Ketegangan dengan AS Memuncak, Iran Sebut 26 Kapal Sudah Aman Melintas di Selat Hormuz
Tommy Kurniawan May 21, 2026 03:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Baru-baru ini Iran mengklaim telah mengatur pergerakan 26 kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, di tengah belum tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas setelah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak luas terhadap perdagangan energi dunia.

Situasi ini juga memicu kekhawatiran baru akan potensi perlambatan ekonomi global hingga ancaman krisis pangan internasional.

Dilansir Al Jazeera, Rabu (20/5/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kini berada dalam pengawasan ketat angkatan laut Iran.

Iran Tegaskan Kapal Wajib Koordinasi

“Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan resmi mereka.

Baca juga: Dugaan Keracunan Pelajar SMKN 1 Kota Jambi, Satgas MBG Angkat Bicara

Tak lama berselang, Otoritas Selat Teluk Persia Iran juga merilis peta maritim terbaru yang menunjukkan adanya zona khusus yang diklaim berada di bawah kendali penuh Teheran.

Wilayah yang disebut sebagai zona kontrol Iran itu membentang dari Kuh-e Mubarak hingga mendekati Fujairah, Uni Emirat Arab, di sisi timur selat.

Sementara pada bagian barat, wilayah tersebut diklaim meliputi area dari Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain.

Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling strategis di dunia, terutama untuk distribusi energi global.

Sebelum konflik meletus pada akhir Februari lalu, hampir 20 persen pasokan energi dunia diketahui melewati kawasan tersebut.

Namun meningkatnya ketegangan membuat Iran memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas kapal di jalur itu.

Sebagai balasan, Amerika Serikat disebut menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Langkah tersebut berdampak besar pada ekspor minyak Iran yang selama ini menjadi tulang punggung pemasukan negara tersebut.

FAO Peringatkan Ancaman Krisis Pangan Dunia

Efek domino dari konflik ini mulai menjadi perhatian lembaga internasional.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan bahwa gangguan distribusi energi dan logistik global dapat memicu lonjakan harga pangan dalam waktu enam hingga 12 bulan ke depan.

FAO bahkan menyebut kondisi ini sebagai awal dari “guncangan agrifood sistemik”, yakni gangguan besar pada sistem pangan dunia.

Menurut lembaga yang berbasis di Rome itu, dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor, mulai dari distribusi pupuk, ketersediaan benih, penurunan hasil panen, hingga inflasi harga bahan makanan di berbagai negara.

“Guncangan ini terjadi secara bertahap, mulai dari energi, pupuk, benih, penurunan hasil panen hingga kenaikan harga pangan,” kata FAO.

Negosiasi AS-Iran Belum Temui Titik Terang

Di tengah situasi yang semakin tegang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih ada perkembangan positif dalam pembicaraan dengan Iran.

Meski demikian, Trump juga memperingatkan bahwa opsi militer tetap terbuka jika jalur diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru memberi sinyal ancaman.

Ia memperingatkan bahwa konflik baru berpotensi membawa “lebih banyak kejutan” dan bisa memperluas medan perang ke kawasan Timur Tengah lainnya.

Para pengamat internasional menilai, baik Iran maupun Amerika Serikat kini tengah menggunakan tekanan ekonomi dan kontrol jalur perdagangan sebagai alat tawar dalam negosiasi yang masih buntu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.