Opini: Harapan Eliminasi Tuberkulosis Itu Bernama Anak-Anak
Dion DB Putra May 21, 2026 08:19 AM

Oleh: Sabinus B. Kedang
Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pagi itu suasana di Desa Baumata Utara, Kabupaten Kupang, tampak berbeda. 

Anak-anak usia batita, balita hingga usia sekolah datang bersama orang tua mereka untuk mengikuti skrining tuberkulosis (TBC) paru. 

Sebagian tampak penasaran melihat alat X-ray portabel yang berdiri di lokasi skrining kesehatan Gereja GMIT Santetus Oeika. Sebagian lagi saling bercanda sambil menunggu giliran pemeriksaan. 

Tidak terlihat rasa takut berlebihan sebagaimana yang sering dibayangkan orang dewasa ketika mendengar kata TBC. 

Baca juga: 644 Kasus TBC Sepanjang 2025, Dinkes Belu Intensifkan ACF Hingga Desa/Kelurahan

Pengalaman tersebut menjadi refleksi yang sangat mendalam bagi saya sebagai dosen keperawatan anak. 

Di tengah berbagai tantangan pengendalian TBC di Indonesia, saya justru melihat harapan besar dari keberanian anak-anak yang mau diperiksa sejak dini. 

Mereka datang tanpa stigma, tanpa rasa malu, dan tanpa prasangka. Sesuatu yang justru sering menjadi hambatan dalam penanggulangan TBC pada orang dewasa seperti yang dikatakan seorang ibu dalam bahasa Kupang “beta pung tetangga sonde mau  datang karena takut foto, padahal cepat sa”.

Selama ini diskusi tentang TBC lebih banyak berfokus pada pasien usia dewasa, angka kejadian, pengobatan, dan target program kesehatan. 

Padahal, anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap penularan TBC, terutama bila tinggal serumah dengan penderita TBC aktif. 

Ironisnya, kasus TBC pada anak sering kali terlambat ditemukan karena gejalanya dianggap tidak khas.

Batuk yang berlangsung lama, berat badan yang sulit naik, anak yang tampak lemah, atau demam ringan yang berulang sering dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa. 

Tidak sedikit keluarga baru membawa anak ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah semakin berat. 

Dampaknya, proses pengobatan dan perawatan menjadi lebih panjang serta risiko gangguan tumbuh kembang anak semakin besar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa deteksi dini TBC pada anak masih menjadi tantangan besar. 

Padahal, skrining merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan memutus rantai penularan di masyarakat. 

Sayangnya, skrining pada anak masih sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak mendesak.

Kita sering berbicara tentang eliminasi TBC dalam berbagai forum dan target program kesehatan, tetapi lupa bahwa banyak anak di desa-desa masih hidup dalam lingkungan dengan risiko penularan yang tinggi tanpa pemeriksaan dini yang memadai. 

Eliminasi TBC tidak akan berhasil jika perhatian hanya terpusat pada pengobatan pasien dewasa, sementara upaya perlindungan terhadap anak masih terbatas.

Karena itu, skrining pada anak tidak boleh dipandang sekadar kegiatan pemeriksaan kesehatan biasa. Skrining merupakan bentuk perlindungan terhadap masa depan generasi bangsa. 

Ketika penyakit ditemukan lebih awal, maka pengobatan dapat segera dilakukan, komplikasi dapat dicegah, dan kualitas hidup anak dapat dipertahankan.

Pengalaman skrining di Baumata Utara juga menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan harus semakin dekat dengan masyarakat. 

Kehadiran X-ray portabel di tengah desa menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan dapat bergerak lebih aktif menjangkau kelompok rentan, termasuk anak-anak. 

Inovasi seperti ini penting terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

Lebih dari itu, kegiatan skrining juga memiliki nilai edukasi yang sangat besar. 

Orang tua menjadi lebih sadar bahwa batuk berkepanjangan pada anak bukan sesuatu yang boleh diabaikan. 

Baca juga: Opini: Dari Dilan ke Dapur

Masyarakat juga mulai memahami bahwa pemeriksaan TBC bukan hal yang memalukan ataupun menakutkan. 

Perlahan, stigma terhadap TBC dapat dikurangi melalui pendekatan yang lebih humanis dan dekat dengan masyarakat.

Hal yang paling menyentuh bagi saya justru adalah keberanian anak-anak itu sendiri. Mereka datang dengan rasa ingin tahu, bukan rasa takut. 

Mereka berdiri di depan alat pemeriksaan dengan penuh keberanian, seolah mengajarkan kepada orang dewasa bahwa menjaga kesehatan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.

Ironisnya, anak-anak yang belum sepenuhnya memahami tentang TBC justru menunjukkan keberanian yang kadang tidak dimiliki orang dewasa. 

Masih banyak masyarakat yang takut memeriksakan diri karena khawatir terhadap stigma sosial. 

Ada yang takut dijauhi lingkungan, takut dianggap membawa penyakit menular, bahkan takut dicap negatif oleh masyarakat sekitar. 

Akibatnya, banyak kasus TBC terlambat ditemukan dan penularan terus berlangsung secara diam-diam di lingkungan keluarga dan tetangga di sekitar penderita.

Anak-anak di Baumata Utara memberi pelajaran penting bahwa harapan eliminasi TBC sesungguhnya masih ada. 

Harapan itu tumbuh dari keberanian untuk memeriksa kesehatan sejak dini, dari kepedulian keluarga terhadap kesehatan anak, dan dari pelayanan kesehatan yang mau hadir lebih dekat dengan masyarakat.

Eliminasi TBC bukan sekadar target program kesehatan nasional. Eliminasi TBC adalah upaya melindungi masa depan generasi bangsa. 

Karena itu, anak-anak harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam strategi pencegahan dan deteksi dini TBC di Indonesia.

Jika anak-anak di desa mampu berani menjalani skrining paru sejak dini, maka sesungguhnya tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menunda kepedulian terhadap TBC. 

Sebab harapan eliminasi TBC itu mungkin sedang berdiri di depan alat X-ray portabel itu, dalam diri anak-anak yang datang dengan penuh keberanian dan harapan. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.