TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kehidupan musisi Calvin Dores belakangan menjadi sorotan publik setelah dirinya mengaku berada dalam tekanan ekonomi yang sangat berat hingga berniat menjual salah satu matanya demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Putra mendiang maestro musik Deddy Dores itu mengungkapkan bahwa kondisi finansial yang dialaminya sudah berada di titik paling sulit dalam hidupnya.
Unggahan Calvin di media sosial yang menyebut ingin menjual mata sempat dianggap sekadar candaan oleh sebagian netizen.
Namun, di balik pernyataan tersebut, Calvin menegaskan bahwa dirinya benar-benar sedang berada dalam situasi terdesak.
Ia mengaku selama tiga bulan terakhir tidak memiliki pemasukan tetap untuk menopang kehidupan rumah tangganya.
Kondisi itu membuat Calvin harus memikirkan kebutuhan anak, istri, hingga sang ibu yang sedang sakit di tengah situasi ekonomi yang semakin berat.
Tekanan demi tekanan akhirnya membuat Calvin merasa putus asa karena kebutuhan sehari-hari terus berjalan sementara penghasilan tak kunjung datang.
Momen yang paling membuatnya terpukul terjadi ketika persediaan gas di rumah habis dan dapurnya tidak bisa digunakan selama dua hari.
Baca juga: Pilu Calvin Dores Ingin Jual Mata Gegara Sulit Ekonomi, Rikki Hwang Muncul Tanya Harga: Tenang Aja
"Klimaksnya (sampai memutuskan jual mata), dua hari gas habis," kata Calvin saat menceritakan kondisinya di kanal YouTube Melaney Ricardo.
Pengakuan tersebut membuat banyak publik merasa iba karena Calvin harus menghadapi kenyataan pahit demi mempertahankan kehidupan keluarganya.
Dalam kondisi serba sulit itu, Calvin berusaha mencari berbagai cara agar tetap bisa mendapatkan uang tunai secepat mungkin.
Ia bahkan memanfaatkan kemampuannya bermain game online untuk menjadi joki demi memperoleh penghasilan tambahan.
"Pertama saya ngakalin duluan nih, saya ngejoki game, Mobile Legends," tuturnya.
Meski sudah berusaha keras mencari pemasukan dari berbagai cara, Calvin mengaku hasil yang diperoleh masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kisah pilu Calvin Dores pun kini ramai diperbincangkan publik dan memunculkan simpati luas dari masyarakat yang berharap dirinya segera bangkit dari tekanan ekonomi yang menghimpit kehidupannya.
Baca juga: Nasib Calvin Dores Putra Mendiang Deddy Dores, Sulit Ekonomi hingga Ingin Jual Mata: Depresi Banget
Demi bisa membeli tabung gas baru, Calvin rela menghabiskan waktunya untuk menaikkan peringkat atau rank akun milik orang lain.
Ia mengaku memiliki kemampuan yang cukup baik dalam permainan tersebut, namun tarif jasa joki saat ini sudah jauh menurun dibanding beberapa tahun lalu.
"Ya gini-gini pro player-lah, 10 bintang cepek (Rp 100.000) sekarang kan. Dulu kan 10 bintang Rp 300 (ribu)," sambungnya.
Pekerjaan ini ternyata sangat menguras fisiknya. Untuk mendapatkan satu bintang, Calvin biasanya membutuhkan waktu bermain sekitar 20 menit.
Proses tersebut harus dilakukan berulang kali dalam sehari demi mengumpulkan uang yang tidak seberapa.
"Lah gua seharian begini aja (main game), benar-benar satu mata, saya pegal soalnya. Begini amat ya," imbuh Calvin.
Karena hasil dari menjadi joki game tidak mencukupi untuk jangka panjang, Calvin sempat berpikir untuk mengambil langkah yang lebih nekat.
Ia berniat menjual salah satu matanya dengan harga Rp 350 juta agar bisa dijadikan modal usaha.
