TRIBUNSTYLE.COM - Sebuah kabar pilu menyelimuti tanah Sulawesi Selatan. Isak tangis dua orang ibu pecah seketika begitu mendengar buah hati mereka ditahan oleh tentara Israel. Kedua pemuda tangguh tersebut tengah mengemban tugas mulia, membawa bantuan kemanusiaan bagi warga yang terisolasi di Jalur Gaza, Palestina.
Dua sosok relawan kemanusiaan asal Sulsel ini diketahui bernama As’ad Aras Muhammad (33), seorang warga dari Kabupaten Sinjai, serta Andi Angga Prasadewa yang berasal dari Kota Makassar. Keduanya bergabung bersama rombongan delegasi kemanusiaan Indonesia, berlayar melintasi jalur laut internasional demi mengantarkan bantuan logistik untuk masyarakat Gaza.
Namun, misi suci tersebut berubah menjadi momen yang mencekam. Bahtera yang mereka tumpangi dilaporkan dicegat secara paksa oleh militer Israel saat tengah mengarungi lautan pada Senin (18/5/2026) tengah malam.
Suasana duka yang mendalam sangat terasa di kediaman keluarga As’ad yang terletak di Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara. Ibunda As’ad, Rabia (60), tak kuasa membendung air matanya ketika menceritakan kembali informasi yang ia terima. Dengan pandangan mata yang sembab dan suara yang bergetar menahan kesedihan, ia mengenang kembali rekam jejak putranya yang memang dikenal sangat aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan.
“Terkait Pak As’ad, kronologi diculiknya itu pada saat mulai berlayar dan tepat hari Senin tengah malam kapal mereka dibajak,” kata Rabia kepada Tribun Timur, Rabu (20/5/2026).
Sebelum kabar buruk itu resmi mendarat, Rabia mengaku perasaan batinnya sudah tidak tenang sejak hari Senin. Ia seperti menangkap sinyal buruk dari kejauhan mengenai kondisi putranya di tengah laut.
“Saya dari kemarin sangat gelisah dan sudah ada firasat bahwa ada masalah yang terjadi,” ujarnya sambil menyeka air mata.
Baca juga: Antara Air Mata dan Bangga, Cerita Orang Tua Andi Angga, WNI yang Dicegat Israel dalam Misi ke Gaza
“Ada grup WhatsAppnya. Di situ saya lihat bahwa anak saya ditangkap Israel,” katanya lirih.
Di mata sang ibu, As’ad bukanlah tipe pemuda yang gemar mengumbar kata-kata. Kendati demikian, jiwanya dipenuhi rasa empati dan kepedulian yang luar biasa tinggi terhadap sesama. Jejak pengabdiannya sebagai relawan sosial bahkan sudah konsisten ia lakoni sejak tahun 2014 silam.
“Anak itu tidak banyak bicara, tapi kalau bicara betul-betul dalam maknanya,” ujarnya.
Baca juga: Strategi Pemerintah Pulangkan 9 WNI Peserta GSF yang Dicegat Israel, Siapkan Jalur Evakuasi
Walau kini hatinya dirundung kecemasan dan ketakutan yang hebat, ada secercah rasa bangga yang terselip di dada Rabia atas dedikasi hidup sang anak. Bagi Rabia, kepergian As’ad ke wilayah konflik tersebut bukanlah untuk mencari ketenaran atau urusan pribadi, melainkan murni panggilan jiwa untuk menolong bangsa Palestina.
“Di lain sisi saya bangga. Kami bersyukur punya putra yang berjuang demi umat ini,” katanya.
Kini, doa dan harapan besar digantungkan kepada pemerintah Indonesia. Rabia sangat berharap pihak diplomasi negara bisa segera turun tangan melakukan tindakan nyata agar seluruh relawan asal Indonesia dapat dibebaskan dan pulang ke tanah air tanpa kurang satu apa pun.
“Harapan saya agar pemerintah segera ambil tindakan dan solusi terbaik agar para relawan ini segera dibebaskan,” tuturnya.