Apakah ini benar-benar yang terbaik yang bisa dilakukan Florentino Perez? Ketika Real Madrid memecat Xabi Alonso kurang dari lima bulan setelah ia menjabat, seharusnya ada semacam rencana suksesi. Jika Alonso, yang begitu dipuji sejak awal, pergi, maka masuk akal bila Los Blancos, klub sebesar itu, sudah menyiapkan sosok pengganti yang pas untuk mengambil alih posisi tersebut.
Dalam hal ini, Alvaro Arbeloa tampak memenuhi kriteria. Ia memiliki semua syarat yang tepat: pengalaman di klub, pernah melatih akademi, dan berdarah Spanyol. Ada pula aura tertentu tentang dirinya — tatapan tajam, minim humor. Madrid, secara teori, menyukai tipe pelatih seperti ini. Mereka adalah sosok dengan karisma kuat dan sedikit sentuhan taktik. Arbeloa, yang selalu tampil rapi, berbicara dengan nada yang tepat, dan tampak bertekad membiarkan para pemain terbaiknya bermain sesuai naluri, terlihat cocok untuk peran tersebut.
Namun, kenyataannya berbeda. Arbeloa, yang semula dianggap menjanjikan, kini tampak kewalahan dengan tekanan pekerjaan di Madrid. Di mana banyak pelatih lain justru tumbuh menghadapi tantangan, Arbeloa tampak menjadi korban dari besarnya ekspektasi klub. Baik dari sisi hasil, performa, maupun tekanan konstan di Santiago Bernabeu, masa kepemimpinannya sejauh ini sangat mengecewakan.
Pada hari Rabu nanti, segalanya akan mencapai titik krusial. Gelar La Liga tampaknya sudah lepas. Mereka tersingkir dari Copa del Rey. Dan meski sempat menunjukkan keajaiban khas Liga Champions saat melawan Manchester City di babak 16 besar, Bayern Munich adalah lawan yang jauh lebih tangguh. Menghadapi leg kedua dengan defisit gol dan melawan tim yang lebih unggul di atas kertas, biasanya situasi seperti ini identik dengan ‘remontada’. Bagi Arbeloa, kebangkitan bukan hanya penting untuk menyelamatkan musim Madrid, tapi juga menjadi satu-satunya harapan untuk mempertahankan pekerjaannya setelah bulan Mei.
Kedatangan yang Penuh Harapan
Baru saja Alonso meninggalkan tempat parkirnya di Valdebebas, Arbeloa langsung mengambil alih. Semua terjadi begitu cepat pada 12 Januari. Alonso sebenarnya sudah lama di ambang pemecatan, namun kepergiannya tetap terasa mendadak. Tak lama setelah pengumuman resmi dikeluarkan, Arbeloa langsung ditunjuk sebagai pelatih sementara.
Tidak ada euforia, tidak ada spekulasi, bahkan tanpa ‘tic tac’ khas acara El Chiringuito — hanya sebuah ‘comunicado oficial’ yang datar: “Real Madrid C.F. mengumumkan bahwa Alvaro Arbeloa akan menjadi pelatih tim utama yang baru.”
Mungkin itu memang yang dibutuhkan oleh Los Blancos. Hari-hari terakhir Alonso diisi drama: perselisihan dengan Vinicius Jr, ketidakpuasan suporter, dan permainan tanpa semangat. Mungkin perubahan dingin dan cepat memang masuk akal. Arbeloa adalah sosok seperti itu. Konferensi pers perkenalannya berlangsung singkat. Jika ia memiliki emosi mendalam terhadap klub — ia berhasil menyembunyikannya. Ia hanya menyampaikan pernyataan yang penuh klise, yang bisa dirangkum lewat kalimat pembukaannya.
“Klub ini tentang menang, menang, dan menang lagi. Tuntutan itu mencerminkan DNA yang membawa kami ke sejarah penuh trofi ini. Saat saya masih pemain, saya belajar nilai-nilai itu dari orang-orang di ruang ganti, dan nilai itu masih hidup hingga kini. Tugas kami adalah menginspirasi para fans di seluruh dunia dan terus menambah koleksi trofi klub ini. Itu tugas saya, dan itu yang akan saya jalani setiap hari,” ujarnya.