Calvin menegaskan bahwa unggahan di Instagram Story mengenai niat menjual organ tubuh tersebut bukan bertujuan untuk mencari simpati publik agar dikasihani oleh orang lain.
Tujuan utamanya melakukan hal itu murni demi mencukupi kebutuhan anak, istri, dan membiayai pengobatan sang ibu, Dagmar Clara Sunardi.
Ada ketakutan mendalam di benak Calvin jika dirinya tiba-tiba meninggal dunia dalam kondisi tidak meninggalkan aset apa pun untuk keluarganya.
Kondisi hidup Calvin saat ini berbanding terbalik dengan masa kecilnya. Perjalanan hidupnya berubah drastis sejak kepergian sang ayah.
Masa-masa setelah ditinggalkan Deddy Dores menjadi titik balik yang sangat berat. Kehidupan yang dulu penuh kenyamanan perlahan bergeser menjadi perjuangan yang tidak mudah.
Calvin mengisahkan bagaimana dirinya pernah hidup sebagai "anak emas" yang tumbuh dalam kemewahan.
Segala fasilitas terbaik seolah sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.
Bahkan, tingkat kemewahan yang ia nikmati kala itu sempat disamakan dengan kehidupan anak selebritas papan atas zaman sekarang, Rafathar Malik Ahmad.
"Calvin ini dulu hidupnya kayak Rafathar ini," ujar ibu Calvin, Dagmar Clara Sunardi.
Ia mengingat kembali bagaimana dirinya di era tahun 1990-an selalu dikelilingi oleh banyak pengawal dan asisten, mirip dengan pengamanan yang diterima Rafathar saat berada di tempat umum.
"Rafathar dia asli kan bapaknya kalau ke mana-mana kan pasti banyak orang yang ngikutin. Dia juga kalau ke mana-mana enggak pernah dilepas sama bapaknya," kenang Dagmar.
Kekayaan mendiang Deddy Dores pada masa itu bahkan membuat rumah merek dijadikan tempat berkumpul atau basecamp bagi para musisi besar tanah air.
Salah satunya adalah personel grup band Slank yang sempat menetap di sana hingga bertahun-tahun.
Karena banyaknya tamu yang datang silih berganti, Deddy Dores sampai membeli sebidang tanah kosong di depan rumah.
Lahan tersebut dialokasikan khusus sebagai area parkir pribadi bagi keluarga dan tamu mereka.
"Di rumah ada 22 mobil Kak di rumah Kak," ungkap Calvin.
Namun, kejayaan materi tersebut perlahan mengikis dan habis tak bersisa, terutama setelah sang ayah meninggal dunia.
Sebagai seseorang yang memiliki jiwa pebisnis, Calvin sebenarnya tidak tinggal diam dan sempat mencoba peruntungan di berbagai lini usaha.
Ia tercatat pernah membuka bisnis kuliner ayam goreng, kedai kopi, hingga jual beli sepeda motor.
Sayangnya, kegagalan demi kegagalan terus menerpa usahanya hingga seluruh modal yang ia miliki habis.
Demi menyambung hidup dan membiayai keluarga, Calvin akhirnya rela membuang gengsi sebagai anak seorang maestro musik.
Ia bersedia melakukan pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai dari menjadi kuli bangunan, sopir untuk anak sekolah, hingga pengemudi ojek online.
"(Jadi ojol) itu minjam motor tetangga," jelasnya.
Sebab, motor pribadi miliknya sudah lama dijual untuk menutup kebutuhan ekonomi.
"Saya sudah setahun jalan kaki, saya enggak ada motor, bukan mau ngeluh atau gimana," tambahnya.
Meski kini berada di titik terendah setelah melewati badai kehidupan, Calvin menyatakan dirinya bertekad untuk terus bangkit.
Langkah ekstrem yang sempat terpikirkan olehnya murni didorong oleh keinginan agar kedua anaknya bisa menempuh pendidikan tinggi dan memiliki garis nasib yang lebih baik dari dirinya.
(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)