TRIBUNJAKARTA.COM - Persija Jakarta bakal menggunakan bus listrik untuk mendukung perjalanan panjang Macan Kemayoran di Super League 2026/2027.
Pembelian Legacy SR3 Neo Panorama listrik itu membuat Persija menjadi klub pertama di Indonesia yang menggunakan bus listrik sebagai armada resmi tim.
Bagi Persija, kendaraan listrik lebih dari sebuah teknologi baru, tetapi juga tentang bagaimana Macan Kemayoran ikut menjaga lingkungan agar lebih bersih, lebih tenang, dan lebih efisien dalam penggunaan energi.
“Sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan oleh Pak Panca sebagai presiden. Jika sebagai sebuah klub, Persija harus terus bertumbuh, bergerak maju, dan lebih profesional dalam setiap aspeknya. Maka pembelian armada bis baru dengan tehnologi EV terbaik ini, menjadi salah satu bentuk komitmen terhadap visi dan misi tersebut. Dengan segala fitur kecanggihan yang dimiliki, semoga bis ini dapat menunjang aktivitas serta memberikan kenyamanan bagi tim untuk menjalani setiap pertandingan yang akan dijalani,” kata Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas, dikutip dari laman Persija, Kamis (21/5/2026).
Seperti halnya skema permainan yang tidak hanya bertumpu pada satu elemen, kehadiran bus baru Persija ini juga lahir dari kolaborasi banyak pihak.
Kerangka bus listrik ini menggunakan sasis Hyundai Elec City 12 meter yang hadir dalam konfigurasi setir kanan dikembangkan khusus untuk pasar Indonesia. Baterainya ditempatkan di atap, motor listriknya bekerja di poros roda belakang, dan jarak tempuh dalam sekali pengisian daya membuatnya layak untuk kebutuhan operasional nyata, bukan sekadar demonstrasi teknologi.
Samudra Teknindo Hydraumatik, sebagai distributor resmi Hyundai truk dan bus di Indonesia, memastikan sasis tersebut dapat sampai ke tangan karoseri lokal. Peran ini mungkin terdengar teknis, tetapi dampaknya sangat strategis. Tanpa ekosistem distribusi dan layanan purna jual yang solid, teknologi sehebat apa pun tidak akan pernah benar-benar bergerak dari showroom menuju jalan raya.
PT Laksana Bus Manufaktur kemudian mengambil sasis tersebut dan membangun sebuah Legacy di atasnya. Seluruh proses produksi berlangsung di fasilitas Laksana di Ungaran, Jawa Tengah. Kaca panoramik tunggal yang membentang lebar, garis samping yang bersih, hingga kabin yang lapang tetap dipertahankan. Legacy SR3 Neo Panorama listrik tidak berusaha tampil berbeda dari pendahulunya. Ia hadir setara, dengan satu perbedaan mendasar yang mungkin tak langsung terlihat dari luar, tetapi terasa sejak mesin pertama kali dinyalakan, keheningan.
“Bus listrik ini terasa sangat istimewa dan sangat nyaman. Sebuah bus yang tidak sekadar alat transportasi, tetapi juga cara Persija berjalan berdampingan dengan alam untuk saling menjaga,” kata Paulo Ricardo, bek Persija yang hadir bersama Jean Mota untuk menyaksikan langsung perkenalan Legacy SR3 Neo Panorama listrik.