Adalah Salah Satu Pesepak Bola yang Paling Diremehkan di Generasinya
Budi Santoso May 21, 2026 07:06 AM

Salah satu gelandang terbaik di masanya, mungkin pengumpan silang bola terbaik yang pernah ada dan pengambil tendangan bebas yang mampu menyaingi siapapun dalam sejarah sepak bola, Sir David Beckham adalah pemain yang istimewa dalam segala hal. Namun, karena pengaruhnya yang begitu besar di luar lapangan, salah satu ikon olahraga terbesar dalam tiga dekade terakhir ini kerap dilupakan ketika membicarakan legenda sejati permainan ini.


Beckham – atau, dengan gelar barunya, Sir David Beckham – menandai sebuah era baik di dalam maupun di luar lapangan, menulis formula perubahan seorang pesepak bola menjadi sebuah merek global. Ia bagi sepak bola memiliki pengaruh seperti halnya Michael Jordan bagi bola basket, menjelma menjadi ikon dunia yang melampaui batas olahraga, membuka jalan bagi Cristiano Ronaldo, Neymar, dan Lionel Messi untuk mengikuti jejaknya.


Namun, hal tersebut tidak boleh menutupi apa yang mampu dicapai oleh 'Becks' dari sisi murni sepak bola, dan alasan mengapa ia layak menjadi bagian dari Hall of Fame GOAL:


Bend it like Beckham


Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, Beckham menjadi wajah utama sepak bola, pemain yang diidamkan setiap remaja — baik karena kemampuan di lapangan maupun gaya hidupnya. Gaya rambutnya yang selalu berubah – dari highlight pirang ala boyband, potongan cepak di awal milenium, mohawk yang membuat Sir Alex Ferguson marah, hingga gaya kepang (cornrows) dan sanggul khas masa Real Madrid – ditiru oleh banyak orang di seluruh dunia. Sepatu adidas Predator miliknya menjadi incaran semua calon pesepak bola; sementara jersey nomor 7 Manchester United menjelma menjadi simbol tren mode.


Banyak penggemar ingin berpenampilan seperti Beckham, tetapi semua bermimpi bisa menendang bola seperti dirinya. Gaya khasnya – dengan ayunan tangan kanan ke belakang saat mengirimkan umpan silang – menjadi salah satu siluet paling ikonik dalam olahraga ini, bahkan menginspirasi judul film yang memperkenalkan sepak bola kepada audiens baru: 'Bend it like Beckham'.


Lebih dari sekadar ikon pop


Di balik citra glamor yang melekat padanya, Beckham sejatinya adalah salah satu gelandang paling tangguh dan mungkin juara paling diremehkan di masanya. Ia menjadi korban sorotan media massa yang lebih tertarik membahas hubungannya dengan penyanyi pop Victoria Adams ketimbang performanya di Old Trafford setiap akhir pekan.


Selama bertahun-tahun, nama Beckham lebih sering muncul di halaman depan tabloid daripada di rubrik olahraga. Akibatnya, persepsi publik terhadap statusnya di antara para pemain elite dunia kerap terdistorsi, seolah ia adalah selebritas terlebih dahulu sebelum pesepak bola, terlalu tampan, terlalu sempurna, dan terlalu bergaya untuk dianggap serius.


Namun, satu hal harus ditegaskan: Beckham adalah pemain yang luar biasa. Ia bukan sayap murni yang memukau dengan kelincahan dan dribel, tetapi kaki kanannya mampu membuat semua orang terpana lewat umpan-umpan presisi. Ia lebih tepat disebut sebagai playmaker sayap — meski sempat mencoba peran sebagai gelandang tengah — seorang pemain dengan teknik halus, visi luar biasa, dan kemampuan mengolah bola yang luar biasa. Tidak heran jika ia secara luas diakui sebagai pengumpan silang terbaik sepanjang masa dan salah satu, jika bukan yang terbaik, pengambil tendangan bebas dalam sejarah.


Tendangan bebasnya melawan Yunani pada Oktober 2001, yang memastikan Inggris lolos ke Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan, tetap menjadi karya seni yang abadi, sebagaimana gol spektakulernya dari garis tengah melawan Wimbledon pada 1996, yang secara simbolis menandai awal karier legendarisnya bersama Manchester United.


Penampilan bisa menipu


Namun, kehebatan Beckham di lapangan tidak hanya sebatas ketepatan kaki kanannya. Sebagai pemain dengan caps terbanyak ketiga dalam sejarah tim nasional Inggris, Beckham juga memimpin The Three Lions sebagai kapten selama enam tahun, mengenakan ban kapten dalam 58 pertandingan. Ia berhasil bertransformasi dari musuh publik nomor satu — setelah kartu merahnya di Piala Dunia 1998 melawan Argentina — menjadi simbol penebusan dan kepemimpinan.


Beckham adalah sosok pemimpin karismatik dan berani di lapangan, selalu siap berkorban demi timnya. Ia menjadi teladan profesionalisme sejati, sebagaimana diakui bahkan oleh pelatih paling keras seperti Fabio Capello, yang berani menentang instruksi presiden Florentino Pérez dan mengembalikannya ke skuad utama Real Madrid — keputusan yang kemudian berbuah gelar La Liga sebelum Beckham pindah ke LA Galaxy.


Di mana pun ia bermain, Beckham selalu meninggalkan jejak: dari gelar bersama Manchester United hingga sukses di Madrid, dari kejayaan di MLS hingga masa singkatnya di AC Milan dan Paris Saint-Germain. Pemain asal London ini selalu mampu beradaptasi dengan rendah hati, jauh dari citra glamor yang selama bertahun-tahun dibentuk oleh media tabloid.


Pantas meraih Ballon d'Or?


Pada tahun 1999, ketika Beckham menjadi pemain kunci dalam keberhasilan Manchester United meraih treble bersama Sir Alex Ferguson, banyak yang menilai ia juga pantas meraih Ballon d'Or, yang pada akhirnya diberikan kepada Rivaldo. Pemain asal Brasil itu memang tampil gemilang di La Liga bersama Barcelona, tetapi tersingkir di babak grup Liga Champions.


Beckham, sebaliknya, harus bangkit setelah Piala Dunia yang membuatnya menjadi sasaran kebencian publik Inggris, dihujani ejekan, cemoohan, dan pelecehan di stadion-stadion Premier League. Ia menanggung semua tekanan itu tanpa memperlihatkan emosinya, menjawab dengan cara terbaik yang ia tahu: bermain sepak bola.


"Semakin ia diserang, semakin baik ia bermain," ujar mantan rekan setimnya, Ole Gunnar Solskjaer. Enam gol dan 12 assist di Premier League, dua gol dan delapan assist di Liga Champions, serta satu gol penting di semifinal Piala FA melawan Arsenal, menjadi bukti nyata kontribusi Beckham terhadap perjalanan Manchester United menuju keabadian.


Ballon d'Or 1999, di mana Beckham finis di posisi kedua, mungkin akan membawanya ke level yang berbeda dalam pandangan publik — menempatkannya di lingkaran pemain nomor satu dunia tanpa perdebatan. Kini, 12 tahun setelah pensiun, menilai kembali nilai, relevansi, dan aura sepak bola Sir David Beckham bukanlah bentuk nostalgia, melainkan tindakan keadilan bagi salah satu ikon terbesar olahraga ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.