TRIBUNNEWSMAKER.COM - Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengajak seluruh tokoh politik nasional untuk menghadirkan suasana yang lebih menenangkan di tengah tekanan ekonomi global yang sedang dirasakan masyarakat Indonesia.
Ajakan itu juga ditujukan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, agar kritik terhadap pemerintah tetap dibangun dengan semangat optimisme dan persatuan bangsa.
Pernyataan Idrus muncul setelah beredarnya video Anies Baswedan di media sosial yang menyoroti kondisi ekonomi nasional, mulai dari melemahnya rupiah hingga meningkatnya harga kebutuhan pokok.
Video tersebut ramai diperbincangkan publik karena dianggap menggambarkan keresahan masyarakat terhadap situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Meski demikian, Idrus menegaskan bahwa kritik dalam negara demokrasi merupakan hal yang sah dan penting untuk disampaikan kepada pemerintah.
Namun menurutnya, kritik sebaiknya tidak hanya menonjolkan sisi gelap keadaan tanpa memberikan harapan bagi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan hidup.
“Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Tapi kritik juga harus menghadirkan optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat makin cemas menghadapi keadaan,” kata Idrus kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Anies Baswedan Sentil Keras Pemerintahan Prabowo: Kebijakan Dinilai Plin-plan dan Minim Transparansi
Idrus menilai tantangan ekonomi yang terjadi saat ini bukan hanya dirasakan Indonesia, melainkan juga dialami banyak negara lain di dunia.
Ia menyebut gejolak geopolitik internasional, penguatan dolar Amerika Serikat, hingga ancaman perlambatan ekonomi global menjadi faktor yang memengaruhi kondisi banyak negara secara bersamaan.
Menurut Idrus, masyarakat perlu memahami bahwa situasi ekonomi dunia memang sedang bergerak dalam kondisi yang tidak menentu dan penuh tekanan.
“Hatta Amerika pun mengalami kondisi yang sama!” ujar Idrus.
Ia pun meminta semua pihak untuk tidak membangun opini yang justru membuat masyarakat kehilangan kepercayaan diri menghadapi keadaan.
Bagi Idrus, narasi pesimisme yang terus diulang dikhawatirkan dapat memperbesar kecemasan publik dan memengaruhi stabilitas sosial di tengah kondisi ekonomi yang sensitif.
Menurutnya, tantangan ekonomi harus dihadapi dengan semangat gotong royong serta keyakinan bahwa situasi sulit dapat dilalui bersama-sama.
“Semua pasti berada dalam skema yang dinamis-fluktuatif. Kadang naik, kadang turun, itu biasa. Jangan dicemaskan menjadi narasi yang menciutkan nyali,” paparnya.
Baca juga: Momen Didit Bertemu Anies Baswedan saat Lebaran 2026, Anak Presiden Prabowo Dipuji: Sahabat Kami
Idrus menilai yang dibutuhkan saat ini adalah narasi mengenai ketangguhan dan soliditas bangsa.
Sebab, apabila elite politik terus membangun suasana pesimistis, hal itu dikhawatirkan dapat memengaruhi psikologis masyarakat hingga kepercayaan pasar.
“Kalau elite politik terus berbicara seakan-akan negeri ini runtuh, pasar bisa terganggu dan rakyat kehilangan kepercayaan diri. Padahal bangsa ini sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan menghadapi krisis besar,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang menenangkan di tengah situasi global yang belum menentu.
“Rakyat butuh energi positif, bukan ketakutan yang diproduksi terus-menerus. Jangan sedikit-sedikit menggambarkan Indonesia gelap. Kita harus serius menghadapi masalah, tapi juga harus yakin bangsa ini punya kekuatan untuk bangkit,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Idrus turut mengapresiasi pidato Presiden RI Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR sehari sebelumnya.
Menurut Idrus, Prabowo menunjukkan tradisi politik baru dengan menyampaikan kondisi ekonomi nasional secara terbuka kepada publik.
“Beliau datang secara terbuka dan blak-blakan menjelaskan bagaimana potret riil ekonomi Indonesia hari ini. Itu artinya beliau mengajak kita memahami persoalan dan merespons tantangan dengan positif dan optimisme,” tuturnya.
Idrus menilai keterbukaan Presiden menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap arah pembangunan.
Sebelumnya, dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Anies menyebut masyarakat saat ini merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat.
“Nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat menurun, dan banyak keluarga merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Anies.
Ia menegaskan pernyataannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai ajakan agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan bekerja lebih serius.
“Saya menyampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai ajakan agar kita semua lebih peka terhadap keadaan,” ujar Anies.
(Tribunnewsmaker.com/ Wartakotalive)