Sementara atau Permanen?
Satu pertanyaan penting dalam konferensi pers itu tak pernah terjawab secara jelas: apakah ini akan menjadi penunjukan jangka panjang? Apakah Arbeloa hanya bertahan beberapa minggu? Apakah Madrid telah memberikan kontrak multi-tahun? Apakah dia benar-benar masa depan klub?
Jawaban Arbeloa juga tidak memberikan kejelasan: “Saya telah berada di klub ini selama 20 tahun, dan saya akan tetap di sini selama Real Madrid menginginkan saya. Ini rumah saya, dan akan selalu begitu.”
Masa jabatannya dimulai dengan bencana. Arbeloa menegaskan bahwa ia ingin memberi kesempatan kepada para pemain muda dari La Fabrica untuk tampil di tim utama. Laga Copa del Rey melawan tim divisi dua, Albacete, tampak sebagai ajang yang ideal untuk mewujudkan janji itu. Ia memberikan empat debut sekaligus. Madrid kalah 2-3 akibat gol menit ke-94.
La Liga pun tidak memberi penghiburan. Selama tiga bulan terakhir, Madrid perlahan tergelincir dari perburuan gelar. Mereka kini tertinggal sembilan poin dari Barcelona, dan meski bisa saja menang di El Clasico bulan depan, sulit membayangkan Madrid bisa menyalip tim Katalan tersebut.
Tidak Lebih Baik dari Alonso
Statistik menunjukkan bahwa Arbeloa justru mengalami penurunan. Dalam masa kepemimpinan Alonso dari Piala Dunia Antarklub hingga awal Januari, catatannya adalah 34 pertandingan, 24 kemenangan, enam kekalahan — bukan bencana, tapi jelas tak cukup baik bagi klub yang menuntut kemenangan di setiap laga, betapapun mustahilnya hal itu. Alonso kalah dari PSG, Liverpool, Atletico Madrid, Celta Vigo, Barcelona, dan Manchester City. Kekalahan dari Celta sangat menyakitkan, sementara kekalahan di Anfield dan final Supercopa dari Barca menjadi pukulan berat.
Namun sebagian besar kekalahan itu datang dari tim-tim yang memang selevel atau lebih kuat dari Los Blancos. Arbeloa justru tampil tidak konsisten. Catatannya: 20 pertandingan, 13 kemenangan, enam kekalahan, satu hasil imbang. Persentase kemenangannya lebih rendah daripada Alonso. Kekalahan datang dari Bayern, Mallorca, Getafe, Osasuna, Benfica, dan Albacete.
Lebih menarik lagi adalah perbedaan pendekatan antara keduanya. Alonso adalah pelatih sistematis hingga akhir. Ia memang sempat menyesuaikan taktik agar Vinicius Jr dan Kylian Mbappe bisa bermain bersama, namun ia selalu menekankan kerja keras defensif dan permainan terkontrol. Seperti kebanyakan pelatih modern, ia memberikan instruksi detail kepada pemain dan mempercayai mereka untuk melaksanakannya. Itulah yang akhirnya membuatnya dipecat.
Ironisnya, pendekatan seperti itu justru yang membuat Arbeloa sukses di akademi Madrid. Ia setia pada formasi 4-3-3 dan dikenal mengembangkan gelandang pengatur tempo seperti Thiago Pitarch yang kini sudah menembus tim utama. Tim-tim asuhannya ingin menguasai bola, bermain cepat, mengambil risiko, namun tetap menjaga struktur permainan.
Meninggalkan Prinsipnya
Namun semua itu segera berubah. Arbeloa meninggalkan gaya 4-3-3 dan beralih ke formasi 4-4-2 yang menjadi bumerang bagi Carlo Ancelotti sebelumnya. Ia tampak menyerah pada ide bahwa Madrid tidak bisa benar-benar ‘dilatih’, hanya bisa ‘dikelola’. Dengan kumpulan pemain berbakat seperti ini, cukup memberi arahan umum sudah dianggap memadai.
