Dari Ruang Kelas hingga Meja Makan, 6 Jam Jurnalis Al-Jazeera Berbagi Tips Liputan Perubahan Iklim
Alfian May 21, 2026 10:09 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MELBOURNE - Bertukar pikiran dan pengalaman liputan bersama jurnalis media internasional seperti Al-Jazeera jadi pengalaman berharga bagi penulis saat berkunjung ke Melbourne, Australia.

Di hari pertama workshop peliputan perubahan iklim di Monash University, Rabu (13/5/2026), empat jurnalis asal Indonesia termasuk penulis yang mewakili Tribun Timur, berjumpa dengan Lyndal Rowlands dari Al-Jazeera.

Workshop tersebut difasilitasi Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) dari Monash University.

Lyndal hadir pada sesi kedua workshop hari pertama bersama jurnalis Australia lainnya Zacharias Szumer dari Special Broadcasting Service (SBS).

Di awal pertemuan, Lyndal dengan pengalaman liputan belasan tahun di berbagai negara tak sungkan memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan seluruh peserta.

"Senang bertemu dengan kalian, ini pengalaman yang sangat baik untuk saya," katanya diiringi dengan senyum dan jabat tangan yang cukup erat.

Tak lama kemudian, ia bersama Zacharias diberikan kesempatan mempresentasikan pengalaman liputannya, terkhusus liputan mendalam mengenai perubahan iklim.

Ekspektasi awal penulis, Lyndal akan langsung pada pemaparan liputan investigasinya.

Tapi rupanya, ia tak memulai dengan 'pamer' pengalaman.

Dari laptopnya yang disambungkan ke monitor berukuran 75 inch, slide awal terpampang kolasi foto anak kecil dan burung Galbuin atau biasa disebut burung kecapi.

"Yah itu saya, saat masih anak-anak. Dan saya akan memulai dari akar dimana saya memutuskan untuk menjadi seorang jurnalis," ucapnya.

Cerita Lyndal, ia dulunya tinggal di salah satu wilayah pertambangan emas di Australia.

Di belakang rumahnya, terdapat galian besar tambang emas.

Dengan berbagai persoalan ekologis di masa lalu itulah yang salah satunya membentuk cara berpikir Lyndal.

Dalam satu kesempatan lain, Lyndal yang sudah beranjak dewasa  berjumpa dengan burung Galbuin.

Spesies burung langka yang hidup di daratan Australia ini menarik perhatiannya.

Dengan cantik dan bulu warna-warni, burung ini terbilang cukup sulit ditemukan akhir-akhir ini.

Dari perjumpaan itu, Lyndal sadar bahwa dulunya di kampung halamannya sangat sering menjumpai Galbuin.

Tapi, kini hal itu sudah sangat sulit dan akhirnya memunculkan pertanyaan ke dalam dirinya, "Apa yang membuat semua hewan-hewan cantik ini sekarang menghilang?"

Ia pun memutuskan ingin mendalami dan akhirnya memilih jalur jurnalisme sebagai jalannya.

Selepas pemaparan hasil liputan investigasinya, Lyndal kembali berbincang mendalam dengan jurnalis Indonesia di luar sesi pertemuan dan diakhiri dengan foto bersama.

"Saya sangat menantikan kesempatan lain kita bisa berkolaborasi bersama," kata Lyndal sambil memberikan nomor telepon dan alamat emailnya.

Setelah pertemuan, dari Monash University Lyndal dan rombongan jurnalis asal Indonesia menuju pusat kota Melbourne dengan menggunakan kereta listrik.

Di sepanjang jalan dengan jarak tempuh sekitar 30 menit, Lyndal kembali berbagai pengalamannya terhubung dengan jurnalis internasional lainnya lewat wadah The Science Journalist Association.

Menurutnya, kolaborasi jurnalis lintas negara dibutuhkan saat ini untuk bisa saling mendukung dalam peliputan perubahan iklim.

"Kondisi perubahan iklim sangat berdampak luas bagi kehidupan kita, mungkin di Australia dan Indonesia ada kesamaan tapi juga banyak perbedaannya. Pengalaman-pengalaman itu butuh disinkronkan agar ada kebijakan internasional berbasis bukti yang bisa diambil," ucapnya.