Pendekatan yang terlalu longgar itu tidak selalu membuahkan hasil. Akhir-akhir ini, permainan Madrid terlihat lesu dan kehabisan ide. Pola yang sama terus berulang dan mudah ditebak lawan. Tim-tim lawan tahu bahwa mereka bisa bertahan rapat, menggandakan penjagaan pada Vinicius Jr, dan menyerang balik. Penurunan performa Kylian Mbappe juga berpengaruh. Intinya, Madrid kini bukan hanya mudah ditebak, tapi juga mudah dikalahkan.
Dalam laga terbesar sejauh ini, kekalahan 1-2 dari Bayern pekan lalu, Madrid benar-benar kalah kelas. Tim asal Jerman itu menembus pertahanan mereka dengan mudah dan seharusnya bisa unggul tiga atau empat gol dalam satu jam pertama. Hanya berkat kaki kanan Vinicius dan kerja keras Jude Bellingham, Los Blancos masih menyimpan harapan.
Laga Penentuan
Kisah ini terasa familiar. Madrid sering kali bangkit dalam situasi seperti ini. Aura Liga Champions mereka mungkin sering dilebih-lebihkan, tetapi keyakinan kuat terhadap lambang klub dan sejarahnya sering kali membawa mereka jauh di kompetisi ini.
Transformasi Joselu menjadi penyerang tajam ala Harry Kane, misalnya, sulit dijelaskan hanya dengan taktik. Penampilan ajaib Thibaut Courtois di final Liga Champions 2022 melawan Liverpool juga terasa seperti sesuatu di luar nalar. Rodrygo, yang jarang mencetak gol lewat sundulan, tiba-tiba melakukannya melawan Manchester City — karena tentu saja, itu Madrid.
Laga melawan Bayern kali ini terasa seperti skenario serupa. Madrid kalah di semua lini — pertahanan, lini tengah, hingga serangan. Arbeloa mengakui dalam konferensi pers bahwa mereka harus tampil jauh lebih baik di semua aspek dibanding pekan lalu. Namun kondisi seperti inilah yang sering melahirkan malam ajaib Madrid. Semua tekanan kini datang di waktu yang tepat.
Vinicius dan Mbappe tampil buruk saat imbang melawan Girona pada Jumat lalu. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk menemukan kembali performa mereka selain saat mencoba membalikkan defisit 2-1 melawan tim terbaik di Eropa. Arbeloa tahu peluang itu ada: “Sejarah Real Madrid dibangun atas kemampuan mengatasi tantangan sulit seperti besok.”
Penentuan Nasib Sang Pelatih
Inilah momen penentuan untuk Arbeloa. Secara logika, semua orang tahu bahwa Real Madrid seharusnya kalah di laga ini. Bayern sedang dalam performa luar biasa. Harry Kane menjadi kandidat kuat peraih Ballon d'Or. Sementara Madrid pincang dan tersingkir dari semua kompetisi lainnya.
Namun setiap pelatih sebelum Arbeloa selalu berhasil memunculkan performa luar biasa di malam-malam besar. Bahkan Carlo Ancelotti, sang legenda, sempat diragukan sebelum akhirnya menciptakan kemenangan Eropa yang legendaris. Arbeloa kini membutuhkan momen serupa. Dan kondisinya terasa tepat.
Arbeloa berbicara seperti yang diharapkan publik Madrid. Ia sosok yang mengandalkan semangat, rela meninggalkan prinsip demi memberi kebebasan bermain. Ia berbicara soal 'keyakinan', 'remontada', dan kenyamanan bermain di laga besar. Intinya, ia mengikuti naskah klasik Real Madrid di Liga Champions.
Namun pelatih-pelatih sebelumnya memiliki rekam jejak untuk dijadikan pembelaan. Arbeloa tidak punya itu. Ia dilempar ke posisi ini tanpa batas waktu yang jelas, dengan modal utama hanya 'mengenal klub'. Tidak adil memang bila pekerjaannya bergantung pada sebuah keajaiban. Tapi keadilan bukanlah sesuatu yang dikenal di Madrid.
Ini harus menjadi ‘remontada’ milik Arbeloa sendiri — jika tidak, sulit menemukan alasan bagi klub untuk mempertahankannya.