Penulis mengakhir pertemuan bersama Lyndal setelah makan malam di salah satu restoran halal yang terletak di pusat kota Melbourne.

Pengalaman bertemu dan berbincang selama lebih dari enam jam tidaklah cukup bagi penulis untuk terus menggali dan bertukar pengalaman hingga tips dalam peliputan isu perubahan iklim.

Geleng-geleng Kepala

"Saya tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, karena di sini (Australia) ilmuwan dan jurnalis itu masih jadi rujukan utama informasi publik," ucap Lyndal Rowlands, jurnalis Australia yang bekerja untuk sejumlah media termasuk Al-Jazeera.

Lyndal Rowlands dan Zacharias Szumer jurnalis Special Broadcasting Service (SBS) Australia bertukar pengalaman meliput isu perubahan iklim bersama lima jurnalis Indonesia di Monash University, Caulfield, Melbourne, Australia, Rabu (13/5/2026).

Pertemuan antara jurnalis Australia dan Indonesia termasuk satu diantaranya jurnalis Tribun Timur, Alfian, difasilitasi Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) dari Monash University.

Diskusi bertukar pengalaman antara jurnalis Australia dan Indonesia merupakan sesi kedua di hari pertama workshop yang diselenggarakan hingga, Kamis (14/5/2026).

Di sesi pertama, Monash CliComm memaparkan gambaran umum terkait perilaku masyarakat Australia dalam penerimaan informasi.

Data menunjukan, warga Australia cenderung masih sangat mempercayai setiap informasi yang datang dari para ilmuwan/akademisi dan hasil karya jurnalistik.

Sedangkan di Indonesia saat ini, arus informasi utamanya dalam pembentukan opini publik cenderung 'dikuasai' para influencer.

Baca juga: Pendengung Lebih Dipercaya di Indonesia, Jurnalis Australia Geleng-geleng Kepala 

Dalam hal ini publik figur baik artis, selebgram, TikTokers dan youtubers.

Jurnalis Indonesia yang mengikuti kegiatan di Monash University ini pun ikut mengamini fenomena tersebut.

Dari perbedaan ini kemudian memunculkan pendiskusian hangat hingga ke sesi kedua mengenai situasi jurnalisme di Indonesia dan Australia.

Lyndal Rowlands yang mendengarkan kompleksnya persoalan jurnalisme di Indonesia sampai geleng-geleng kepala.

Baginya yang sudah berprofesi sebagai jurnalis selama belasan tahun, tantangan jurnalisme di Indonesia lebih berat dibandingkan dirinya dan Zacharias Szumer yang bekerja di Australia.

"Harus diakui kami sedikit beruntung bekerja sebagai jurnalis di Australia, kalau mendengar pemaparan teman-teman di Indonesia itu kompleks sekali persoalannya," katanya.

Zacharias Szumer mengamini ucapan Lyndal, sebab jurnalis SBS ini pernah memiliki pengalaman bekerja sebagai jurnalis di Indonesia.

Pada tahun 2018 lalu, Zacharias tergabung di Jakarta Post.

Selama lebih dari dua tahun di Indonesia, Zacharias meliput berbagai isu di Indonesia dan merasakan langsung atmosfer jurnalisme Tanah Air.

"Yah harus diakui memang, orang-orang yang memilih berkarier sebagai jurnalis di Indonesia itu hebat-hebat. Kenapa? karena tantangannya berat," ungkapnya.

Zacharias Szumer dan Lyndal Rowlands terbilang sebagai jurnalis senior dengan segudang pengalaman liputan lingkungan.

Lyndal beberapa kali mendapat penghargaan atas liputan investigasi lingkungan, diantaranya UN Correspondents Association prize, coverage of climate change and oceans dan UN Foundation Press Fellowship.

Jurnalisme Konstruktif

Perubahan iklim bukanlah topik baru dalam peliputan. Tapi isu ini terkadang sulit menjadi pembahasan utama di masyarakat utamanya di Indonesia lantaran terkendala berbagai hal.

Salah satunya yakni narasi yang terbilang berat, penggunaan istilah-istilah akademik yang rumit hingga dianggap tak dirasakan dampak langsungnya di masyarakat.

Pakar komunikasi dan jurnalistik Monash University tak memungkiri hal itu.

Melalui kegiatan yang diselenggarakan Monash CliComm yang mempertemukan jurnalis dengan pakar perubahan iklim Monash University diharapkan bisa menjembatani sekaligus mengisi kekosongan pengetahuan yang ada saat ini.

Salah satu metodelogi yang dianggap tepat dalam pelaporan atau peliputan perubahan iklim yakni dengan menggunakan pendekatan jurnalisme konstruktif.

Jurnalisme konstruktif sederhananya adalah karya jurnalistik yang tidak hanya fokus pada pelaporan masalah atau konflik, tetapi juga menyoroti solusi, respons berbasis bukti, dan sudut pandang berorientasi masa depan.

KRISIS IKLIM - Penyerahan buku Constructive News kepada peserta workshop peliputan perubahan iklim di Monash University, Caulfiled, Melbourne, Australia, Rabu (13/5/2026). Workshop peliputan perubahan iklim yang diselenggarakan Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) menghadirkan jurnalis dari Indonesia-Australia dan pakar perubahan iklim.
KRISIS IKLIM - Penyerahan buku Constructive News kepada peserta workshop peliputan perubahan iklim di Monash University, Caulfiled, Melbourne, Australia, Rabu (13/5/2026). Workshop peliputan perubahan iklim yang diselenggarakan Australia Indonesia Centre (AIC) dengan dukungan Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) menghadirkan jurnalis dari Indonesia-Australia dan pakar perubahan iklim. (Istimewa/Monash CliComm)

Dalam konteks saat ini di Indonesia dimana persoalan lingkungan, mulai dari konflik agraria, deforestasi dan bencana alam, dianggap tak hanya cukup dengan melaporkan kejadian dan konfliknya semata.

Isu perubahan iklim dan masalah lingkungan lainnya yang terdampak adalah masyarakat sehingga dibutuhkan pendekatan peliputan yang bisa menghadirkan solusi di dalamnya.

Olehnya itu, Monash CliComm menginisiasi pertemuan jurnalis Indonesia dan Australia, ilmuwan iklim, pakar komunikasi, dan peneliti, 

Tujuannya untuk memperkuat kapasitas jurnalis dalam memahami isu-isu perubahan iklim, meningkatkan kualitas pelaporan berbasis sains, dan membangun kolaborasi antara organisasi media, akademisi, dan peneliti dalam mengkomunikasikan informasi terkait iklim kepada publik.

Sebagai bagian dari program tersebut, empat peneliti dari inisiatif AICPAIR bertemu dengan jurnalis dari Sulawesi untuk membahas hubungan antara penelitian dan pelaporan iklim.

Pertemuan ini penting karena para peneliti sedang melakukan proyek di Sulawesi, yang juga merupakan daerah asal para jurnalis yang berpartisipasi.

Diskusi tersebut menghadirkan Profesor Lu Aye dan Profesor Sherah Kurnia dari University of Melbourne, serta Profesor Daniel Prajogo dan Profesor Juliana Sutanto dari Monash University.

Mereka berbagi perspektif tentang transisi menuju emisi nol bersih, budidaya rumput laut berkelanjutan, serta isu iklim dan kesehatan yang memengaruhi masyarakat pesisir.

Proyek-proyek penelitian ini merupakan bagian dari program PAIR Sulawesi, yang didanai bersama oleh Pemerintah Australia melalui DFAT dan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Dana Abadi Pendidikan Indonesia (LPDP).

Sebagai tindak lanjut dari lokakarya tersebut, tim peneliti dijadwalkan untuk melanjutkan kegiatan di Makassar guna mempresentasikan temuan dari studi penelitian yang lebih luas.

Hasil dari program ini diharapkan dapat membantu membentuk pendekatan dan alat pendukung untuk jurnalisme iklim yang berbasis sains, relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat, dan mampu mendorong kesadaran publik serta tindakan kolektif dalam mengatasi perubahan iklim.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.